{"id":51071,"date":"2025-06-30T12:25:25","date_gmt":"2025-06-30T05:25:25","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=51071"},"modified":"2025-06-30T12:25:25","modified_gmt":"2025-06-30T05:25:25","slug":"wamenag-tegaskan-masjid-harus-jadi-sumber-kehidupan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/06\/30\/wamenag-tegaskan-masjid-harus-jadi-sumber-kehidupan\/","title":{"rendered":"Wamenag Tegaskan Masjid Harus Jadi Sumber Kehidupan \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBogor (LB)<\/strong>: Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Romo R. Muhammad Shafi\u2019i, menegaskan fungsi masjid tidak hanya sebatas tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kehidupan umat.<\/p>\n<p>Merujuk pada masa Rasulullah SAW, ujarnya, masjid menjadi tempat pembinaan ilmu, ekonomi, kesehatan, dan pelayanan sosial.<\/p>\n<p>Demikian disampaikan Wamenag saat menghadiri acara Tasyakuran dan Puncak Perayaan Tahun Baru Islam 1447 Hijriah di Masjid Darussalam, Kota Wisata, Bogor, Minggu (29\/6\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDia juga memberikan apresiasi tinggi kepada pengurus masjid atas transformasi dan kontribusi nyata kepada masyarakat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cMasjid Darussalam bukan hanya megah secara fisik, tapi juga luar biasa dalam pengelolaan dan kontribusi sosialnya. Saya melihat bagaimana masjid ini berkembang dari yang dulu eksklusif menjadi inklusif,\u201d ujar Romo Shafi\u2019i.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cUmat yang kesulitan modal usaha, butuh pendidikan, atau layanan kesehatan, semestinya bisa datang ke masjid. Dan program-program di Masjid Darussalam sudah mulai mengarah ke sana,\u201d lanjutnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat Deddy Mulyadi turut memberikan pandangan filosofis tentang masjid. Ia mengaitkan nilai-nilai spiritualitas masjid dengan warisan budaya Sunda, terutama konsep Tajug yang sarat makna.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cTajug bukan sekadar bangunan. Itu tempat kehidupan spiritual tumbuh. Di sana anak-anak belajar mengaji, belajar hidup. Maka masjid harus menjadi tempat yang menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang mati karena jauh dari Allah,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eGubernur juga menekankan pentingnya masjid dalam menanggulangi kemiskinan. Ia menyebut seluruh bentuk kriminalitas di Jawa Barat sebagian besar berakar dari persoalan ekonomi<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cMembangun masjid berarti juga membangun keadilan sosial. Di dalamnya ada amanah untuk menjaga anak yatim dan fakir miskin. Ini bagian dari tugas spiritual dan kemanusiaan kita bersama,\u201d katanya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, Hengki Haryadi, pembina Masjid Darusallam sekaligus penggagas kegiatan Perayaan tahun baru islam 1447 Hijriyah yang digelar dengan Festival Adzan Nusantara yang merupakan kompetisi adzan internasional yang diikuti lebih 700 peserta dari berbagai negara, mengatakan Masjid Darusallam kini mengusung paradigma baru dari yang sebelumnya bersifat eksklusif menjadi inklusif dan terbuka untuk seluruh kalangan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePrinsip Islam wasatiyah atau moderat menjadi fondasi utama dalam setiap program yang dijalankan, sejalan dengan visi Yayasan Darussalam untuk menjadi pusat peradaban Islam berstandar nasional.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAtas berbagai capaian tersebut, Masjid Darussalam Kota Wisata mendapatkan penghargaan dari Dewan Masjid Indonesia sebagai masjid terbaik tingkat nasional dalam tiga kategori. Prestasi ini menjadi bukti komitmen masjid dalam memberikan pelayanan maksimal kepada umat dan masyarakat luas.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cPenghargaan ini adalah bentuk pengakuan atas kerja keras dan dedikasi seluruh pihak yang terlibat. Semoga Masjid Darussalam terus menjadi teladan dalam memakmurkan masjid dan menguatkan peran Islam dalam kehidupan berbangsa,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam sambutannya, Hengki Haryadi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Masjid Darussalam untuk menjadi tuan rumah dalam perayaan Tahun Baru Islam kali ini. Menurutnya, momen ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi pengurus dan jamaah Masjid Darussalam.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cKami sampaikan selamat datang di Masjid Darussalam. Ini merupakan kehormatan bagi kami semua. Masjid ini telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang sejak tahun 1999, berawal dari kegiatan salat tarawih berjamaah di salah satu klaster perumahan,\u201d pungkasnya. (*\/red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBogor (LB): Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Romo R. Muhammad Shafi\u2019i, menegaskan fungsi masjid tidak hanya sebatas tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kehidupan umat. Merujuk pada masa Rasulullah SAW, ujarnya, masjid menjadi tempat pembinaan ilmu, ekonomi, kesehatan, dan pelayanan sosial. Demikian disampaikan Wamenag saat menghadiri acara Tasyakuran dan Puncak Perayaan Tahun Baru Islam 1447 Hijriah di Masjid Darussalam, Kota Wisata, Bogor, Minggu (29\/6\/2025). \u200e \u200eDia juga memberikan apresiasi tinggi kepada pengurus masjid atas transformasi dan kontribusi nyata kepada masyarakat. \u200e \u200e\u201cMasjid Darussalam bukan hanya megah secara fisik, tapi juga luar biasa dalam pengelolaan dan kontribusi sosialnya. Saya melihat bagaimana masjid ini berkembang dari yang dulu eksklusif menjadi inklusif,\u201d ujar Romo Shafi\u2019i. \u200e \u200e\u201cUmat yang kesulitan modal usaha, butuh pendidikan, atau layanan kesehatan, semestinya bisa datang ke masjid. Dan program-program di Masjid Darussalam sudah mulai mengarah ke sana,\u201d lanjutnya. \u200e \u200eDalam kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat Deddy Mulyadi turut memberikan pandangan filosofis tentang masjid. Ia mengaitkan nilai-nilai spiritualitas masjid dengan warisan budaya Sunda, terutama konsep Tajug yang sarat makna. \u200e \u200e\u201cTajug bukan sekadar bangunan. Itu tempat kehidupan spiritual tumbuh. Di sana anak-anak belajar mengaji, belajar hidup. Maka masjid harus menjadi tempat yang menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang mati karena jauh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":51072,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16,406],"tags":[],"class_list":["post-51071","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51071","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51071"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51071\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51073,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51071\/revisions\/51073"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51072"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51071"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51071"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51071"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}