{"id":40342,"date":"2023-09-20T22:37:39","date_gmt":"2023-09-20T15:37:39","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=40342"},"modified":"2023-10-23T22:39:44","modified_gmt":"2023-10-23T15:39:44","slug":"profesor-teknik-pertanian-unila-diding-suhandy-dapat-penghargaan-internasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2023\/09\/20\/profesor-teknik-pertanian-unila-diding-suhandy-dapat-penghargaan-internasional\/","title":{"rendered":"Profesor Teknik Pertanian Unila Diding Suhandy Dapat Penghargaan Internasional"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Sebuah prestasi membanggakan diraih Prof. Dr. Agr. Sc. Diding Suhandy, S.TP., M.Agr., dosen Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung (Unila).<\/p><\/blockquote>\n<p>Dia terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan \u2018Best Presenter\u2018 pada The 5th International Conference on Agricultural Technology, Engineering, and Environmental Sciences (the 5th ICATES) 2023 yang diselenggarakan di Banda Aceh, Rabu (20\/9\/2023).<\/p>\n<p>Prof. Diding memaparkan hasil penelitiannya berjudul \u201cDiscrimination Between Real and Fake Honey Using Portable Fluorescence Spectroscopy and SIMCA\u201d.<\/p>\n<p>Penelitian ini merupakan kerja sama antara Unila sebagai leader serta Politeknik Negeri Lampung, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Brawijaya, yang didanai Kemdikbudristek melalui hibah Penelitian Kerja sama Dalam Negeri (PKDN).<\/p>\n<p>Penelitian ini mengembangkan teknologi berbasis data spektra dengan spektrometer portabel yang terhubung ke smartphone melalui bluetooth untuk menguji keaslian madu.<\/p>\n<p>Teknologi ini dapat mendeteksi perbedaan antara madu asli dan palsu dengan menggunakan metode Soft Independent Modeling of Class Analogy (SIMCA). Teknologi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para petani madu dan konsumen dalam hal ketelusuran pangan (food traceability) dan perlindungan produk pertanian bernilai tinggi.<\/p>\n<p>Prof. Diding juga mengenalkan konsep SpectralPrint sebagai teknologi masa depan yang dapat mengidentifikasi keaslian pangan dari panjang gelombang ultraviolet sampai terahertz.<\/p>\n<p>\u201cPenelitian ini sangat penting dalam upaya menciptakan pangan yang aman, sehat, dan berkualitas bagi masyarakat Indonesia,\u201d ujar Prof. Diding. (rls)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Sebuah prestasi membanggakan diraih Prof. Dr. Agr. Sc. Diding Suhandy, S.TP., M.Agr., dosen Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung (Unila). Dia terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan \u2018Best Presenter\u2018 pada The 5th International Conference on Agricultural Technology, Engineering, and Environmental Sciences (the 5th ICATES) 2023 yang diselenggarakan di Banda Aceh, Rabu (20\/9\/2023). Prof. Diding memaparkan hasil penelitiannya berjudul \u201cDiscrimination Between Real and Fake Honey Using Portable Fluorescence Spectroscopy and SIMCA\u201d. Penelitian ini merupakan kerja sama antara Unila sebagai leader serta Politeknik Negeri Lampung, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Brawijaya, yang didanai Kemdikbudristek melalui hibah Penelitian Kerja sama Dalam Negeri (PKDN). Penelitian ini mengembangkan teknologi berbasis data spektra dengan spektrometer portabel yang terhubung ke smartphone melalui bluetooth untuk menguji keaslian madu. Teknologi ini dapat mendeteksi perbedaan antara madu asli dan palsu dengan menggunakan metode Soft Independent Modeling of Class Analogy (SIMCA). Teknologi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para petani madu dan konsumen dalam hal ketelusuran pangan (food traceability) dan perlindungan produk pertanian bernilai tinggi. Prof. Diding juga mengenalkan konsep SpectralPrint sebagai teknologi masa depan yang dapat mengidentifikasi keaslian pangan dari panjang gelombang ultraviolet sampai terahertz. \u201cPenelitian ini sangat penting dalam upaya menciptakan pangan yang aman, sehat, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":40343,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1194,11],"tags":[],"class_list":["post-40342","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info-unila","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40342","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40342"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40342\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":40344,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40342\/revisions\/40344"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40343"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40342"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40342"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40342"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}