{"id":50107,"date":"2025-04-19T23:53:27","date_gmt":"2025-04-19T16:53:27","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=50107"},"modified":"2025-04-20T14:20:03","modified_gmt":"2025-04-20T07:20:03","slug":"secarik-kertas-m-suharyadi-potret-kepala-sekolah-dukun-bertangan-dingin-pembawa-tuah-raja-midas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/04\/19\/secarik-kertas-m-suharyadi-potret-kepala-sekolah-dukun-bertangan-dingin-pembawa-tuah-raja-midas\/","title":{"rendered":"\u200eSecarik Kertas: M. Suharyadi, Potret Kepala Sekolah &#8216;Dukun&#8217; Bertangan Dingin Pembawa Tuah Raja Midas"},"content":{"rendered":"<p><strong>lampungbarometer.id <\/strong>&#8211; \u200ePagi berkabut di Rabu pertengahan April 2025 itu disapa rintik hujan sejak menjelang subuh. Langit di atas Kota Liwa, sebuah kota kecil yang berhawa dingin di lereng Gunung Pesagi Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, terlihat pucat dibalut mendung putih.<\/p>\n<p>Meski begitu, aktivitas masyarakat di kota kecil itu tidak terganggu, semua berjalan seperti biasa; siswa-siswi berangkat ke sekolah, petani menuju kebun, para pedagang menjajakan dagangan di pasar. Semua aktivitas berjalan normal, sebab bagi mereka hujan, dingin cuaca, dan kabut adalah anugerah yang <em><strong>*<\/strong>jak jaman tumbai <\/em>jadi sahabat karib.<\/p>\n<p>\u200ePagi itu, di salah satu sudut Kota Liwa, tepatnya di Kawasan Sekuting Terpadu, Jl. Lintas Liwa Kecamatan Balik Bukit, tampak kesibukan luar biasa. Ribuan siswa dan ratusan kendaraan bergerak menuju Gedung Olah Raga (GOR) Aji Saka yang berada di lokasi tersebut\u00a0 untuk menghadiri Acara Perpisahan Siswa Siswi Kelas XII SMAN 1 Liwa 2024\/2025.<\/p>\n<p>\u200eDi dalam gedung tampak para siswa berseragam rapi dan tamu undangan dari berbagai daerah memenuhi GOR Aji Saka yang disulap menjadi ruangan VIP kelas hotel dengan dekorasi ciamik, dilengkapi pendingin ruangan dan tata cahaya lampu serta videotron berukuran besar yang menyajikan berbagai kegiatan dan prestasi siswa, mengesankan acara perpisahan yang mewah dan berkelas. Deretan tamu undangan yang hadir juga <em>bukan kaleng-kaleng;<\/em> para petinggi dan orang-orang penting, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Americo, S.STP., M.H. dan Asisten Bupati Lampung Barat, para kepala dinas di Lampung Barat serta pejabat penting lainnya.<\/p>\n<p>\u200eBerdasarkan cerita para siswa dan guru, gelaran acara perpisahan seperti ini sudah yang kedua kali sejak kepala SMAN 1 Liwa dijabat M. Suharyadi, M.Pd. sekitar dua tahun lalu. Mereka juga menceritakan M. Suharyadi yang lebih akrab disapa Pak M dan dikenal sebagai &#8220;dukun&#8221; adalah sosok humoris tapi tegas, cerdas, mumpuni membaca situasi, dan &#8220;nggak doyan duit&#8221; sehingga mampu menjadi pengayom dan pemersatu di internal sekolah. Efeknya, prestasi siswa semakin melenting dan bertabur medali. Terbaru, sebanyak 95 siswa berhasil masuk perguruan tinggi top di Indonesia, 67 di antaranya masuk melalui jalur Seleksi Nasional Berd\u00e0sarkan Prestasi (SNBP) Tahun 2025.<\/p>\n<p>\u200eMendapati fakta bahwa lesatan prestasi yang diraih SMAN 1 Liwa berkat sentuhan tangan dingin &#8220;Dukun Pendidikan&#8221; pembawa tuah Raja Midas ini, <strong><em>Lampungbarometer.id<\/em><\/strong> mencoba menggali informasi tentang sosok M. Suharyadi dari siswa, guru dan orang tua siswa.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Hal langka yang ada di diri Pak M dan tidak dimiliki kebanyakan kepala sekolah lain, yaitu Pak M ini <em>nggak<\/em> doyan duit. Karena dia tidak doyan korupsi, jadi semua kegiatan sekolah menjadi bagus, gedung bagus, prestasi siswa bagus, pegawai dan guru merasa nyaman. Tahun ini saja ada 95 siswa SMAN 1 Liwa lolos ke perguruan tinggi, sebanyak 67 melalui jalur SNBP,&#8221; ucap Ketua Komite SMAN 1 Liwa, Iwan Jabung, S.E., M.M. usai acara.<\/p>\n<p>\u200eDia juga mengisahkan, sebelum kepala SMAN 1 Liwa dijabat oleh Sang Dukun yang merupakan alumni FKIP Universitas Lampung, sekolah tersebut gonta-ganti kepala sekolah nyaris setiap tahun. Dalam kurun waktu 5 tahun, ungkapnya, SMAN 1 Liwa mengalami 4 kali pergantian kepala sekolah.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Saya sudah cukup lama terlibat sebagai Komite di SMAN 1 Liwa, anak saya juga sekolah di sini. Dalam lima tahun terakhir sebelum Pak M menjabat, sudah 4 kali ganti kepala sekolah. Kepala sekolah yang sebelum-sebelumnya rata-rata ditolak wali murid karena tidak ada transparansi dalam pengelolaan keuangan sekolah,&#8221; lanjut Iwan yang merupakan jurnalis senior di Lampung Barat.<\/p>\n<p>\u200eDia mengakui sejak Sang Dukun menjabat, SMAN 1 Liwa sangat kondusif; internal sekolah menjadi kompak dan solid sehingga prestasi siswa juga cemerlang. &#8220;Kami minta supaya beliau sampai pensiun di sini, karena beliau ini kalau tidak salah tiga tahun lagi pensiun. Kami warga Liwa, akan menolak jika beliau dimutasi menjadi kepala sekolah di sekolah lain. Kalau misalnya itu terjadi kami akan kirim surat penolakan resmi ke Dinas dan Gubernur,&#8221; tegas Iwan.<\/p>\n<p>\u200eSalah satu guru yang juga menjabat wakil kepala sekolah, Darmawan, M.Pd. secara gamblang menyampaikan belum pernah bertemu kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan seperti M. Suharyadi yang menurutnya sangat transparan dan selalu mengutamakan kepentingan anak didik dan kualitas sekolah.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Kepemimpinan beliau ini sangat berbeda dengan kepala sekolah-kepala sekolah sebelumnya. Beliau ini murni <em>leader<\/em>, murni manajer. Manajemen kepemimpinannya jelas dan tidak mau mengelola keuangan. Urusan keuangan sepenuhnya diserahkan kepada bendahara. Kami sebagai wakil beliau juga punya <em>job description<\/em> jelas dan diserahkan sepenuhnya kepada kami,&#8221; ungkap Waka Bidang Humas ini.<\/p>\n<p>\u200ePengakuan juga disampaikan Riki, guru olah raga yang merupakan alumni salah satu kampus ternama di Yogyakarta. Menurut Riki, sang Kepala Sekolah mampu menciptakan suasana ruang rapat yang santai dan membahagiakan. Selain itu, ucapnya, setiap guru merasa dihargai dan dirangkul serta selalu menghargai jerih payah semua warga sekolah sehingga semua menjadi kompak. Begitu juga siswa, semua mendapat perlakuan yang sama.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Kalau tentang beliau itu, saya sampai sulit <em>ngomong<\/em> karena sebagai kepala sekolah beliau memang keren. Pokoknya <em>the best banget<\/em>,&#8221; ungkap Riki.<\/p>\n<p>\u200eBerdasarkan penelusuran <em><strong>lampungbarometer.id<\/strong><\/em>, sebelum menjabat kepala SMAN 1 Liwa, ayah dua anak kelahiran Gading Rejo 1968 ini sempat menjabat kepala SMAN 1 Abung Semuli (SMANSA Muli) Lampung Utara sekitar 9 tahun. Berkat tangan dinginnya, sekolah pinggiran yang berada di tengah kampung itu menjelma menjadi sekolah yang disegani dengan berbagai prestasi mentereng.<\/p>\n<p>\u200eGedung sekolah yang sebelumnya layu dan kusam, dia poles menjadi bagus, asri, dan nyaman. Puncaknya, pada 2019, Sang Dukun Pendidikan ini membawa SMAN 1 Abung Semuli meraih Juara UKS Nasional.<\/p>\n<p>\u200eDan kini, SMAN 1 Liwa yang mendapat tuah sentuhan tangan dinginnya. Tidak perlu lama, hanya dalam waktu sekitar satu tahun setelah dia menjabat kepala sekolah, SMAN 1 Liwa langsung berubah; gedung yang semula kusam dan lembab kini menjadi terang dan elegan. Ratusan meter tembok pagar dan gerbang sekolah dia bangun membuat sekolah tampak menjadi lebih gagah dan terhormat, memberi sentuhan pada masjid agar menjadi lebih nyaman untuk melaksanakan ibadah, membangun rumah dinas kepala sekolah, dan berbagai pembangunan lainnya. Begitu juga ruang rapat, kini menjadi ladang subur bagi tumbuhnya berbagai ide dan gagasan. Tuah Sang Dukun, telah mengubah segalanya.<\/p>\n<p><strong>\u200eBukan Raja Midas<\/strong><\/p>\n<p>\u200eDalam mitologi Yunani dikisahkan Raja Midas memohon kepada Dewa Bacchuss agar apapun yang disentuhnya menjadi emas. Hingga suatu ketika penyesalan datang saat sang anak semata wayangnya berubah menjadi patung emas setelah dia sentuh. Peristiwa ini membuatnya sedih dan meminta kepada dewa agar dia kembali seperti semula. Permohonannya dikabulkan, Dewa Bacchuss memintanya mencuci tangan di Sungai Poktolos. Benar saja, saat mencuci tangan kemampuannya turut terbawa arus dan semua kembali seperti semula.<\/p>\n<p>\u200eM. Suharyadi bukan Raja Midas seperti yang dikisahkan dalam mitologi Yunani yang mampu mengubah apa saja yang disentuhnya menjadi emas. Alih-alih di berbagai kesempatan guru mata pelajaran Bahasa Inggris ini malah dengan bangga mengaku dirinya dukun yang mampu meramal nasib. Namun, bak Raja Midas dia sukses mengubah sekolah yang dipimpinnya menjadi luar biasa dan bertabur prestasi. Bagaimana bisa?<\/p>\n<p>\u200eJika menelisik rekam jejaknya, sebetulnya bukan hal yang mengejutkan jika Sang Dukun M. Suharyadi mampu menyepuh sekolah yang biasa-biasa saja, menjadi pesaing nomor wahid dengan prestasi luar biasa. Sebab dia merupakan salah satu pendekar pendidikan pilih tanding yang sudah teruji secara mental dan emosional yang telah melanglang seantero jagat pendidikan dan mengabdi di berbagai sekolah serta universitas.<\/p>\n<p>\u200eJiwa sosialnya yang tinggi, ditambah metode pendekatan persuasif yang humanis plus selera humor yang juga tinggi memang menjadi bola magnet yang dapat menarik kemajuan bagi dunia pendidikan. Belum lagi sebagai aktivis kampus dan akademisi yang gaul, dia memiliki jejaring dan hubungan emosional yang sangat mengakar di tataran pejabat, politisi dan aktivis.<\/p>\n<p>\u200eHumoris namun tegas, lentur dan tidak <em>textbook<\/em>, disiplin, lihai membaca situasi, dan jago mengatur tempo, menjadi modal yang membuatnya memiliki paket lengkap untuk menjadi <em>leader<\/em> di sebuah sekolah. Satu lagi, dia &#8220;tidak doyan makan duit&#8221;. Inilah faktor paling pentingnya.<\/p>\n<p>\u200eSebagai golongan priyayi kelas rendah (meminjam istilah Umar Kayam dalam Novel <strong><em>&#8220;Para Priyayi&#8221;<\/em><\/strong>) dia memang tergolong jenis langka karena seakan tak punya hasrat terhadap uang. Baginya rasa hormat lebih penting, itulah sebabnya dia tidak terlalu berhasrat untuk mengumpulkan kekayaan. Sebab, dia meyakini hanya ada satu dari dua pilihan saat seseorang memegang jabatan; mengejar kekayaan atau memburu kehormatan. Tidak bisa diraih keduanya sekaligus. Dan dia telah menetapkan, <em>trust<\/em> dan rasa hormat menjadi pilihannya.<\/p>\n<p>Menurut ayah dua anak ini, tugas kepala sekolah adalah manajer yang harus bisa membaca kekuatan setiap personelnya sehingga bisa menjadi tim yang kuat. Menempatkan setiap personelnya di tempat yang tepat akan menjadi lokomotif yang mendorong kemajuan.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Urusan duit itu urusannya bendahara, kepala sekolah hanya membangun gagasan, merencanakan program dan rancangan kerja, kemudian memilih pelaksana yang tepat. Saya tidak pernah pegang uang sekolah, semua di bendahara,&#8221; ungkap peraih Guru Berprestasi Harian Radar Lampung Tahun 2000 ini, saat bincang-bincang santai usai acara perpisahan pada Rabu (16\/4\/2025) lalu.<\/p>\n<p>\u200ePoin lain, kepala sekolah yang menjadi idola para siswa ini selalu menjadi orang pertama yang tiba di sekolah setiap pagi. Selain itu, dia tidak pernah merasa rugi mengeluarkan biaya untuk mengembangkan kemampuan siswa dan guru. Itulah sebabnya, nyaris semua lomba dan program diikuti, tak ada yang luput selama tidak berbenturan dengan kalender pendidikan yang sudah ditentukan.<\/p>\n<p>\u200eBahkan pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Kabupaten, dia sanggup mengirimkan hingga 100 siswa untuk berbagai tangkai lomba. Demikian juga untuk FLS2N dan 02SN, dia tidak pernah ragu mengeluarkan biaya untuk para siswa yang berminat mengikuti ajang tersebut. Dan hasilnya, tentu saja tidak mengecewakan. Berbagai gelar juara sudah diraih, berpuluh medali berhasil dibawa pulang.<\/p>\n<p>\u200eSatu lagi, dia juga meyakini kemampuan <em>soft skill<\/em> (ekstrakurikuler) sama bergengsinya dengan kemampuan <em>hard skill<\/em> (mata pelajaran). Menurutnya, kedua kemampuan tersebut sama-sama akan membuka jalan kesuksesan jika ditekuni dan dilaksanakan dengan serius, ikhlas dan hati gembira.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Jalani hidup dengan jujur dan disiplin serta jangan lupa berdoa kepada Tuhan. Satu hal yang paling penting, sayangi kedua orang tua, terutama ibu maka Insya Allah kita akan sukses,&#8221; ucapnya prihal motto hidup yang selalu dia pegang erat.<\/p>\n<p>\u200e\u200eSehat selalu Sang Pengabdi, dunia pendidikan kita membutuhkan sosok bersahaja yang berkomitmen membangun jalan peradaban menuju kemajuan melalui gagasan dan kerja keras yang kelak akan melahirkan generasi gemilang demi Indonesia yang bermartabat dan berdaulat. Pendidikan Maju, Indonesia Unggul.<\/p>\n<p><em><strong>Penulis: Anton Kurniawan<\/strong><\/em><\/p>\n<p><em>Catatan: * sejak zaman dahulu (bahasa daerah Lampung)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>lampungbarometer.id &#8211; \u200ePagi berkabut di Rabu pertengahan April 2025 itu disapa rintik hujan sejak menjelang subuh. Langit di atas Kota Liwa, sebuah kota kecil yang berhawa dingin di lereng Gunung Pesagi Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, terlihat pucat dibalut mendung putih. Meski begitu, aktivitas masyarakat di kota kecil itu tidak terganggu, semua berjalan seperti biasa; siswa-siswi berangkat ke sekolah, petani menuju kebun, para pedagang menjajakan dagangan di pasar. Semua aktivitas berjalan normal, sebab bagi mereka hujan, dingin cuaca, dan kabut adalah anugerah yang *jak jaman tumbai jadi sahabat karib. \u200ePagi itu, di salah satu sudut Kota Liwa, tepatnya di Kawasan Sekuting Terpadu, Jl. Lintas Liwa Kecamatan Balik Bukit, tampak kesibukan luar biasa. Ribuan siswa dan ratusan kendaraan bergerak menuju Gedung Olah Raga (GOR) Aji Saka yang berada di lokasi tersebut\u00a0 untuk menghadiri Acara Perpisahan Siswa Siswi Kelas XII SMAN 1 Liwa 2024\/2025. \u200eDi dalam gedung tampak para siswa berseragam rapi dan tamu undangan dari berbagai daerah memenuhi GOR Aji Saka yang disulap menjadi ruangan VIP kelas hotel dengan dekorasi ciamik, dilengkapi pendingin ruangan dan tata cahaya lampu serta videotron berukuran besar yang menyajikan berbagai kegiatan dan prestasi siswa, mengesankan acara perpisahan yang mewah dan berkelas. Deretan tamu undangan yang hadir [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":50108,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,11],"tags":[],"class_list":["post-50107","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apresiasi-dan-inspirasi","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50107","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50107"}],"version-history":[{"count":13,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50107\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50123,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50107\/revisions\/50123"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50108"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50107"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50107"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50107"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}