{"id":50764,"date":"2025-05-28T12:20:49","date_gmt":"2025-05-28T05:20:49","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=50764"},"modified":"2025-05-28T12:20:49","modified_gmt":"2025-05-28T05:20:49","slug":"dekan-bungkam-kasus-kekerasan-dan-pelanggaran-etik-ormawa-aliansi-mahasiswa-feb-unila-gelar-aksi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/05\/28\/dekan-bungkam-kasus-kekerasan-dan-pelanggaran-etik-ormawa-aliansi-mahasiswa-feb-unila-gelar-aksi\/","title":{"rendered":"\u200eDekan Bungkam Kasus Kekerasan dan Pelanggaran Etik Ormawa, Aliansi Mahasiswa FEB Unila Gelar Aksi"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB):<\/strong> Aksi massa yang digelar Aliansi FEB Menggugat di pelataran Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila) hari ini menyoroti secara tajam dugaan pembungkaman yang dilakukan Dekan terhadap kasus kekerasan dan pelanggaran etik di lingkungan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) FEB.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSejak pukul 08.00 WIB, massa telah berkumpul di area kampus dan bergerak menuju pelataran Dekanat FEB pada pukul 10.00 WIB. Aksi ini merupakan bentuk perlawanan mahasiswa terhadap krisis multidimensi yang disebut telah lama dibiarkan: buruknya transparansi, ketidakadilan struktural, minimnya fasilitas kampus, hingga pembiaran terhadap kekerasan dan intimidasi oleh oknum Ormawa.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIsu paling utama yang diangkat adalah dugaan tindakan kekerasan yang disertai intimidasi dan pembungkaman terhadap korban. Massa menilai Dekanat tidak menjalankan fungsi perlindungan dan penegakan etika dengan semestinya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cMenurut bukti rekaman medis, pernyataan korban dan keluarga, serta bukti percakapan digital, telah terjadi kekerasan dan intimidasi. Namun sampai hari ini, tidak ada sikap tegas dari Dekanat. Ini adalah bentuk pembiaran dan pembungkaman terhadap korban,\u201d tegas Jenderal Lapangan, M. Zidan Azzakri.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAliansi FEB Menggugat menyampaikan empat tuntutan utama kepada Dekanat:<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e1. Menghapus Ormawa yang terbukti melakukan kekerasan dan pelanggaran etik;<br \/>\n\u200e2. Mengadili pelaku kekerasan sesuai prosedur hukum dan etika kampus;<br \/>\n\u200eMelakukan klarifikasi publik secara terbuka;<br \/>\n\u200e3. Menghentikan segala bentuk intimidasi dan pembungkaman terhadap korban.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePertemuan langsung antara massa aksi dengan Dekan, Wakil Dekan I, dan Wakil Dekan III pada pukul 10.30 WIB dinilai tidak menghasilkan progres. Pihak Dekanat menolak menandatangani Pakta Integritas yang diajukan mahasiswa sebagai bentuk komitmen atas tuntutan yang disampaikan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cPenolakan untuk menandatangani Pakta Integritas menunjukkan sikap tidak serius dan arogansi pimpinan fakultas terhadap masalah ini,\u201d lanjut Zidan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelain kasus kekerasan, mahasiswa juga menuntut transparansi keuangan, evaluasi total terhadap kinerja staf kampus, serta perbaikan fasilitas akademik yang selama ini dinilai minim dan tidak merata\u2014khususnya di Gedung F, yang kekurangan AC, proyektor, dan komputer penunjang proses belajar-mengajar.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAksi yang berakhir pada pukul 12.00 WIB tersebut belum membuahkan hasil konkret. Oleh karena itu, Aliansi FEB Menggugat menyatakan akan menggelar aksi lanjutan dalam waktu dekat dengan skala lebih besar. Mereka juga mengajak seluruh elemen mahasiswa Unila untuk bersatu dalam perjuangan ini.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cTekanan kami sepenuhnya tertuju pada Dekanat FEB Unila. Kami tidak akan berhenti sampai Dekan dan jajaran menunjukkan tanggung jawab dan komitmen terhadap keadilan dan kebenaran,\u201d tegas Zidan. (red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Aksi massa yang digelar Aliansi FEB Menggugat di pelataran Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila) hari ini menyoroti secara tajam dugaan pembungkaman yang dilakukan Dekan terhadap kasus kekerasan dan pelanggaran etik di lingkungan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) FEB. \u200e \u200eSejak pukul 08.00 WIB, massa telah berkumpul di area kampus dan bergerak menuju pelataran Dekanat FEB pada pukul 10.00 WIB. Aksi ini merupakan bentuk perlawanan mahasiswa terhadap krisis multidimensi yang disebut telah lama dibiarkan: buruknya transparansi, ketidakadilan struktural, minimnya fasilitas kampus, hingga pembiaran terhadap kekerasan dan intimidasi oleh oknum Ormawa. \u200e \u200eIsu paling utama yang diangkat adalah dugaan tindakan kekerasan yang disertai intimidasi dan pembungkaman terhadap korban. Massa menilai Dekanat tidak menjalankan fungsi perlindungan dan penegakan etika dengan semestinya. \u200e \u200e\u201cMenurut bukti rekaman medis, pernyataan korban dan keluarga, serta bukti percakapan digital, telah terjadi kekerasan dan intimidasi. Namun sampai hari ini, tidak ada sikap tegas dari Dekanat. Ini adalah bentuk pembiaran dan pembungkaman terhadap korban,\u201d tegas Jenderal Lapangan, M. Zidan Azzakri. \u200e \u200eAliansi FEB Menggugat menyampaikan empat tuntutan utama kepada Dekanat: \u200e \u200e1. Menghapus Ormawa yang terbukti melakukan kekerasan dan pelanggaran etik; \u200e2. Mengadili pelaku kekerasan sesuai prosedur hukum dan etika kampus; \u200eMelakukan klarifikasi publik secara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":50765,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29,1194],"tags":[],"class_list":["post-50764","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-bandar-lampung","category-info-unila"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50764","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50764"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50764\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50766,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50764\/revisions\/50766"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50765"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50764"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50764"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50764"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}