{"id":51174,"date":"2025-07-08T11:39:49","date_gmt":"2025-07-08T04:39:49","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=51174"},"modified":"2025-07-08T11:42:13","modified_gmt":"2025-07-08T04:42:13","slug":"jihan-tokoh-adat-dan-pelajaran-yang-lahir-dari-panggung-krakatau-festival","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/07\/08\/jihan-tokoh-adat-dan-pelajaran-yang-lahir-dari-panggung-krakatau-festival\/","title":{"rendered":"\u200e&#8217;Jihan&#8217;, Tokoh Adat, dan Pelajaran yang Lahir dari Panggung Krakatau Festival \u200e"},"content":{"rendered":"<div align=\"left\">\n<p dir=\"ltr\"><em>\u200eOleh: Feragi Azizun Putra,M.Pd.<\/em><br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e<strong>MUNGKIN<\/strong> tidak banyak yang menyadari bahwa Festival Krakatau 2025 bukan hanya ruang hiburan, bukan pula sekadar tempat berpesta tradisi. Bila dicermati lebih dalam, perhelatan budaya tahunan ini sejatinya telah berubah menjadi semacam kelas terbuka, tempat masyarakat terutama tokoh adat dan para elite lokal, diam-diam sedang diajak kembali ke sekolah nilai.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSiapa Sang pengajarnya? Bukan siapa-siapa, melainkan Wakil Gubernur Lampung, dr. Jihan Nurlela, M.M., seorang perempuan muda yang dalam diamnya mampu menyampaikan pelajaran paling mendasar tentang siapa kita sebagai orang Lampung.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam pidatonya di pembukaan Festival Krakatau Ke\u201134, Jihan tidak bicara soal angka APBD, tidak pula membual soal target investasi. Ia memilih berbicara tentang &#8220;Nemui Nyimah&#8221;, sebuah falsafah tua yang nyaris tak lagi dikenali oleh sebagian besar generasi baru, bahkan oleh mereka yang mengklaim diri sebagai Tokoh Adat dan Tokoh Budaya. Sangat ironis.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKalimatnya lembut namun menusuk: &#8220;Ini bukan sekadar tema festival. Ini adalah jati diri kita. Nemui Nyimah adalah cara hidup kita sebagai orang Lampung,&#8221; demikian ucap Wakil Gubernur. Kalimat sederhana, tapi bila direnungkan lebih dalam, adalah sebuah sindiran halus yang menyadarkan: nilai-nilai hidup itu telah lama kita abaikan, atau lebih tepatnya, kita jadikan ornamen tanpa makna.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSungguh menarik bahwa pelajaran ini datang justru dari seorang Wakil Gubernur, bukan dari tokoh adat atau pemangku kebudayaan. Ini semacam pembalikan posisi sosial. Di saat para pemimpin adat sibuk mengatur prosesi dan simbol, Jihan datang dan bertanya dengan sikap: \u201cApakah kalian masih tahu makna dari simbol-simbol itu?\u201d<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBukankah ini sebuah ironi yang luar biasa, namun juga bentuk kepemimpinan yang menyejukkan?<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam seluruh rangkaian festival mulai dari Festival Kanik\u2019an, Lomba Sambal Seruit, Lampung Mask Street Carnaval, hingga Malam Pesona K\u2011Fest yang dibangun adalah bukan sekadar atraksi budaya, melainkan skema pendidikan nilai yang hidup. Ratusan peserta berdandan adat, menari, menyajikan makanan khas, berkompetisi. Namun, di balik itu, seolah ada pesan yang dihamparkan di tengah panggung: \u201cKenalilah kembali siapa dirimu.\u201d<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDan inilah letak keberanian Jihan. Ia tidak hanya melibatkan diri sebagai pejabat yang menyambut tamu, tapi menjadi sosok yang menyusupkan ajaran-ajaran moral budaya di tengah keramaian, tanpa terlihat sedang menggurui. Ia menggunakan festival, bukan untuk tampil, tapi untuk menanam nilai.<br \/>\n\u200eYang membuatnya makin simbolis adalah: di hadapan para Tokoh Adat, pelajaran itu dilontarkan bukan lewat diskusi, bukan seminar budaya, tapi melalui tindakan, simbol, dan cara memaknai.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eJihan mengajarkan kepemimpinan di Lampung ke depan harus menyentuh akar, bukan sekadar menjaga batang.<br \/>\n\u200eTidak berlebihan bila kita mengatakan bahwa Festival Krakatau tahun ini bukan saja sukses sebagai acara pariwisata, tapi telah menjadi panggung pendidikan budaya paling efektif.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDengan satu tema \u201cNemui Nyimah\u201d, Jihan menghidupkan ruang refleksi yang selama ini tidak disentuh. Di saat banyak pemimpin adat sibuk menjaga ritus, ia justru menjaga ruh. Ini tentu bukan bentuk pengabaian terhadap posisi pemimpin adat, tapi justru peringatan lembut: bahwa simbol tanpa pemahaman akan hampa, dan tradisi tanpa refleksi akan membatu.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eJika falsafah lokal hanya tinggal di pidato-pidato adat, dan tidak menjadi pedoman dalam cara kita menyambut, berinteraksi, atau memimpin, maka kita sedang menggerogoti budaya dari dalam.<br \/>\n\u200ePelajaran ini datang dari seorang dokter muda yang telah memilih jalur pemerintahan. Dalam diamnya, ia menegur, dalam senyumnya, ia menggugah, dan dalam ketulusannya, ia mengajari kita semua bahkan mereka yang lebih tua untuk kembali menengok jati diri Lampung yang sesungguhnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKita, masyarakat Lampung, berutang kepada beliau atas keberanian ini. Karena tidak semua pemimpin punya hasrat untuk merawat akar, apalagi saat banyak yang lebih tergoda meraih mahkota. Tapi Jihan memilih menanam; bukan menanamkan kekuasaan, melainkan nilai.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eFestival bisa diadakan tiap tahun. Tapi momen seperti ini, ketika seorang pejabat muda mampu \u201cmendidik kembali\u201d para pemimpin adat melalui cara yang halus dan bermartabat, adalah peristiwa langka. Dan ketika sejarah Lampung kelak ditulis kembali, semoga momen ini dikenang sebagai awal mula kebangkitan kembali nilai-nilai yang nyaris punah. ***<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e<em><strong>Penulis<\/strong> merupakan dosen dan pemerhati budaya lokal Lampung<\/em><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eOleh: Feragi Azizun Putra,M.Pd. \u200e \u200eMUNGKIN tidak banyak yang menyadari bahwa Festival Krakatau 2025 bukan hanya ruang hiburan, bukan pula sekadar tempat berpesta tradisi. Bila dicermati lebih dalam, perhelatan budaya tahunan ini sejatinya telah berubah menjadi semacam kelas terbuka, tempat masyarakat terutama tokoh adat dan para elite lokal, diam-diam sedang diajak kembali ke sekolah nilai. \u200e \u200eSiapa Sang pengajarnya? Bukan siapa-siapa, melainkan Wakil Gubernur Lampung, dr. Jihan Nurlela, M.M., seorang perempuan muda yang dalam diamnya mampu menyampaikan pelajaran paling mendasar tentang siapa kita sebagai orang Lampung. \u200e \u200eDalam pidatonya di pembukaan Festival Krakatau Ke\u201134, Jihan tidak bicara soal angka APBD, tidak pula membual soal target investasi. Ia memilih berbicara tentang &#8220;Nemui Nyimah&#8221;, sebuah falsafah tua yang nyaris tak lagi dikenali oleh sebagian besar generasi baru, bahkan oleh mereka yang mengklaim diri sebagai Tokoh Adat dan Tokoh Budaya. Sangat ironis. \u200e \u200eKalimatnya lembut namun menusuk: &#8220;Ini bukan sekadar tema festival. Ini adalah jati diri kita. Nemui Nyimah adalah cara hidup kita sebagai orang Lampung,&#8221; demikian ucap Wakil Gubernur. Kalimat sederhana, tapi bila direnungkan lebih dalam, adalah sebuah sindiran halus yang menyadarkan: nilai-nilai hidup itu telah lama kita abaikan, atau lebih tepatnya, kita jadikan ornamen tanpa makna. \u200e \u200eSungguh menarik bahwa pelajaran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":51106,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-51174","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-dan-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51174","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51174"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51174\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51177,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51174\/revisions\/51177"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51106"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51174"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51174"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51174"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}