{"id":41175,"date":"2023-11-28T15:51:44","date_gmt":"2023-11-28T08:51:44","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=41175"},"modified":"2023-12-21T21:34:42","modified_gmt":"2023-12-21T14:34:42","slug":"matt-pedom-geger-matt-pedom-mau-nyalon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2023\/11\/28\/matt-pedom-geger-matt-pedom-mau-nyalon\/","title":{"rendered":"MATT PEDOM\/\/ Geger Matt Pedom Mau Nyalon"},"content":{"rendered":"<p><em>Anton Kurniawan<\/em><\/p>\n<blockquote><p>&#8220;<strong>Man<\/strong> kamu dimana? Ajak Matt Pedom sama Udin ke rumah, saya tunggu. Cepetan, jangan pake lama,&#8221; ucap Mul Sangkut gelar Suttan Yakdo Nihan kepada Man Jengger lewat telepon lalu mematikan telepon genggamnya dan menjatuhkan pantat di sofa mewah di ruang tamu rumahnya yang megah.<\/p><\/blockquote>\n<p>Wajah direktur PT Gatol Kekuy Abadi, perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur dan properti nomor wahid di Republik Kocok Bekem yang biasa semringah dan klimis itu, terlihat pasi. Terlukis rasa khawatir di matanya.<\/p>\n<p>Memang sejak kemarin warga Kampung Umbul Timput yang sedang menyambut Pemilu (Pekan Memilih Kepala Umbul) tiba-tiba saja geger dan heboh gara-gara Matt Pedom ramai dibicarakan warga akan <em>nyalon<\/em>.<\/p>\n<p>Kehebohan ini, sebenarnya bermula dari Mul Sangkut sendiri, yang bercerita kepada Man Jengger perihal Matt Pedom yang mau <em>nyalon<\/em>. Kini isu Matt Pedom mau <em>nyalon<\/em> semakin meluas di masyarakat Umbul Timput. Inilah pangkal kekhawatiran Sangkut. Tiba-tiba saja melintas di benaknya kelebat bayangan warga mengelu-elukan nama Matt Pedom saat pemilihan.<\/p>\n<p>Rasa khawatir ini seharusnya tidak ada kalau saja kemarin malam Mul Sangkut tidak menemui Matt Pedom. Namun pertemuan tersebut juga tidak bisa disalahkan, karena dia sengaja mau <em>ngajak<\/em> Matt Pedom menemaninya ngecek salah satu proyek pembangunan jalan di Dusun Jembat Putuk, Simpang Kuwau yang dimenangkan PT Gatol Kekuy Abadi.<\/p>\n<p>Namun, malam kemarin jawaban Matt Pedom sungguh sangat mengagetkannya. Matt Pedom mengaku tidak bisa mendampinginya karena dia mau <em>nyalon<\/em>. &#8220;Maaf Suttan saya lagi <em>nggak<\/em> bisa <em>nemenin<\/em>, karena saya mau <em>nyalon<\/em> sama Narto Prinses, saya sudah janji,&#8221; jawab Matt Pedom malam itu di bawah sinar bulan yang temaram.<\/p>\n<p>&#8220;<em>Bener<\/em> dulu Matt. <em>Bener<\/em> kamu mau <em>nyalon<\/em>,&#8221; tanya Mul Sangkut penasaran.<\/p>\n<p>&#8220;Iya <em>bener-<\/em>lah, sejak kapan saya pernah bohong sama Suttan. Maaf Suttan saya tinggal dulu nanti kita <em>ngobrol<\/em> lagi, saya buru-buru mau <em>nemuin<\/em> Udin Papir, mau <em>ngambil<\/em> duit,&#8221; jawab Matt Pedom tergesa.<\/p>\n<p>Jawaban Matt Pedom ini ternyata ditanggapi sangat serius oleh Mul Sangkut yang memang sejak lama sudah berencana mencalonkan anaknya, Sangkut Junior, untuk maju sebagai kepala Umbul Timput. Bagi Mul Sangkut, sebagai orang paling <em>beduit<\/em> di Umbul Timput, sebenarnya jabatan kepala umbul tidak penting. Hanya saja dia ingin agar anaknya punya kesibukan dan punya status sosial di masyarakat. Namun, jawaban Matt Pedom kemarin malam, benar-benar membuat Mul Sangkut tidak bisa tidur.<\/p>\n<p>&#8220;Assalamualaikum,&#8221; suara Man Jengger mengagetkannya.<\/p>\n<p>&#8220;Walaikumsalam. Kamu <em>ngagetin<\/em> <em>aja<\/em> Man, silahkan masuk. Kita langsung ke belakang aja&#8221; jawab Sangkut sambil mengajak tamunya ke taman di bagian belakang rumah mewahnya<\/p>\n<p>&#8220;Mana Matt sama Udin,&#8221; cecarnya, saat tiba di taman belakang yang mewah dan asri.<\/p>\n<p>&#8220;Sebentar lagi mereka sampai, saya sudah hubungi mereka langsung, dan mereka bilang segera merapat. Tadi setelah bos telepon saya, tanpa <em>ba bi bu<\/em> saya langsung laksanakan instruksi bos karena bagi saya Bos Sangkut yang paling utama,&#8221; kata Man Jengger agak <em>onyah<\/em> dengan gaya <em>lebay<\/em> dengan harapan bisa dapat &#8216;pelicin&#8217; atau paling tidak dapat rokok kretek kesukaannya.<\/p>\n<p>&#8220;Memang kamu inilah Man yang paling paham sama saya,&#8221; jawab Sangkut sambil meletakkan beberapa bungkus rokok kretek di atas meja. Dan sudah tentu, seperti ikan betok melihat umpan, Man Jengger langsung menyambar, mengamankan bungkus-bungkus rokok itu ke dalam saku bajunya.<\/p>\n<p>&#8220;Makasih bos. Bos Sangkut memang <em>gini<\/em>,&#8221; ucap Man sambil menunjukkan dua jempol tangannya.<\/p>\n<p>Tepat saat Man Jengger mulai menghidupkan korek api untuk menyulut sebatang rokok, suara Udin Spiker terdengar menyambar telinga. Lalu hanya dalam hitungan detik, Udin Spiker masuk bersama Dul Gemoy dan Matt Pedom yang langsung disambut Sangkut.<\/p>\n<p>&#8220;Nah, <em>sampe<\/em> juga <em>kamu orang<\/em>. Ayo langsung ke belakang, sudah ada Man Jengger tu. <em>Mejong pai<\/em>. Duduk, duduk..silahkan, silahkan duduk,&#8221; ucap Sangkut penuh perhatian.<\/p>\n<p>Langsung ketiganya duduk di kursi taman yang terlihat mahal dengan desain klasik gaya Eropa berbahan kayu cendana. Di atas meja yang juga tidak kalah mewah, tampak beragam jenis minuman dingin dan penganan ringan.<\/p>\n<p>Namun bagi Matt Pedom, ragam minuman dingin tersebut ternyata tidak menggugah selera. Menurutnya, minuman yang paling nikmat adalah kopi hitam dengan sedikit gula aren dari gunung ditemani pisang kepok goreng atau ubi rebus.<\/p>\n<p>Suasana yang nyaman dan sejuk, ditambah angin yang berembus pelan, membuat Matt Pedom begitu tersiksa melawan kantuk yang secara brutal menyerangnya.<\/p>\n<p>&#8220;Suttan, <em>dapok sikam kilu kupi<\/em>,&#8221; ucap Matt Pedom dan Dul Gemoy hampir berbarengan. Keduanya sempat saling tatap lalu tertawa renyah.<\/p>\n<p>&#8220;Iya sebentar, memang sudah <em>disiapin<\/em>,&#8221; ucap Sangkut.<\/p>\n<p>Tidak berselang lama, empat gelas kopi panas bersama pisang goreng dan kacang rebus tersaji di meja mewah tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Kamu sudah lama Man,&#8221; tanya Udin Spiker kepada Man Jengger yang dengan gaya <em>lebay<\/em> menghisap rokok bermaksud memamerkan cangklong gading dan cincin batu akik miliknya.<\/p>\n<p>&#8220;Belum lama, sekitar 10 menitan lah,&#8221; kata Man Jengger usai melepas asap rokok ke udara bebas lalu menyeruput kopinya tanpa menunggu tawaran dari tuan rumah. Rupanya dia sudah <em>nggak<\/em> tahan.<\/p>\n<p>&#8220;Ayo diminum dan dinikmati pisang gorengnya,&#8221; ucap Mul Sangkut yang langsung direspon tamu-tamunya dengan menyeruput kopi panas yang disajikan.<\/p>\n<p>&#8220;Mantapp,&#8221; ujar Dul Gemoy dengan mata membelalak.<\/p>\n<p>&#8220;<em>Jadi gini<\/em>, langsung <em>aja<\/em>. Sebelumnya terima kasih <em>kamu orang<\/em> sudah bersedia hadir di sini,&#8221; ucap Sangkut serius. Semua mendengarkan dengan seksama. Suasana mendadak makin hening. Di luar, suara tekukur milik tetangga terus terdengar.<\/p>\n<p>&#8220;Sekarang <em>inikan<\/em> kita mulai tahapan Pemilu alias Pekan Memilih Langsung Kepala Umbul. Iyakan, kita mau Pemilu. Nah, saya sudah sejak jauh hari mau <em>nyalonin<\/em> anak saya, Sangkut Junior, supaya dia punya kesibukan dan punya status di masyarakat, karena selama ini dia kan <em>nganggur<\/em>, hanya bantu-bantu <em>ngawasin<\/em> proyek,&#8221; ucap Sangkut mulai membuka diskusi.<\/p>\n<p>&#8220;Nah, kemarin malam kamu bilang dengan saya, kalau kamu mau <em>nyalon<\/em> Matt. <em>Bener nggak <\/em>itu?&#8221; ujar Sangkut, suara pelan, tajam dan serius.<\/p>\n<p>&#8220;Iya Suttan. Memang <em>bener<\/em> saya mau <em>nyalon<\/em> sama Narto Prinses karena saya <em>liat<\/em>&#8230;..&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;<em>Gini aja<\/em> Matt, saya mohon kamu mundur, segala biaya dan kebutuhan kamu saya ganti. Ke depan, kalau memang anak saya Sangkut Junior terpilih, kamu jadi pengawas proyek, nanti saya bantu,&#8221; ucap Sangkut cepat, memotong penjelasan Matt Pedom yang belum selesai.<\/p>\n<p>&#8220;<em>Gimana<\/em> menurut kamu Dul? ucap Sangkut meminta pandangan Dul Gemoy.<\/p>\n<p>&#8220;Saya sepakat dengan Suttan, tapi juga kita <em>nggak<\/em> bisa menghalangi Matt Pedom kalau dia memang mau <em>nyalon<\/em>. Itu hak yang dilindungi undang-undang,&#8221; kata Dul Gemoy.<\/p>\n<p>&#8220;Saya sepakat, kita tidak bisa memaksa Matt Pedom,&#8221; ujar Udin Spiker menimpali.<\/p>\n<p>&#8220;Sama, saya juga begitu, tapi memang perlu juga dipertimbangkan bahwa anak Bos Sangkut mau <em>nyalon<\/em>. Kalau sampai suara kita terbelah maka kita semua akan kalah,&#8221; Man Jengger memberi pandangan.<\/p>\n<p>&#8220;Begini, saya jelaskan dulu apa maksud saya yang&#8230;.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;<em>Gini aja deh<\/em> Matt, kamu terima dulu ini,&#8221; ucap Sangkut lagi-lagi memotong ucapan Matt Pedom sambil menyerahkan satu kantong plastik penuh berisi lembaran uang kertas berwarna merah seratus ribuan.<\/p>\n<p>&#8220;Ini bukan <em>maksa<\/em>, duit ini saya kasih untuk kamu Matt, tapi saya minta kamu <em>nggak<\/em> usah <em>nyalon<\/em>.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Maaf Suttan, <em>nyalon<\/em> yang saya maksud adalah saya mau&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Kamu terima dulu duit ini Matt. Baru nanti kamu kasih penjelasan,&#8221; ujar Sangkut setengah memaksa sambil meletakkan kantong plastik berisi uang di pangkuan Matt Pedom dan berharap Matt Pedom menerima uang tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Iya Matt supaya Umbul Timput tetap adem ayem sebaiknya kamu mundur <em>aja, <\/em>apalagi\u00a0itu Bos Sangkut sudah <em>ngasih<\/em> kebaikan,&#8221; Man Jengger lagi-lagi memberi pandangan seolah dia memang cerdas.<\/p>\n<p>&#8220;Ya Alloh&#8230; <em>alangkaah<\/em> banyak uang ini Suttan. Betul uang ini buat saya,&#8221; kata-kata Matt Pedom bergetar, nyaris tidak percaya bisa mendapatkan uang sebanyak itu.<\/p>\n<p>&#8220;Iya uang itu untuk kamu Matt, tapi saya minta kamu mundur dan tidak <em>nyalon<\/em> Kepala Umbul Timput ini,&#8221; kata Sangkut mulai tenang, melihat mata Matt Pedom berbinar tertuju pada uang di pangkuannya.<\/p>\n<p>&#8220;<em>Gini aja<\/em>&#8230;&#8221; ucap Matt Pedom, suaranya terhenti sejenak. Semua diam menunggu ucapan Matt Pedom selanjutnya.<\/p>\n<p>&#8220;Uang ini saya terima Suttan, saya terima kasih <em>bener<\/em> ini. Sekarang saya pamit dulu saya mau langsung ke salon karena saya sudah janji mau <em>nyalon<\/em> hari ini. Kalau urusan Pemilu dan lain-lain saya <em>nggak<\/em> paham. Saya <em>nggak ngerti<\/em> urusan <em>pelitik<\/em>,&#8221; ujar Matt Pedom sambil bergegas bangkit lalu menyalami satu per satu orang-orang tersebut, kemudian keluar meninggalkan rumah Mul Sangkut menuju Salon Narto Prinses membawa sekantong uang.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Udin Spiker, Man Jengger dan Dul Gemoy hanya diam memandang kepergian Matt Pedom, sementara Mul Sangkut merasakan kepalanya berat dan mata berkunang-kunang, lalu semua gelap. Mul Sangkut jatuh pingsan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Matt&#8230;Matt&#8230; kamu itulah!<br \/>\n****<\/p>\n<p><em><strong>Anton Kurniawan<\/strong>, tukang tulis tinggal di Provinsi Lampung<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anton Kurniawan &#8220;Man kamu dimana? Ajak Matt Pedom sama Udin ke rumah, saya tunggu. Cepetan, jangan pake lama,&#8221; ucap Mul Sangkut gelar Suttan Yakdo Nihan kepada Man Jengger lewat telepon lalu mematikan telepon genggamnya dan menjatuhkan pantat di sofa mewah di ruang tamu rumahnya yang megah. Wajah direktur PT Gatol Kekuy Abadi, perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur dan properti nomor wahid di Republik Kocok Bekem yang biasa semringah dan klimis itu, terlihat pasi. Terlukis rasa khawatir di matanya. Memang sejak kemarin warga Kampung Umbul Timput yang sedang menyambut Pemilu (Pekan Memilih Kepala Umbul) tiba-tiba saja geger dan heboh gara-gara Matt Pedom ramai dibicarakan warga akan nyalon. Kehebohan ini, sebenarnya bermula dari Mul Sangkut sendiri, yang bercerita kepada Man Jengger perihal Matt Pedom yang mau nyalon. Kini isu Matt Pedom mau nyalon semakin meluas di masyarakat Umbul Timput. Inilah pangkal kekhawatiran Sangkut. Tiba-tiba saja melintas di benaknya kelebat bayangan warga mengelu-elukan nama Matt Pedom saat pemilihan. Rasa khawatir ini seharusnya tidak ada kalau saja kemarin malam Mul Sangkut tidak menemui Matt Pedom. Namun pertemuan tersebut juga tidak bisa disalahkan, karena dia sengaja mau ngajak Matt Pedom menemaninya ngecek salah satu proyek pembangunan jalan di Dusun Jembat Putuk, Simpang Kuwau yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":41176,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-41175","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-dan-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41175","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41175"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41175\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":41624,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41175\/revisions\/41624"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41176"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41175"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41175"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41175"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}