{"id":48150,"date":"2024-12-03T20:12:41","date_gmt":"2024-12-03T13:12:41","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=48150"},"modified":"2024-12-03T20:24:47","modified_gmt":"2024-12-03T13:24:47","slug":"keren-gen-z-luncurkan-gerakan-sahabat-pohon-demi-selamatkan-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2024\/12\/03\/keren-gen-z-luncurkan-gerakan-sahabat-pohon-demi-selamatkan-lingkungan\/","title":{"rendered":"Keren, Gen Z Luncurkan Gerakan Sahabat Pohon demi Selamatkan Lingkungan"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><strong>Lumajang (LB)<\/strong>: Sekelompok Gen Z meluncurkan Gerakan Peduli Lingkungan bernama Sahabat Pohon di Posko Konservasi Laskar Hijau, Gunung Lemongan, Klakah, Lumajang, Jawa Timur, Senin (1\/12\/2024)<\/p><\/blockquote>\n<p>Gerakan yang difasilitasi GUSDURian Peduli ini diinisiasi anak-anak usia 12-19 tahun di Yogyakarta dengan tujuan mengampanyekan cinta lingkungan bagi anak-anak muda di Indonesia.<\/p>\n<p>Bagi \u201cSahabat Pohon\u201d peduli lingkungan bisa dimulai dengan mencintai pohon karena pohon bukanlah benda mati, tapi ia adalah makhluk hidup yang selama ini memproduksi oksigen yang setiap detik kita hirup. Pohon pula yang menyimpan air yang setiap hari kita minum. Maka bagi \u201cSahabat Pohon\u201d merawat pohon sama dengan merawat kehidupan.<\/p>\n<p>Wakil Direktur GUSDURian Peduli, Yuska Harimurti Pribadi, mengatakan salah satu concern GUSDURian Peduli adalah mitigasi krisis iklim. Oleh karena itu, GUSDURian Peduli mendukung dan memfasilitasi berdirinya \u201cSahabat Pohon\u201d ini.<\/p>\n<p>\u201cKami bukanlah \u201cibu kandung\u201d dari \u201cSahabat Pohon\u201d ini, kami hanyalah \u201cbidan\u201d yang membantu proses kelahirannya saja,\u201d tegas Yuska.<\/p>\n<div id=\"attachment_48152\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-48152\" class=\"wp-image-48152 size-full\" src=\"https:\/\/tv1.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/IMG-20241202-WA0215.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"540\" \/><p id=\"caption-attachment-48152\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>FOTO BERSAMA<\/strong>. Gen Z Sahabat Pohon foto bersama di lokasi penanaman pohon Gunung Lemongan, Kediri, Jawa Timur, Senin (1\/12\/2024).<\/em><\/p><\/div>\n<p>Direktur GUSDURian Peduli, A\u2019ak Abdullah Al-Kudus yang sekaligus pendiri Laskar Hijau menambahkan, dirinya merasa generasinya (Gen X) gagal menjaga bumi. Terbukti perusakan hutan saat ini tetap massif, dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan juga rendah.<\/p>\n<p>&#8220;Oleh karena itu, kelahiran Sahabat Pohon yang dimotori Gen Z ini memberi harapan baru bagi kelangsungan bumi di masa depan,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Koordinator Sahabat Pohon Clara Ruel Eugene (14) mengatakan dia dan kawan-kawannya memiliki kegelisahan yang sama terhadap masalah lingkungan saat ini.<\/p>\n<p>&#8220;Krisis iklim sudah nyata terjadi, dan generasi kami adalah korbannya. Saat kemarau, kekeringan di mana-mana. Dan saat musim hujan, banjir dan longsor menjadi berita sehari-hari. Kondisi itulah yang membuat kami menggagas gerakan \u201cSahabat Pohon\u201d ini. Karena kami tidak mau diwarisi bumi yang rusak,\u201d tegas Ruel.<\/p>\n<div id=\"attachment_48155\" style=\"width: 852px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-48155\" class=\"wp-image-48155 size-full\" src=\"https:\/\/tv1.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/IMG-20241202-WA02031_1.jpg\" alt=\"\" width=\"842\" height=\"735\" \/><p id=\"caption-attachment-48155\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>DISKUSI<\/strong>. Para Gen Z Sahabat Pohon bertukar wawasan sebelum penanaman pohon dimulai.<\/em><\/p><\/div>\n<p>Salah satu aktivis Sahabat Pohon, Kinaryusi Meida Laksono (14), menerangkan kalau ada orang bisa mencintai kucing atau anjing, harusnya mereka juga bisa mencintai pohon. Nantinya, ujar Kinar, siapapun yang akan bergabung dengan Sahabat Pohon harus punya sahabat sebatang pohon yang diberi nama dan dirawat setiap hari. Boleh pohon yang ada di halaman rumah, di halaman sekolah, di pinggir jalan atau di hutan. Jumlah pohon yang dijadikan sahabatnya pun tidak dibatasi, semakin banyak semakin baik.<\/p>\n<p>&#8220;Dan untuk itu, kami akan terus mengajak anak-anak muda di negeri ini untuk mencintai pohon melalui berbagai media yang ada. Saat ini kami menggunakan Instagram untuk mengkampanyekan Gerakan Sahabat Pohon tersebut melalui akun @sahabatpohon.ofc. Nantinya kami juga akan mengadakan kegiatan penanaman pohon bersama di beberapa daerah di Indonesia,&#8221; kata Kinar.<\/p>\n<p>Saat ini Sahabat Pohon selain ada di Yogyakarta, juga sudah ada di Pare, Kediri, dan di Lumajang, Jawa Timur. Para aktivis yang masih sekolah di tingkat SLTP dan SLTA ini bertekad mengembangkan komunitas Sahabat Pohon ini di berbagai wilayah di Indonesia.<\/p>\n<p>Kegiatan peluncuran Sahabat Pohon ini diakhiri dengan penanaman 100 batang Bambu Petung (Dendracalamus Asper) di kawasan hutan lindung Gunung Lemongan, tepatnya di daerah Watu Silang. Proses penanaman dipandu langsung relawan Laskar Hijau yang sudah sejak Oktober lalu melakukan penanaman bambu di kawasan ini.<\/p>\n<div id=\"attachment_48156\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-48156\" class=\"wp-image-48156 size-full\" src=\"https:\/\/tv1.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/IMG-20241202-WA0214.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"675\" \/><p id=\"caption-attachment-48156\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>TANAM BAMBU<\/strong>. Sahabat Pohon menanam Bambu Petung di Gunung Lemongan, Klakah, Kediri, Jawa Timur untuk menjaga lingkungan tetap hijau.<\/em><\/p><\/div>\n<p>Latu Clorot Obor (14) mengaku senang mengikuti kegiatan penanaman Bambu Petung di Gunung Lemongan ini. Baginya, ini pengalaman pertama menanam di gunung, dan perjalanan dari Yogyakarta ke Lumajang ini adalah perjalanan darat terjauh pertama dalam hidupnya.<\/p>\n<p>Senada dengan Latu, Sahabat Pohon dari Lumajang, Fitri Dwi Agustin mengaku senang bisa bergabung dengan Gerakan Sahabat Pohon. Selain bisa belajar bersama tentang pentingnya menjaga alam, kegiatan pelestarian lingkungan lebih asyik daripada mabar di rumah atau di tempat tongkrongan pada umumnya. (waja)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lumajang (LB): Sekelompok Gen Z meluncurkan Gerakan Peduli Lingkungan bernama Sahabat Pohon di Posko Konservasi Laskar Hijau, Gunung Lemongan, Klakah, Lumajang, Jawa Timur, Senin (1\/12\/2024) Gerakan yang difasilitasi GUSDURian Peduli ini diinisiasi anak-anak usia 12-19 tahun di Yogyakarta dengan tujuan mengampanyekan cinta lingkungan bagi anak-anak muda di Indonesia. Bagi \u201cSahabat Pohon\u201d peduli lingkungan bisa dimulai dengan mencintai pohon karena pohon bukanlah benda mati, tapi ia adalah makhluk hidup yang selama ini memproduksi oksigen yang setiap detik kita hirup. Pohon pula yang menyimpan air yang setiap hari kita minum. Maka bagi \u201cSahabat Pohon\u201d merawat pohon sama dengan merawat kehidupan. Wakil Direktur GUSDURian Peduli, Yuska Harimurti Pribadi, mengatakan salah satu concern GUSDURian Peduli adalah mitigasi krisis iklim. Oleh karena itu, GUSDURian Peduli mendukung dan memfasilitasi berdirinya \u201cSahabat Pohon\u201d ini. \u201cKami bukanlah \u201cibu kandung\u201d dari \u201cSahabat Pohon\u201d ini, kami hanyalah \u201cbidan\u201d yang membantu proses kelahirannya saja,\u201d tegas Yuska. Direktur GUSDURian Peduli, A\u2019ak Abdullah Al-Kudus yang sekaligus pendiri Laskar Hijau menambahkan, dirinya merasa generasinya (Gen X) gagal menjaga bumi. Terbukti perusakan hutan saat ini tetap massif, dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan juga rendah. &#8220;Oleh karena itu, kelahiran Sahabat Pohon yang dimotori Gen Z ini memberi harapan baru bagi kelangsungan bumi di masa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":48151,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16,1196],"tags":[],"class_list":["post-48150","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","category-barometer-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48150","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48150"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48150\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48157,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48150\/revisions\/48157"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48151"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48150"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48150"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48150"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}