{"id":50424,"date":"2025-05-12T00:18:28","date_gmt":"2025-05-11T17:18:28","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=50424"},"modified":"2025-05-12T00:18:28","modified_gmt":"2025-05-11T17:18:28","slug":"ikuti-instruksi-gubernur-puluhan-pabrik-siap-beli-singkong-petani-rp-1-350-per-kilogram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/05\/12\/ikuti-instruksi-gubernur-puluhan-pabrik-siap-beli-singkong-petani-rp-1-350-per-kilogram\/","title":{"rendered":"\u200eIkuti Instruksi Gubernur, Puluhan Pabrik Siap Beli Singkong Petani Rp 1.350 Per Kilogram"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Lebih 40 perusahaan pengolahan singkong di Lampung telah mematuhi Instruksi Gubernur Nomor 2 Tahun 2025 yang mengatur harga dasar Rp1.350 per kilogram dan potongan maksimal 30 persen.<\/p>\n<p>\u200eKetua Panitia Khusus (Pansus) Tata Niaga Singkong DPRD Lampung, Mikdar Ilyas, menyebut langkah ini sebagai bentuk keberpihakan nyata kepada petani meskipun begitu masih ada 3 hingga 4 perusahaan yang belum menjalankan aturan tersebut.<\/p>\n<p>\u200e\u201cKita apresiasi 40 lebih perusahaan yang sudah mengikuti harga dan potongan sesuai instruksi gubernur, tapi masih ada beberapa yang belum, dan ini akan segera kita evaluasi. Kita ingin seluruh pabrik patuh agar sistem tata niaga ini benar-benar adil,\u201d kata Mikdar, Sabtu (10\/5\/2025).<\/p>\n<p>\u200eDukungan juga datang dari kalangan industri yang tergabung Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI). Ketua PPTTI Lampung, Welly Soegiono, menegaskan 33 perusahaan anggota asosiasi, seluruhnya telah menyatakan kesediaan menjalankan instruksi gubernur.<\/p>\n<p>\u200e\u201cKami sepakat dengan kebijakan Pak Gubernur. Tujuannya jelas, agar usaha tetap berjalan dan petani juga tidak dirugikan. Semua anggota kami patuh, kecuali dua pabrik yang sedang tutup sementara karena over haul,\u201d ujar Welly.<\/p>\n<p>\u200eSebelumnya, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menegaskan penetapan harga dasar hanyalah satu bagian dari solusi menyeluruh yang perlu didukung kebijakan nasional. Karena itu, ia terus mendorong Pemerintah Pusat segera menetapkan larangan dan pembatasan (Lartas) impor singkong dan turunannya, seperti tapioka.<\/p>\n<p>\u200eMikdar juga menekankan kewenangan menetapkan Lartas bukan berada di Kemenko Pangan, melainkan sepenuhnya berada di tangan Kemenko Perekonomian sebagai koordinator lintas sektor ekonomi.<\/p>\n<p>\u200e\u201cKalau bicara harga di daerah, itu sudah selesai, tapi sekarang bola ada di Pemerintah Pusat. Lartas itu wewenang Kemenko Perekonomian bukan Kemenko Pangan. Ini mendesak, jangan tunggu ekonomi global membaik, lihat dulu ekonomi petani kita,\u201d tegas Mikdar.<\/p>\n<p>\u200eDia mengingatkan sebagai penghasil singkong terbesar di Indonesia, petani di Lampung justru paling menderita akibat tekanan harga dan sistem potong yang tidak adil. Jika tidak segera ada kebijakan nasional yang berpihak, petani bisa beralih ke komoditas lain dan industri ikut terdampak.<\/p>\n<p>\u200e\u201cKita dorong Pusat segera ambil keputusan. Ini bukan soal angka makroekonomi, ini soal keberlanjutan hidup petani singkong dan industri yang menyerap hasil mereka. Jangan tunda lagi,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>\u200eDengan dukungan 30 pabrik, Pemerintah Provinsi Lampung bersama DPRD kini menunggu langkah nyata Pemerintah Pusat menyempurnakan regulasi tata niaga singkong nasional. (kmf)<\/p>\n<p><strong>\u200ePerusahaan yang telah menjalankan Instruksi Gubernur di antaranya:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>\u200eSPM 1 Mesuji<\/li>\n<li>\u200eSPM 2 Lampung Tengah<\/li>\n<li>\u200ePT. Muara Jaya Lamtim<\/li>\n<li>\u200ePT. Sungai Bungur Indo Perkasa Lamtim<\/li>\n<li>\u200eWay Raman Lamtim<\/li>\n<li>\u200eDharma Jaya Lamteng<\/li>\n<li>\u200eJaya Abadi Tapioka Lampura<\/li>\n<li>\u200eBerjaya Tapioka Lamtim<\/li>\n<li>\u200eBerjaya Tapioka Tubaba<\/li>\n<li>\u200eSinar Agro Semesta Tuba<\/li>\n<li>\u200ePT. TedcoAgri Makmur Lamteng<\/li>\n<li>\u200eBSL Tubaba<\/li>\n<li>\u200ePT. Mitra Pati Mas Lamteng<\/li>\n<li>\u200ePT. BTS Mesuji<\/li>\n<li>\u200eUmas Jaya Agrotama 1 Pabrik<\/li>\n<li>\u200eTapioka Bangun Jaya Lamteng<\/li>\n<li>\u200eTapioka Bangun Makmur Lamteng<\/li>\n<li>\u200eCV Central Intan Tubaba<\/li>\n<li>\u200eCV Lautan Intan Lamtim<\/li>\n<li>\u200ePT Samudera Intan Tapioka. Kotabumi Lampura<\/li>\n<li>\u200ePT Surya Intan Tapioka Lampura<\/li>\n<li>\u200ePT Hamparan Bumi Mas Abadi Lamteng<\/li>\n<li>\u200ePT. Sinar Agro Semesta Lampung Tengah<\/li>\n<li>\u200eCV. Agri Starch Tulang Bawang Barat<\/li>\n<li>\u200ePT. Mentari Prima J Abadi Tubaba<\/li>\n<li>\u200eCV. Gunung Mas Putra Kencana 1 Lamteng<\/li>\n<li>\u200eCV. Gunung Mas Putra Kencana 2 Lamteng<\/li>\n<li>\u200eCV. Gunung Putra Kencana 3 Soponyono Way Kanan<\/li>\n<li>\u200ePT. Gunung Sugih Lamteng<\/li>\n<li>\u200ePT TWBP Gunung Batin<\/li>\n<li>\u200ePT TWBP Tulang Bawang<\/li>\n<li>\u200ePT. TWBP Kota Bumi<\/li>\n<li>\u200ePT. TWBP Kalicinta<\/li>\n<li>\u200ePT. Budi Starch &amp; Sweetener Tbk 1 Lamteng<\/li>\n<li>\u200ePT. Budi Starch &amp; Sweetener Tbk 2 Lamteng<\/li>\n<li>\u200ePT. Budi Starch &amp; Sweetener Tbk 3 Lamteng<\/li>\n<li>\u200ePT. Satya Mandala Pratama Lamteng<\/li>\n<li>\u200ePT. Florindo Makmur 1 Lamteng<\/li>\n<li>\u200ePT. Florindo Makmur 2 Lamteng<\/li>\n<li>\u200ePT. Budi Starch &amp; Sweetener Tbk Lamtim<\/li>\n<li>\u200ePT. Florindo Makmur Lamtim<\/li>\n<li>\u200ePT. Darma Agrindo Lamsel<\/li>\n<li>\u200ePT. Budi Starch &amp; Sweetener Tbk Tuba<\/li>\n<li>\u200ePT. Budi Starch &amp; Sweetener Tbk 1 Tubaba<\/li>\n<li>\u200ePT. Budi Starch &amp; Sweetener Tbk 2 Tubaba<\/li>\n<li>\u200ePT. Satya Mandala Pratama Lamsel<\/li>\n<li>\u200ePT. Budi Starch &amp; Sweetener Tbk 1 Lampura<\/li>\n<li>\u200ePT. Budi Starch &amp; Sweetener Tbk 2 Lampura<\/li>\n<li>\u200ePT. Florindo Makmur Lampura<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Lebih 40 perusahaan pengolahan singkong di Lampung telah mematuhi Instruksi Gubernur Nomor 2 Tahun 2025 yang mengatur harga dasar Rp1.350 per kilogram dan potongan maksimal 30 persen. \u200eKetua Panitia Khusus (Pansus) Tata Niaga Singkong DPRD Lampung, Mikdar Ilyas, menyebut langkah ini sebagai bentuk keberpihakan nyata kepada petani meskipun begitu masih ada 3 hingga 4 perusahaan yang belum menjalankan aturan tersebut. \u200e\u201cKita apresiasi 40 lebih perusahaan yang sudah mengikuti harga dan potongan sesuai instruksi gubernur, tapi masih ada beberapa yang belum, dan ini akan segera kita evaluasi. Kita ingin seluruh pabrik patuh agar sistem tata niaga ini benar-benar adil,\u201d kata Mikdar, Sabtu (10\/5\/2025). \u200eDukungan juga datang dari kalangan industri yang tergabung Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI). Ketua PPTTI Lampung, Welly Soegiono, menegaskan 33 perusahaan anggota asosiasi, seluruhnya telah menyatakan kesediaan menjalankan instruksi gubernur. \u200e\u201cKami sepakat dengan kebijakan Pak Gubernur. Tujuannya jelas, agar usaha tetap berjalan dan petani juga tidak dirugikan. Semua anggota kami patuh, kecuali dua pabrik yang sedang tutup sementara karena over haul,\u201d ujar Welly. \u200eSebelumnya, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menegaskan penetapan harga dasar hanyalah satu bagian dari solusi menyeluruh yang perlu didukung kebijakan nasional. Karena itu, ia terus mendorong Pemerintah Pusat segera menetapkan larangan dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":50425,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[412,8],"tags":[],"class_list":["post-50424","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-ekonomi-dan-bisnis","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50424","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50424"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50424\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50426,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50424\/revisions\/50426"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50425"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}