{"id":51204,"date":"2025-02-28T20:36:19","date_gmt":"2025-02-28T13:36:19","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=51204"},"modified":"2025-07-10T07:53:20","modified_gmt":"2025-07-10T00:53:20","slug":"51204","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/02\/28\/51204\/","title":{"rendered":"Bupati Dendi Tinjau Lokasi Bencana Tanah Longsor di Desa Muncak dan Lempasing"},"content":{"rendered":"<p><strong>Pesawaran (LB)<\/strong>: Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhona, bersama jajarannya meninjau lokasi terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Desa Muncak, Desa Sukajaya Lempasing dan jalan persimpangan Pantai Mutun, Jumat (28\/2\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelanjutnya, Bupati dan rombongan juga mengecek aliran sungai yang mengalami pendangkalan sehingga menjadi penyebab banjir.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cCurah hujan tinggi dan aliran air dari gunung yang terlalu deras telah menyebabkan daya dukung tanah menurun. Sehingga mengakibatkan longsor dan banjir berbagai lokasi, termasuk Hanura, Sukajaya Lempasing, Mutun, dan Gedong Tataan,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelanjutnya, Bupati megatakan banjir juga disebabkan pola hidup masyarakat yang membuang sampah sembarangan pada aliran sungai yang menyebabkan sedimentasi dan penyumbatan aliran air.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cMemang harus ada normalisasi sungai untuk mengatasi pendangkalan yang dapat memperparah banjir. Saya juga mengimbau masyarakat tidak membuang sampah sembarangan agar tidak terjadi penyumbatan aliran air,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePemkab Pesawaran menurunkan alat berat untuk membersihkan sisa longsoran tanah dan pohon tumbang dan mengeruk sungai.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBerdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Pesawaran, tinggi genangan air bervariasi antara 30 hingga 100 cm di beberapa wilayah. Di Kecamatan Gedong Tataan, banjir merendam ruas Jalan A. Yani dan merendam 400 rumah serta mengakibatkan beberapa kolam ikan jebol.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBanjir juga melanda tiga dusun di Desa Kutoarjo. Di Desa Karang Anyar, dua unit sekolah, satu balai desa, dan 345 rumah terdampak. Kemudian di Desa Gedong Tataan tercatat 26 rumah terendam, sedangkan di Desa Sukaraja, sebanyak 21 rumah, tujuh kolam ikan juga terdampak banjir. (*\/Ansori)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pesawaran (LB): Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhona, bersama jajarannya meninjau lokasi terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Desa Muncak, Desa Sukajaya Lempasing dan jalan persimpangan Pantai Mutun, Jumat (28\/2\/2025). \u200e \u200eSelanjutnya, Bupati dan rombongan juga mengecek aliran sungai yang mengalami pendangkalan sehingga menjadi penyebab banjir. \u200e \u200e\u201cCurah hujan tinggi dan aliran air dari gunung yang terlalu deras telah menyebabkan daya dukung tanah menurun. Sehingga mengakibatkan longsor dan banjir berbagai lokasi, termasuk Hanura, Sukajaya Lempasing, Mutun, dan Gedong Tataan,\u201d ujarnya. \u200e \u200eSelanjutnya, Bupati megatakan banjir juga disebabkan pola hidup masyarakat yang membuang sampah sembarangan pada aliran sungai yang menyebabkan sedimentasi dan penyumbatan aliran air. \u200e \u200e\u201cMemang harus ada normalisasi sungai untuk mengatasi pendangkalan yang dapat memperparah banjir. Saya juga mengimbau masyarakat tidak membuang sampah sembarangan agar tidak terjadi penyumbatan aliran air,\u201d ujarnya. \u200e \u200ePemkab Pesawaran menurunkan alat berat untuk membersihkan sisa longsoran tanah dan pohon tumbang dan mengeruk sungai. \u200e \u200eBerdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Pesawaran, tinggi genangan air bervariasi antara 30 hingga 100 cm di beberapa wilayah. Di Kecamatan Gedong Tataan, banjir merendam ruas Jalan A. Yani dan merendam 400 rumah serta mengakibatkan beberapa kolam ikan jebol. \u200e \u200eBanjir juga melanda tiga dusun di Desa Kutoarjo. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":51207,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,132],"tags":[],"class_list":["post-51204","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-desa","category-barometer-pesawaran"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51204","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51204"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51204\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51206,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51204\/revisions\/51206"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51207"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51204"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51204"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51204"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}