{"id":50089,"date":"2025-04-17T08:28:52","date_gmt":"2025-04-17T01:28:52","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=50089"},"modified":"2025-04-17T08:28:52","modified_gmt":"2025-04-17T01:28:52","slug":"laskar-hijau-gelar-doa-bersama-lintas-iman-untuk-pelestarian-lingkungan-di-gunung-lemongan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/04\/17\/laskar-hijau-gelar-doa-bersama-lintas-iman-untuk-pelestarian-lingkungan-di-gunung-lemongan\/","title":{"rendered":"\u200eLaskar Hijau Gelar Doa Bersama Lintas Iman Untuk Pelestarian Lingkungan di Gunung Lemongan"},"content":{"rendered":"<p><strong>Lumajang (LB)<\/strong>: Dalam rangka Penutupan Musim Tanam 2025, Laskar Hijau menyelenggarakan Doa Bersama Lintas Iman di lereng Gunung Lemongan, Klakah, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (16\/04\/2025).<\/p>\n<p>\u200eSebagaimana biasa sejak 2008, setiap tahun Laskar Hijau memulai penanaman di musim hujan pada kisaran Oktober dan mengakhiri musim tanam saat menjelang kemarau di kisaran April.<\/p>\n<p>\u200ePendiri Laskar Hijau, A&#8217;ak Abdullah Al-Kudus menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk melangitkan doa kepada Tuhan agar pohon-pohon yang ditanam para relawan Laskar Hijau di Gunung Lemongan dapat tumbuh subur dan bisa memberikan manfaat kepada hidup dan kehidupan. Selain itu, doa bersama ini juga bertujuan memohon keselamatan untuk Indonesia dari bencana alam, serta dari pemimpin yang zalim dan korup.<\/p>\n<p>\u200eAlasan kenapa memilih Doa Bersama Lintas Iman ini, karena bagi Laskar Hijau ini adalah bagian dari spiritual ekologi, dimana semua agama memiliki ajaran untuk mencintai dan menjaga lingkungan. Dan seyogyanya semua umat beragama mematuhi ajaran agamanya masing-masing untuk menjaga bumi dari kerusakan.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Ketika negara gagal menjaga lingkungan maka agama harus mengambil alih karena agama adalah kompas moral, bukan pendulum kekuasaan,&#8221; tegas Gus A&#8217;ak.<\/p>\n<div id=\"attachment_50091\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-50091\" class=\"wp-image-50091 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG-20250416-WA0245.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"900\" srcset=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG-20250416-WA0245.jpg 1200w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG-20250416-WA0245-320x240.jpg 320w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG-20250416-WA0245-600x450.jpg 600w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG-20250416-WA0245-80x60.jpg 80w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><p id=\"caption-attachment-50091\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>DOA BERSAMA LINTAS IMAN.<\/strong> Tokoh lintas iman melakukan doa bersama di lereng Gunung Lemongan untuk menjaga kelestarian lingkungan, Rabu (16\/4\/2025).<\/em><\/p><\/div>\n<p>\u200eHadir dalam kegiatan doa bersama lintas iman tersebut para pemuka-pemuka agama, di antaranya KH. Muhammad Suhari (Islam), Y.M. Dharma Maitri Mahathera (Buddha), Pdt. Jackson Markus Siahaan, S.Th. (Kristen), Rm. Yohanes Wahyu Prasetyo dan Rm. Bryan Pr. (Katholik), Dalang Astono (Hindu), Jaka Dewa Purnama (Kejawen), K. Digdoyo (Masyarakat Adat Nusantara). Meskipun kegiatan ini sangat sederhana, para pemuka agama ini secara bergantian memanjatkan doa dengan khusyu dan penuh khidmat.<\/p>\n<p>\u200eSebelum melakukan doa bersama, para pemuka agama ini berdiskusi tentang pentingnya peran agama mengajak masyarakat dan pemerintah peduli terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan. Semua yang hadir sepakat tidak ada perbedaan dari masing-masing agama tentang pelestarian lingkungan dan berharap bisa berkolaborasi untuk melakukan gerakan peduli lingkungan serta meminta Laskar Hijau menjadi hostnya.<\/p>\n<p>\u200eSetelah melantunkan doa, para pemuka agama ini secara bersama-sama melakukan ikrar untuk bersama-sama menjaga bumi.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Kami berjanji untuk bersama-sama menjaga bumi,&#8221; demikian ikrar yang mereka ucapkan secara bersama.<\/p>\n<p>\u200eKegiatan ditutup dengan menanam pohon di lereng Gunung Lemongan sebagai simbol kerukunan umat beragama dan simbol kepedulian mereka terhadap pelestarian lingkungan.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Indonesia selayaknya menjadi contoh perdamaian dan pelestarian alam bagi dunia,&#8221; ucap Gus A&#8217;ak. (*\/waja)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lumajang (LB): Dalam rangka Penutupan Musim Tanam 2025, Laskar Hijau menyelenggarakan Doa Bersama Lintas Iman di lereng Gunung Lemongan, Klakah, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (16\/04\/2025). \u200eSebagaimana biasa sejak 2008, setiap tahun Laskar Hijau memulai penanaman di musim hujan pada kisaran Oktober dan mengakhiri musim tanam saat menjelang kemarau di kisaran April. \u200ePendiri Laskar Hijau, A&#8217;ak Abdullah Al-Kudus menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk melangitkan doa kepada Tuhan agar pohon-pohon yang ditanam para relawan Laskar Hijau di Gunung Lemongan dapat tumbuh subur dan bisa memberikan manfaat kepada hidup dan kehidupan. Selain itu, doa bersama ini juga bertujuan memohon keselamatan untuk Indonesia dari bencana alam, serta dari pemimpin yang zalim dan korup. \u200eAlasan kenapa memilih Doa Bersama Lintas Iman ini, karena bagi Laskar Hijau ini adalah bagian dari spiritual ekologi, dimana semua agama memiliki ajaran untuk mencintai dan menjaga lingkungan. Dan seyogyanya semua umat beragama mematuhi ajaran agamanya masing-masing untuk menjaga bumi dari kerusakan. \u200e&#8221;Ketika negara gagal menjaga lingkungan maka agama harus mengambil alih karena agama adalah kompas moral, bukan pendulum kekuasaan,&#8221; tegas Gus A&#8217;ak. \u200eHadir dalam kegiatan doa bersama lintas iman tersebut para pemuka-pemuka agama, di antaranya KH. Muhammad Suhari (Islam), Y.M. Dharma Maitri Mahathera (Buddha), Pdt. Jackson Markus Siahaan, S.Th. (Kristen), [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":50090,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[406],"tags":[],"class_list":["post-50089","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50089","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50089"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50089\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50092,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50089\/revisions\/50092"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50090"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50089"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50089"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50089"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}