{"id":46306,"date":"2024-08-17T19:47:57","date_gmt":"2024-08-17T12:47:57","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=46306"},"modified":"2024-09-05T09:49:37","modified_gmt":"2024-09-05T02:49:37","slug":"unila-pecahkan-rekor-muri-perguruan-tinggi-tuangkan-eco-enzyme-terbanyak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2024\/08\/17\/unila-pecahkan-rekor-muri-perguruan-tinggi-tuangkan-eco-enzyme-terbanyak\/","title":{"rendered":"Unila Pecahkan Rekor MURI Perguruan Tinggi Tuangkan Eco-Enzyme Terbanyak"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Universitas Lampung (Unila) kembali mengukir prestasi pecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada acara Festival\u00a0Eco-Enzyme\u00a02024.<\/p><\/blockquote>\n<p>Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (17\/8\/2024) ini merupakan inisiasi UI\u00a0GreenMetric\u00a0dan diikuti serentak bersama 44 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.<\/p>\n<p>Unila berada di urutan keempat nasional, setelah Universitas Indonesia, Syiah Kuala, dan Maritim Raja Ali Haji, dalam kesempatan menuangkan cairan\u00a0Eco-Enzym\u00a0di Embung B Unila.<\/p>\n<p>Acara ini dihadiri Rektor Prof. Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A, IPM., ASEAN Eng., para wakil rektor, para dekan, para ketua lembaga, para kepala biro, dan mahasiswa Teknik Sipil dan Teknologi Hasil Pertanian (THP).<\/p>\n<p>Prof. Lusmeilia mengucapkan terima kasih kepada UI\u00a0GreenMetric\u00a0yang telah bersedia dan mengajak Unila ikut andil pada momen langka ini.<\/p>\n<p>Menurut Rektor, pemeringkatan GreenMetric merupakan salah satu tolok ukur penting dalam meningkatkan kualitas kampus dari sisi non-akademik, terutama di era penuh konsep pelestarian ini.<\/p>\n<p>\u201cHarapannya kegiatan ini bisa memacu inisiatif atau ide serupa yang mampu menonjolkan keunggulan Unila di bidang pelestarian dan lingkungan hijau,\u201d ungkap Rektor.<\/p>\n<p>Eco-Enzyme\u00a0yang disebar di Embung B Unila ini diproduksi menggunakan bahan baku ramah lingkungan, seperti limbah kulit buah-buahan, oleh Dosen Mikrobiologi Lingkungan Unila Dr. Dewi Sartika, STP., M.Si., bersama mahasiswa THP.<\/p>\n<p>Penuangan Eco-Enzyme dilakukan dengan serentak jajaran pimpinan, mahasiswa fakultas teknik dan pertanian, serta staf Unila. (uni)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Universitas Lampung (Unila) kembali mengukir prestasi pecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada acara Festival\u00a0Eco-Enzyme\u00a02024. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (17\/8\/2024) ini merupakan inisiasi UI\u00a0GreenMetric\u00a0dan diikuti serentak bersama 44 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Unila berada di urutan keempat nasional, setelah Universitas Indonesia, Syiah Kuala, dan Maritim Raja Ali Haji, dalam kesempatan menuangkan cairan\u00a0Eco-Enzym\u00a0di Embung B Unila. Acara ini dihadiri Rektor Prof. Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A, IPM., ASEAN Eng., para wakil rektor, para dekan, para ketua lembaga, para kepala biro, dan mahasiswa Teknik Sipil dan Teknologi Hasil Pertanian (THP). Prof. Lusmeilia mengucapkan terima kasih kepada UI\u00a0GreenMetric\u00a0yang telah bersedia dan mengajak Unila ikut andil pada momen langka ini. Menurut Rektor, pemeringkatan GreenMetric merupakan salah satu tolok ukur penting dalam meningkatkan kualitas kampus dari sisi non-akademik, terutama di era penuh konsep pelestarian ini. \u201cHarapannya kegiatan ini bisa memacu inisiatif atau ide serupa yang mampu menonjolkan keunggulan Unila di bidang pelestarian dan lingkungan hijau,\u201d ungkap Rektor. Eco-Enzyme\u00a0yang disebar di Embung B Unila ini diproduksi menggunakan bahan baku ramah lingkungan, seperti limbah kulit buah-buahan, oleh Dosen Mikrobiologi Lingkungan Unila Dr. Dewi Sartika, STP., M.Si., bersama mahasiswa THP. Penuangan Eco-Enzyme dilakukan dengan serentak jajaran pimpinan, mahasiswa fakultas teknik dan pertanian, serta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":46307,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1194],"tags":[],"class_list":["post-46306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info-unila"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46306"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46306\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":46308,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46306\/revisions\/46308"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46307"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}