{"id":49731,"date":"2025-03-17T23:38:25","date_gmt":"2025-03-17T16:38:25","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=49731"},"modified":"2025-03-17T23:41:10","modified_gmt":"2025-03-17T16:41:10","slug":"menembus-batas-panggung-pertunjukan-teater-rooftop-pertama-di-gresik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/03\/17\/menembus-batas-panggung-pertunjukan-teater-rooftop-pertama-di-gresik\/","title":{"rendered":"\u200eMenembus Batas Panggung: Pertunjukan Teater Rooftop Pertama di Gresik"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\">\u200e<strong>KETIKA<\/strong> kita membayangkan sebuah pertunjukan teater, barangkali yang pertama terlintas dalam benak kita adalah panggung yang megah, pencahayaan dramatis, serta aktor-aktor yang tampil dengan penuh penghayatan di depan penonton yang duduk rapi dalam auditorium tertutup.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eTeater telah lama identik dengan ruang yang memberi jarak interaksi antara pemain dan penonton, di mana keduanya dipisahkan oleh batas panggung dan kursi. Namun, bagaimana jadinya jika batasan itu dihilangkan? Jika sebuah pertunjukan teater tidak lagi dibatasi oleh ruang panggung, melainkan dipentaskan di tempat yang terbuka, di bawah langit luas dengan pemandangan malam kota yang terbentang?<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eSesuatu yang berbeda ini dihadirkan Kendati Chaos, kelompok yang menampilkan teater dalam rangkaian program pameran &#8220;The Jumping City&#8221; yang diselenggarahkan Yayasan Gang Sebelah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eSebuah pengalaman berbeda bagi pecinta seni pertunjukan, yakni menonton teater di atas sebuah rooftop bangunan tua berusia lebih dari 120 tahun, milik Sualoka.Hub yang berada di Kampung Kemasan. Rooftop yang umumnya dikenal sebagai tempat bersantai, menikmati pemandangan kota, atau bahkan sekadar melepas penat, pada Minggu malam (16\/3) disulap menjadi panggung hidup yang menghadirkan cerita, emosi, dan eksplorasi artistik yang unik.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eUntuk pertama kalinya di Gresik, sebuah pertunjukan teater digelar di atas rooftop, menghadirkan sensasi baru dalam menikmati seni pertunjukan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eDalam kesempatan ini, kelompok teater Kendati Chaos, yang disutradarai Choiruz Zaman, menampilkan naskah berjudul &#8220;Aku Ingin Menyebut Laut dengan Huruf Kapital di Depannya&#8221;, sebuah naskah karya Shohifur Ridho\u2019i. Pertunjukan ini merupakan sebuah eksplorasi tentang ingatan, laut, dan kehidupan yang terus bergulir di tengah\u00a0kegelisahan. Membicarakan laut yang tinggal ingatan\u2014laut yang lungkrah, tak lagi asin, hanya pahit.<\/p>\n<div id=\"attachment_49732\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-49732\" class=\"wp-image-49732 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/IMG-20250317-WA0357.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"675\" \/><p id=\"caption-attachment-49732\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>PENONTON<\/strong> terlihat menyaksikan dengan antusias dan menikmati sebuah pertunjukan teater yang digelar di rooftop di Kampung Kemasan Gresik, Jawa Timur.<\/em><\/p><\/div>\n<p dir=\"ltr\">\u200ePertunjukan ini juga menghadirkan pendekatan yang unik dalam penempatan penonton duduk di kursi\u2014layaknya cafe atau warung kopi\u2014yang berada di tengah, sementara para aktor-aktornya bergerak dan beraksi mengelilingi mereka. Seperti Damar kurung, cerita yang membingkai cahaya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eDengan konsep ini, pertunjukan seperti membongkar batas antara pemain dan penonton, menciptakan pengalaman yang lebih dekat dan intim. Setiap ekspresi wajah, gerakan tubuh, hingga perubahan nada suara para aktor dapat dirasakan lebih intens oleh penonton, seolah-olah mereka bukan hanya menyaksikan, tetapi juga menjadi bagian dari cerita yang sedang berlangsung.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eSatu hal lagi yang menarik, penonton melihat gambar yang disorot ke arah atap rumah tua yang ada di dalam Kampung Kemasan, sambil menikmati pemandangan pabrik-pabrik kota industri di malam hari.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eDitambah lagi, pertunjukan tetap berlangsung\u2014setelah ditunda beberapa jam\u2014meskipun hujan mengguyur Gresik. Penonton bersedia menyaksikan pementasan teater dengan menggunakan jas hujan yang disediakan panitia, bertahan lebih dari tiga puluh menit dengan tenang. Seperti ada rasa saling percaya antara pemain dan penonton. Atau pertunjukan ini menjadi sesuatu yang penting dan sayang sekali jika dilewatkan. Maka, meskipun dalam keadaan basah, pementasan teater tetap berlangsung khusuk.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eSetelah pertunjukan teater usai, acara dilanjutkan sesi diskusi. Diskusi diawali dengan pertanyaan kepada sutradara mengenai gagasan yang ingin disampaikan kepada penonton melalui pertunjukan ini. Choiruz Zaman menuturkan, teater ini merupakan refleksi dari realitas di Gresik serta aktivitas yang kita jalani sehari-hari.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200ePertunjukan ini pun mendapat respons baik dari penonton. \u201cDari pertunjukan ini saya merasakan adanya luapan emosi seperti amarah dan kekecewaan, serta menangkap gambaran hiruk-pikuk kehidupan di Gresik yang tergambarkan dalam pementasan. Hal ini dianggap sebagai bentuk kritik tersirat terhadap kondisi lingkungan, khususnya terkait alam dan laut di kota ini,\u201d ujar Harry Koko Priutama.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200ePara aktor pun mengungkapkan pendapat mereka tentang apa yang mereka rasakan saat berperan, ada yang merasa sangat relate dangan apa yang ia rasakan di Gresik ini dan ada yang merasa pertunjukan ini mencerminkan kondisi Gresik yang penuh dengan polusi dan suhu yang panas, sehingga mereka merasa sangat terhubung dengan cerita yang disampaikan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eMelalui pertunjukan ini, Yayasan Gang Sebelah tidak hanya mendistribusikan hiburan semata, tetapi juga sebuah tawaran ruang yang membuka kemungkinan baru dalam seni pertunjukan di Indonesia. Teater di atas rooftop bukan hanya tentang lokasi yang tidak biasa, tetapi juga tentang bagaimana ruang dapat mempengaruhi pengalaman, makna, dan resonansi sebuah cerita.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u200eAcara ini berlangsung pada 16 Maret 2025, di rooftop Sualoka.Hub, yang berlokasi di Jl. Nyai Ageng Arem-Arem Gg. II No. 20, Kampung Kemasan, Gresik. (**)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eKETIKA kita membayangkan sebuah pertunjukan teater, barangkali yang pertama terlintas dalam benak kita adalah panggung yang megah, pencahayaan dramatis, serta aktor-aktor yang tampil dengan penuh penghayatan di depan penonton yang duduk rapi dalam auditorium tertutup. \u200eTeater telah lama identik dengan ruang yang memberi jarak interaksi antara pemain dan penonton, di mana keduanya dipisahkan oleh batas panggung dan kursi. Namun, bagaimana jadinya jika batasan itu dihilangkan? Jika sebuah pertunjukan teater tidak lagi dibatasi oleh ruang panggung, melainkan dipentaskan di tempat yang terbuka, di bawah langit luas dengan pemandangan malam kota yang terbentang? \u200eSesuatu yang berbeda ini dihadirkan Kendati Chaos, kelompok yang menampilkan teater dalam rangkaian program pameran &#8220;The Jumping City&#8221; yang diselenggarahkan Yayasan Gang Sebelah. \u200eSebuah pengalaman berbeda bagi pecinta seni pertunjukan, yakni menonton teater di atas sebuah rooftop bangunan tua berusia lebih dari 120 tahun, milik Sualoka.Hub yang berada di Kampung Kemasan. Rooftop yang umumnya dikenal sebagai tempat bersantai, menikmati pemandangan kota, atau bahkan sekadar melepas penat, pada Minggu malam (16\/3) disulap menjadi panggung hidup yang menghadirkan cerita, emosi, dan eksplorasi artistik yang unik. \u200eUntuk pertama kalinya di Gresik, sebuah pertunjukan teater digelar di atas rooftop, menghadirkan sensasi baru dalam menikmati seni pertunjukan. \u200eDalam kesempatan ini, kelompok teater Kendati Chaos, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":49733,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-49731","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49731","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=49731"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49731\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":49735,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49731\/revisions\/49735"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/49733"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=49731"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=49731"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=49731"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}