{"id":50261,"date":"2025-05-02T09:37:29","date_gmt":"2025-05-02T02:37:29","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=50261"},"modified":"2025-05-02T09:54:19","modified_gmt":"2025-05-02T02:54:19","slug":"100-penari-akan-menari-12-jam-non-stop-di-perayaan-htd-2025-yang-digelar-dkl-besok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/05\/02\/100-penari-akan-menari-12-jam-non-stop-di-perayaan-htd-2025-yang-digelar-dkl-besok\/","title":{"rendered":"100 Penari Akan Menari 12 Jam Nonstop di Perayaan HTD 2025 yang Digelar DKL Besok"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Gandeng Ikatan Mahasiswa Seni Tari (Imastar) Unila, Dewan Kesenian Lampung (DKL) akan menampilkan 100 penari yang akan menari secara maraton selama 12 jam nonstop pada perayaan Hari Tari Dunia (HTD) 2025 dengan tema \u201cTari sebagai Jembatan Budaya &amp; Edukasi&#8221; yang akan ditaja di Gedung Pertunjukan DKL, PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Sabtu (3\/5\/2025).<\/p>\n<p>\u200eDemikian disampaikan Sekretaris DKL Bagus S. Pribadi Aviep melalui rilisnya yang diterima lampungbarometer.id, Jumat (2\/5\/2025).<\/p>\n<p>Aviep juga mengungkapkan peringatan HTD yang merupakan salah satu agenda rutin tahunan Dewan Kesenian Lampung, tahun 2025 ini akan dibuka Ketua DKL Prof. Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Perhelatan yang diikuti 100 penari dari berbagai sanggar seni, komunitas, dan institusi pendidikan ini akan berlangsung selama 12 jam, mulai Sabtu (3\/5) Pukul 09.00 WIB hingga Pukul 21.00 WIB,&#8221; ungkap Aviep.<\/p>\n<p>\u200eDia juga membeberkan Hari Tari Dunia di Lampung tak hanya menjadi ajang apresiasi seni gerak, tapi juga sarana edukasi bagi masyarakat untuk memahami nilai-nilai budaya melalui pertunjukan yang hidup dan inspiratif. Tarian tidak hanya disajikan sebagai hiburan, melainkan juga sebagai medium pembelajaran lintas budaya yang menyentuh berbagai aspek kehidupan: sosial, sejarah, bahkan spiritual.<\/p>\n<p>\u200e\u201cJadi tari sebagai Jembatan Budaya &amp; Edukasi. Tari bisa menginspirasi masyarakat menumbuhkembangkan sekaligus melestarikan warisan budaya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>\u200eSelanjutnya dia mengatakan perhelatan ini akan menyuguhkan beragam agenda menarik, di antaranya: Live Performance dari para seniman dan kelompok tari lokal serta tamu undangan spesial, pentas kolaborasi lintas genre dan komunitas, Bazar UMKM &amp; Kuliner yang menampilkan produk kreatif serta kekayaan kuliner khas Lampung.<\/p>\n<p>\u200e\u201cAda juga pembagian <em>doorprize<\/em> untuk para pengunjung sebagai bentuk apresiasi kehadiran, dan maraton menari selama 12 jam nonstop,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>\u200eKetua Dewan Kesenian Lampung, Prof. Dr. Satria Bangsawan menyampaikan Dewan Kesenian Lampung adalah rumah bersama bagi seluruh seniman di Lampung.<\/p>\n<p>\u200e\u201cKami hadir bukan hanya sebagai ruang ekspresi, tapi juga sebagai katalisator dan fasilitator bagi lahirnya karya-karya terbaik dari daerah ini. Hari Tari Dunia menjadi bukti seni mampu merangkul, mendidik, dan menyatukan kita semua,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>\u200eSementara itu, Ketua Pelaksana Hari Tari Dunia 2025, sekaligus Ketua Komite Tari DKL, Lora Gustia Ningsih, M.Sn. mengatakan peringatan HTD 2025 ini menjadi wadah penting dalam memperkuat eksistensi seni tari di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.<\/p>\n<p>\u200e\u201cKami ingin masyarakat melihat tari bukan sekadar pertunjukan, tapi sebuah jembatan untuk memahami budaya, membangun solidaritas, dan memperluas cakrawala berpikir,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>\u200eLora menambahkan kegiatan ini terbuka untuk umum dan gratis. Masyarakat dari berbagai kalangan; pelajar, seniman, keluarga, hingga wisatawan lokal, diharapkan hadir dan menikmati pengalaman budaya yang edukatif dan menghibur.<\/p>\n<p>\u200e\u201cHari Tari Dunia 2025 adalah panggung untuk merayakan keragaman, menggali potensi lokal, dan membangun ruang bersama melalui gerak yang bermakna. Ayo hadir dan jadilah bagian dari energi besar ini!,\u201d ujarnya berpromosi. (**)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Gandeng Ikatan Mahasiswa Seni Tari (Imastar) Unila, Dewan Kesenian Lampung (DKL) akan menampilkan 100 penari yang akan menari secara maraton selama 12 jam nonstop pada perayaan Hari Tari Dunia (HTD) 2025 dengan tema \u201cTari sebagai Jembatan Budaya &amp; Edukasi&#8221; yang akan ditaja di Gedung Pertunjukan DKL, PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Sabtu (3\/5\/2025). \u200eDemikian disampaikan Sekretaris DKL Bagus S. Pribadi Aviep melalui rilisnya yang diterima lampungbarometer.id, Jumat (2\/5\/2025). Aviep juga mengungkapkan peringatan HTD yang merupakan salah satu agenda rutin tahunan Dewan Kesenian Lampung, tahun 2025 ini akan dibuka Ketua DKL Prof. Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si. \u200e&#8221;Perhelatan yang diikuti 100 penari dari berbagai sanggar seni, komunitas, dan institusi pendidikan ini akan berlangsung selama 12 jam, mulai Sabtu (3\/5) Pukul 09.00 WIB hingga Pukul 21.00 WIB,&#8221; ungkap Aviep. \u200eDia juga membeberkan Hari Tari Dunia di Lampung tak hanya menjadi ajang apresiasi seni gerak, tapi juga sarana edukasi bagi masyarakat untuk memahami nilai-nilai budaya melalui pertunjukan yang hidup dan inspiratif. Tarian tidak hanya disajikan sebagai hiburan, melainkan juga sebagai medium pembelajaran lintas budaya yang menyentuh berbagai aspek kehidupan: sosial, sejarah, bahkan spiritual. \u200e\u201cJadi tari sebagai Jembatan Budaya &amp; Edukasi. Tari bisa menginspirasi masyarakat menumbuhkembangkan sekaligus melestarikan warisan budaya,\u201d ujarnya. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":50262,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29,15],"tags":[],"class_list":["post-50261","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-bandar-lampung","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50261","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50261"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50261\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50267,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50261\/revisions\/50267"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50262"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50261"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50261"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50261"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}