{"id":44001,"date":"2024-05-05T10:07:18","date_gmt":"2024-05-05T03:07:18","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=44001"},"modified":"2024-05-05T10:19:57","modified_gmt":"2024-05-05T03:19:57","slug":"ngeri-astrazeneca-akui-vaksinnya-bisa-timbulkan-efek-pembekuan-darah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2024\/05\/05\/ngeri-astrazeneca-akui-vaksinnya-bisa-timbulkan-efek-pembekuan-darah\/","title":{"rendered":"Ngeri, AstraZeneca Akui Vaksinnya Bisa Timbulkan Efek Pembekuan Darah"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><strong>LAMPUNGBAROMETER.ID<\/strong> &#8211; Perusahaan farmasi raksasa AstraZeneca digugat atas klaim vaksin yang dikembangkan bersama Universitas Oxford, dalam puluhan kasus, menyebabkan pembekuan darah hingga kematian.<\/p><\/blockquote>\n<p>Sebanyak 51 kasus telah diajukan ke pengadilan di Inggris. Para korban dan keluarga yang berduka meminta ganti rugi yang diperkirakan bernilai hingga \u00a3100 juta.<\/p>\n<p>Dikutip dari <em>The Telegraph<\/em>, Minggu (5\/5\/2024), kasus pertama diajukan tahun lalu\u00a0oleh Jamie Scott, ayah dua anak, yang mengalami cedera otak permanen setelah mengalami pembekuan darah dan pendarahan di otak yang membuatnya tidak bisa bekerja setelah menerima vaksin pada April 2021.<\/p>\n<p>AstraZeneca\u00a0sempat menggugat klaim tersebut, tapi dalam dokumen yang diserahkan ke pengadilan pada Februari tahun ini, AstraZeneca mengakui meskipun sangat jarang terjadi vaksin Covid-nya \u201cdapat menyebabkan <em>Thrombosis with Thrombocytopenia Syndrome<\/em> (TTS), yakni pembekuan darah dan jumlah trombosit darah yang rendah.<\/p>\n<p>Dalam surat tanggapan yang dikirimkan pada Mei 2023, AstraZeneca mengatakan kepada pengacara Scott \u201cKami tidak menerima bahwa TTS disebabkan oleh vaksin pada tingkat generik.\u201d<\/p>\n<p>Namun dalam dokumen hukum yang diserahkan ke Pengadilan Tinggi pada bulan Februari, AstraZeneca menyatakan: \u201cDiakui vaksin AZ, dalam kasus yang sangat jarang, dapat menyebabkan TTS. Mekanisme penyebabnya tidak diketahui.<\/p>\n<p>Para ilmuwan pertama kali mengidentifikasi hubungan antara vaksin dan penyakit baru yang disebut trombositopenia dan trombosis imun yang diinduksi vaksin (VITT) pada awal Maret 2021, tak lama setelah peluncuran vaksin Covid-19 dimulai. Pengacara penggugat berpendapat VITT bagian dari TTS, meskipun AstraZeneca tidak mengakui istilah tersebut.<\/p>\n<p>Pengacara Scott berargumentasi kliennya menderita \u201ccedera pribadi dan kerugian yang diakibatkan oleh vaksin yang ia gunakan untuk menginduksi trombosis imun dengan trombositopenia (VITT) sebagai akibat dari vaksinasi yang dilakukannya pada 23 April 2021, dengan vaksinasi AstraZeneca Covid-19\u201d.<\/p>\n<p>Seperti ditulis <em>The Telegraph<\/em>, istri Scott, Kate, mengatakan \u201cDunia medis telah lama mengakui VITT disebabkan oleh vaksin. Hanya AstraZeneca yang mempertanyakan apakah kondisi Jamie disebabkan oleh suntikan tersebut.<\/p>\n<p>Kate juga mengatakan dibutuhkan waktu tiga tahun hingga AstraZeneca mengakui hal ini. Dia berharap pengakuan tersebut bisa membuat masalah ini segera diselesaikan.<\/p>\n<div id=\"attachment_44002\" style=\"width: 970px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-44002\" class=\"wp-image-44002 size-full\" src=\"https:\/\/tv1.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/TELEMMGLPICT000275081370_17143237379770_trans_NvBQzQNjv4BqRo0U4xU-30oDveS4pXV-Vv4Xpit_DMGvdp2n7FDd82k.webp\" alt=\"\" width=\"960\" height=\"602\" srcset=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/TELEMMGLPICT000275081370_17143237379770_trans_NvBQzQNjv4BqRo0U4xU-30oDveS4pXV-Vv4Xpit_DMGvdp2n7FDd82k.webp 960w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/TELEMMGLPICT000275081370_17143237379770_trans_NvBQzQNjv4BqRo0U4xU-30oDveS4pXV-Vv4Xpit_DMGvdp2n7FDd82k-350x220.webp 350w\" sizes=\"auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/><p id=\"caption-attachment-44002\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>LABORATORIUM<\/strong> Oxford Biomedica, tempat vaksin AstraZeneca Covid diproduksi pada 2021. Foto: dok. The Telegraph.<\/em><\/p><\/div>\n<p>\u201cSaya berharap pengakuan mereka berarti kita bisa menyelesaikan masalah ini lebih cepat. Kami membutuhkan permintaan maaf, kompensasi yang adil untuk keluarga kami dan keluarga lain yang terkena dampak. Kami memiliki kebenaran dan kami tidak akan menyerah,&#8221; ucap Kate, seperti ditulis <em>The Telegraph.<\/em><\/p>\n<p>Para korban menggugat perusahaan obat yang berbasis di Cambridge tersebut berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen tahun 1987 karena vaksin tersebut dianggap tidak seaman yang diharapkan.<\/p>\n<p>AstraZeneca merupakan perusahaan publik terbesar kedua di Inggris, dengan kapitalisasi pasar lebih dari \u00a3170 miliar. Kepala eksekutifnya, Sir Pascal Soriot, adalah bos dengan bayaran tertinggi di antara perusahaan FTSE 100, dengan pendapatan mendekati \u00a319 juta.<\/p>\n<p>Diketahui, di Indonesia juga banyak menggunakan vaksin ini saat merebaknya Covid-19, bahkan vaksin ini sempat menjadi salah satu vaksin yang dianggap kualitasnya paling bagus.<\/p>\n<p>Sesuai identifikasi yang dilakukan, para ilmuwan menyarankan mereka yang berusia di bawah 40 tahun\u00a0diberi suntikan alternatif karena risiko vaksin AstraZeneca lebih besar daripada dampak buruk yang ditimbulkan Covid-19.<\/p>\n<p>Sementara itu angka resmi Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan (MHRA) menunjukkan setidaknya 81 kematian di Inggris diduga terkait dengan reaksi merugikan yang menyebabkan pembekuan darah pada orang yang juga memiliki trombosit darah rendah. Menurut angka MHRA, total hampir satu dari lima orang yang menderita penyakit ini meninggal akibat penyakit tersebut.<\/p>\n<p>Berkaitan dengan gugatan para korban, pemerintah menjalankan skema kompensasi vaksinnya sendiri, tapi para korban menyatakan pembayaran satu kali \u00a3120.000 tidaklah cukup. Skema pembayaran memberikan kompensasi kepada mereka yang terluka akibat vaksin atau keluarga terdekat yang kehilangan.<\/p>\n<p>Berdasarkan pada permintaan kebebasan informasi, menunjukkan dari 163 pembayaran yang dilakukan Pemerintah pada Februari tahun ini, setidaknya 158 diberikan kepada penerima vaksin AstraZeneca. (**)<\/p>\n<p><strong><em>Informasi sudah tayang di The Telegraph dengan judul &#8220;AstraZeneca Admits its Covid Vaccine Can Cause Rare Side Effect in Court Documents For First Time&#8221;.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LAMPUNGBAROMETER.ID &#8211; Perusahaan farmasi raksasa AstraZeneca digugat atas klaim vaksin yang dikembangkan bersama Universitas Oxford, dalam puluhan kasus, menyebabkan pembekuan darah hingga kematian. Sebanyak 51 kasus telah diajukan ke pengadilan di Inggris. Para korban dan keluarga yang berduka meminta ganti rugi yang diperkirakan bernilai hingga \u00a3100 juta. Dikutip dari The Telegraph, Minggu (5\/5\/2024), kasus pertama diajukan tahun lalu\u00a0oleh Jamie Scott, ayah dua anak, yang mengalami cedera otak permanen setelah mengalami pembekuan darah dan pendarahan di otak yang membuatnya tidak bisa bekerja setelah menerima vaksin pada April 2021. AstraZeneca\u00a0sempat menggugat klaim tersebut, tapi dalam dokumen yang diserahkan ke pengadilan pada Februari tahun ini, AstraZeneca mengakui meskipun sangat jarang terjadi vaksin Covid-nya \u201cdapat menyebabkan Thrombosis with Thrombocytopenia Syndrome (TTS), yakni pembekuan darah dan jumlah trombosit darah yang rendah. Dalam surat tanggapan yang dikirimkan pada Mei 2023, AstraZeneca mengatakan kepada pengacara Scott \u201cKami tidak menerima bahwa TTS disebabkan oleh vaksin pada tingkat generik.\u201d Namun dalam dokumen hukum yang diserahkan ke Pengadilan Tinggi pada bulan Februari, AstraZeneca menyatakan: \u201cDiakui vaksin AZ, dalam kasus yang sangat jarang, dapat menyebabkan TTS. Mekanisme penyebabnya tidak diketahui. Para ilmuwan pertama kali mengidentifikasi hubungan antara vaksin dan penyakit baru yang disebut trombositopenia dan trombosis imun yang diinduksi vaksin (VITT) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":44003,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[351,13],"tags":[],"class_list":["post-44001","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-internasional","category-kesehatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44001","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44001"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44001\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":44005,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44001\/revisions\/44005"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44003"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44001"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44001"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44001"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}