{"id":51626,"date":"2025-06-06T14:53:54","date_gmt":"2025-06-06T07:53:54","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=51626"},"modified":"2025-08-11T13:45:41","modified_gmt":"2025-08-11T06:45:41","slug":"lampung-tegaskan-komitmen-kurangi-sampah-plastik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/06\/06\/lampung-tegaskan-komitmen-kurangi-sampah-plastik\/","title":{"rendered":"Lampung Tegaskan Komitmen Kurangi Sampah Plastik"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung \u00a0(LB)<\/strong>: Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menjadi Pembina Apel Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) 2025, di Lapangan Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim, Kamis (5\/6\/2025).<\/p>\n<p>Dalam amanat tertulis yang dibacakan Wakil Gubernur, Menteri Lingkungan Hidup\/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut.,M.P., menyampaikan tema Hari Lingkungan Hidup sedunia Tahun 2025 adalah Ending Plastic Pollution yang merupakan seruan global untuk menghentikan polusi plastik yang telah menjadi ancaman serius bagi bumi dan kehidupan sekaligus momen penting untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam, serta langkah-langkah nyata yang telah dan harus diambil untuk menjaga kelestariannya ke depan.<\/p>\n<p>Saat ini bumi sedang mengalami tiga krisis global (<em>triple planetary crisis<\/em>), yaitu <em>climate change<\/em> (perubahan iklim), <em>biodiversity loss<\/em> (kehilangan keanekaragaman hayati dan penipisan sumber daya alam) dan <em>pollution<\/em> (polusi) yang berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan, seperti: lingkungan, kesehatan, kehidupan masyarakat, dan laju pembangunan secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Berdasarkan Laporan UNEP (Drawning in Plastics, 2021), produksi plastik global tumbuh eksponensial dalam 10 tahun terakhir hingga lebih dari 400 juta ton pada 2023.<\/p>\n<p>Selama kurun waktu 1954-2017 ada 9,8 milyar ton plastik yang sudah diproduksi. Dari jumlah tersebut, 14% dibakar di fasilitas <em>waste to energy<\/em> dan kurang dari 10% didaur ulang, sisanya 86% ditimbun di <em>landfill<\/em> dan bocor ke lingkungan sebagai polutan yang mencemari ekosistem, baik ekosistem daratan maupun perairan.<\/p>\n<p>Laporan tersebut juga menyatakan terdapat 9-14 juta ton plastik berakhir di lautan pada 2020. Jika tidak upaya sungguh-sungguh, diperkirakan akan ada 23-37 juta ton plastik yang bocor ke lautan pada 2040. Bahkan akan ada 155-265 juta ton plastik yang bocor ke laut pada 2060.<\/p>\n<p>Laporan Ellen MacArthur Foundation pada saat World Economic Forum 2016 menyatakan ada 8 juta ton plastik yang bocor ke samudera \u00a0setara dengan membuang muatan 1 truk sampah setiap menit. Jika tidak ada aksi yang dilakukan, diperkirakan meningkat menjadi 2 muatan truk sampah setiap menit pada 2030 dan 4 muatan truk sampah setiap menit pada 2050.<\/p>\n<p>Dalam skenario business-as-usual (BAU), lautan akan berisi 1 ton plastik untuk setiap 3 ton ikan pada 2025 dan pada 2050 akan lebih banyak plastik di lautan dibanding ikan.<\/p>\n<p>Indonesia saat ini telah memasuki fase darurat sampah. berdasarkan data SIPSN tahun 2024 masih terdapat 22,17 juta ton sampah yang masih terbuang ke lingkungan dan 54,44% sampah berakhir di TPA yang masih berstatus open dumping.\u00a0Tahun 2028 diperkirakan seluruh TPA di Indonesia tidak akan mampu lagi menampung sampahnya jika pengelolaanya masih bersifat business as usual (BAU).<\/p>\n<p>Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), pada 2023 jumlah timbulan sampah di Indonesia sebesar 56,63 juta ton dengan jumlah timbulan sampah plastik sebesar 10,8 juta ton.<\/p>\n<p>Dengan tingkat pengelolaan sampah sebesar 39%, maka terdapat 6,6 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola, yaitu yang ditimbun di TPA open dumping, dibakar secara terbuka, dan dibuang ke lingkungan, baik ekosistem daratan maupun ekosistem perairan.<\/p>\n<p>Jumlah timbunan sampah plastik meningkat signifikan dari 11% pada 2010 menjadi 19,23% pada 2023, jika tidak ada upaya luar biasa untuk membatasinya, maka diperkirakan pada 2050 jumlah sampah plastik akan mencapai 50% dari seluruh jenis sampah di Indonesia.<\/p>\n<p>Dari sudut pandang pengelolaan sampah yang berkelanjutan, maka solusi jitu dan komprehensif mengatasi persoalan sampah plastik adalah dengan mengombinasikan pendekatan di hulu (upstream approaches) dengan pendekatan di hilir (downstream approaches).<\/p>\n<p>Dengan menggabungkan pendekatan hulu dan hilir, Pemerintah Indonesia memiliki posisi yang jelas dan tegas dalam upaya menghentikan polusi plastik di dalam negeri dengan tetap mempertimbangkan national capabilities and circumstances.<\/p>\n<p>Posisi tersebut dapat menjadi modal yang penting dalam perundingan international legally binding instrument (ILBI) on plastic pollution yang harapannya akan disepakati dan disetujui pada putaran terakhir (INC-5.2) yang akan dilaksanakan di Jenewa, Swiss pada 5-14 Agustus 2025 mendatang.<\/p>\n<p>Menteri Lingkungan Hidup menyampaikan kebijakan dan aksi nyata di tingkat daerah harus diperkuat. Dia mengajak Pemerintah Daerah baik Gubernur, Bupati maupun Wali Kota:<\/p>\n<ol>\n<li>Mempercepat Implementasi Kebijakan Pengurangan Sampah Plastik;<\/li>\n<li>Menegakkan Peraturan Menteri LHK No. P.75\/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen melalui Perda masing-masing;<\/li>\n<li>Melarang penggunaan plastik sekali pakai (single use platic) di instansi pemerintah, pemerintah daerah, industri, pasar, perkantoran, dan pusat perbelanjaan;<\/li>\n<li>Memperluas Gerakan Gaya Hidup Sadar Sampah dan Ekonomi Sirkular;<\/li>\n<li>Mendorong bank sampah dan industri daur ulang di setiap kabupaten\/kota;<\/li>\n<li>Memfasilitasi kerja sama dengan UMKM untuk produk ramah lingkungan;<\/li>\n<li>Mengedukasi dan melakukan Gerakan Massal Bersih-Bersih dan \u00a0Gerakan Memilah Sampah dari sumbernya;<\/li>\n<li>Menggerakkan Kampanye Kendalikan Plastik Sekali Pakai: di pasar, pertokoan, sekolah, perkantoran, tempat ibadah dan fasilitas umum;<\/li>\n<li>Mengajak masyarakat dalam aksi Gerakan Budaya Indonesia Bersih Sampah setiap bulan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Hanif Faisol Nurofiq juga mengajak khususnya generasi muda gen-Z dan gen-Alpha, untuk menjadi bagian dari solusi dan pelopor gaya hidup minim plastik, jadi peneliti, inovator, aktivis, atau bahkan wirausaha lingkungan.<\/p>\n<p>&#8220;Kalian bukan generasi penonton, tapi generasi pelaku perubahan. Saya mengajak kalian para generasi muda untuk membangun gerakan penyadaran publik melalui budaya dan perilaku minim sampah,&#8221; imbaunya.<\/p>\n<p>Kegiatan dilanjutkan Aksi Pemilahan sampah dan Aksi Bersih Sampah Plastik di PKOR Way Halim dan sekitarnya yang dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Lampung didampingi Kepala dinas lingkungan Hidup Provinsi Lampung Emilia Kusumawati bersama jajaran Pejabat pimpinan Tinggi Pratama Provinsi Lampung dan para aktivis lingkungan hidup.<\/p>\n<p>Dalam kegiatan tersebut terkumpul sampah sebanyak 362 kg yang terdiri dari Sampah Organik sebanyak 36,2 Kg; Sampah Kertas sebanyak 72,4 Kg dan yang terbanyak sampah plastik sebanyak 253,5 Kg.<\/p>\n<p>Berdasarkan PLASTIK BRAND AUDIT FORM dari Tim Audit Gabungan Bank Sampah yang dipimpin Wawai Waste Foundation (WW-F) perolehan terbanyak berupa Plastik Tidak Bermerek (Kemasan, Cup, sedotan, sendok, kresek dan lain lain) sebanyak 2253 Pcs.<\/p>\n<p>&#8220;Sampah itu tidak akan hilang 1. 000 tahun dari kita, sampah itu hanya berpindah tangan dari tangan kita berpindah ke lautan, dari lautan berpindah ke perut ikan, dari tanah berpindah ke tubuh anak-anak kita dalam bentuk mikroplastik. \u00a0Kita perlu sadar penuh plastik ini menjadi persoalan yang serius bukan hanya sebagai limbah, tetapi \u00a0plastik ini sebagai warisan yang mencemari masa depan anak bangsa, sehingga kita semua harus punya komitmen kuat membatasi sampah plastik mulai dari sekarang. Ayo Mulai hari ini, jangan tunggu besok, mulai dari diri kita, keluarga kita, lingkungan kita untuk peduli akan sampah plastik,&#8221; tegas Jihan.<\/p>\n<p>Kegiatan dihadiri sekitar 300 peserta terdiri dari Perwakilan Perguruan Tinggi di Provinsi Lampung, Kepala Perangkat Daerah terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung, pimpinan perusahaan dan rumah sakit, bank sampah, anggota Pramuka, Tim World Clean Up Day, penggiat lingkungan, media massa dan masyarakat. (kmf)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung \u00a0(LB): Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menjadi Pembina Apel Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) 2025, di Lapangan Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim, Kamis (5\/6\/2025). Dalam amanat tertulis yang dibacakan Wakil Gubernur, Menteri Lingkungan Hidup\/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut.,M.P., menyampaikan tema Hari Lingkungan Hidup sedunia Tahun 2025 adalah Ending Plastic Pollution yang merupakan seruan global untuk menghentikan polusi plastik yang telah menjadi ancaman serius bagi bumi dan kehidupan sekaligus momen penting untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam, serta langkah-langkah nyata yang telah dan harus diambil untuk menjaga kelestariannya ke depan. Saat ini bumi sedang mengalami tiga krisis global (triple planetary crisis), yaitu climate change (perubahan iklim), biodiversity loss (kehilangan keanekaragaman hayati dan penipisan sumber daya alam) dan pollution (polusi) yang berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan, seperti: lingkungan, kesehatan, kehidupan masyarakat, dan laju pembangunan secara keseluruhan. Berdasarkan Laporan UNEP (Drawning in Plastics, 2021), produksi plastik global tumbuh eksponensial dalam 10 tahun terakhir hingga lebih dari 400 juta ton pada 2023. Selama kurun waktu 1954-2017 ada 9,8 milyar ton plastik yang sudah diproduksi. Dari jumlah tersebut, 14% dibakar di fasilitas waste to energy dan kurang dari 10% didaur [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":51627,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-51626","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51626","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51626"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51626\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51715,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51626\/revisions\/51715"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51627"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51626"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51626"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51626"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}