{"id":40945,"date":"2023-11-18T06:25:29","date_gmt":"2023-11-17T23:25:29","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=40945"},"modified":"2023-11-18T06:28:12","modified_gmt":"2023-11-17T23:28:12","slug":"kewalahan-tangani-pasien-rs-indonesia-di-jalur-gaza-berhenti-beroperasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2023\/11\/18\/kewalahan-tangani-pasien-rs-indonesia-di-jalur-gaza-berhenti-beroperasi\/","title":{"rendered":"Kewalahan Tangani Pasien, RS Indonesia di Jalur Gaza Berhenti Beroperasi"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><strong>Gaza City (LB)<\/strong>: Di tengah perang yang terus berkecamuk antara Israel dan Hamas, Rumah Sakit (RS) Indonesia\u00a0di\u00a0Jalur Gaza dilaporkan benar-benar telah berhenti beroperasi karena karena kewalahan menangani pasien akibat kurangnya pasokan dan banyaknya pasien.<\/p><\/blockquote>\n<p>Seperti dilansir\u00a0<em>Al Arabiya<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>Al Jazeera<\/em>, Jumat (17\/11\/2023), situasi terkini di RS Indonesia itu diungkap oleh koresponden\u00a0Al Arabiya dan Direktur RS Indonesia Atef al-Kahlout.<\/p>\n<p>Rekaman video dari rumah sakit yang terletak di Beit Lahiya itu menunjukkan warga Palestina yang mengalami luka-luka berbaris di lorong-lorong rumah sakit dan berbaring di tengah genangan darah. Al-Kahlout menuturkan sedikitnya 45 pasien di RS Indonesia membutuhkan &#8216;intervensi bedah segera&#8217;.<\/p>\n<p>&#8220;Kami tidak bisa menawarkan layanan apa pun lagi&#8230; kami tidak bisa menawarkan tempat tidur apa pun kepada para pasien,&#8221; tutur Al-Kahlout kepada\u00a0Al Jazeera\u00a0pada Kamis (16\/11) waktu setempat.<\/p>\n<p>Al-Kahlout mengatakan RS Indonesia memiliki kapasitas untuk 140 pasien, sementara pasien yang ada di rumah sakit tersebut saat ini sekitar 500 pasien. Dia bahkan meminta ambulans untuk &#8216;tidak membawa lebih banyak orang-orang yang terluka&#8217; ke rumah sakit itu karena kurangnya kapasitas.<\/p>\n<p>Dia menjelaskan departemen-departemen yang ada di RS Indonesia &#8216;tidak bisa melaksanakan tugas-tugas mereka&#8217;. Para tenaga kesehatan di rumah sakit itu menyebut adanya kekurangan pasokan yang parah.<\/p>\n<p>&#8220;Kami tidak memiliki tempat tidur,&#8221; ucap salah satu tenaga kesehatan RS Indonesia saat mendampingi koresponden<em> Al Jazeera<\/em> berkeliling gedung rumah sakit.<\/p>\n<p>&#8220;Orang ini membutuhkan unit perawatan intensif,&#8221; imbuhnya, sembari menunjuk seorang pemuda yang terletak di lantai saat ditangani seorang perawat. (red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gaza City (LB): Di tengah perang yang terus berkecamuk antara Israel dan Hamas, Rumah Sakit (RS) Indonesia\u00a0di\u00a0Jalur Gaza dilaporkan benar-benar telah berhenti beroperasi karena karena kewalahan menangani pasien akibat kurangnya pasokan dan banyaknya pasien. Seperti dilansir\u00a0Al Arabiya\u00a0dan\u00a0Al Jazeera, Jumat (17\/11\/2023), situasi terkini di RS Indonesia itu diungkap oleh koresponden\u00a0Al Arabiya dan Direktur RS Indonesia Atef al-Kahlout. Rekaman video dari rumah sakit yang terletak di Beit Lahiya itu menunjukkan warga Palestina yang mengalami luka-luka berbaris di lorong-lorong rumah sakit dan berbaring di tengah genangan darah. Al-Kahlout menuturkan sedikitnya 45 pasien di RS Indonesia membutuhkan &#8216;intervensi bedah segera&#8217;. &#8220;Kami tidak bisa menawarkan layanan apa pun lagi&#8230; kami tidak bisa menawarkan tempat tidur apa pun kepada para pasien,&#8221; tutur Al-Kahlout kepada\u00a0Al Jazeera\u00a0pada Kamis (16\/11) waktu setempat. Al-Kahlout mengatakan RS Indonesia memiliki kapasitas untuk 140 pasien, sementara pasien yang ada di rumah sakit tersebut saat ini sekitar 500 pasien. Dia bahkan meminta ambulans untuk &#8216;tidak membawa lebih banyak orang-orang yang terluka&#8217; ke rumah sakit itu karena kurangnya kapasitas. Dia menjelaskan departemen-departemen yang ada di RS Indonesia &#8216;tidak bisa melaksanakan tugas-tugas mereka&#8217;. Para tenaga kesehatan di rumah sakit itu menyebut adanya kekurangan pasokan yang parah. &#8220;Kami tidak memiliki tempat tidur,&#8221; ucap salah satu tenaga kesehatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":40948,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[351],"tags":[],"class_list":["post-40945","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-internasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40945","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40945"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40945\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":40947,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40945\/revisions\/40947"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40948"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40945"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40945"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40945"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}