{"id":39496,"date":"2023-10-02T09:40:18","date_gmt":"2023-10-02T02:40:18","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=39496"},"modified":"2023-10-02T09:40:18","modified_gmt":"2023-10-02T02:40:18","slug":"diresmikan-jokowi-hari-ini-kereta-cepat-whoosh-jakarta-bandung-jadi-yang-pertama-di-asean","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2023\/10\/02\/diresmikan-jokowi-hari-ini-kereta-cepat-whoosh-jakarta-bandung-jadi-yang-pertama-di-asean\/","title":{"rendered":"Diresmikan Jokowi Hari Ini, Kereta Cepat &#8216;Whoosh&#8217; Jakarta &#8211; Bandung Jadi yang Pertama di ASEAN"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><strong>Jakarta (LB)<\/strong>: Kereta Cepat Jakarta-Bandung diresmikan operasionalnya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini, Senin (2\/9\/2023) setelah tujuh tahun lamanya konstruksi dilakukan.<\/p><\/blockquote>\n<p>Kereta Cepat Jakarta &#8211; Bandung kerja sama Indonesia dan China itu diresmikan juga merupakan yang pertama di Asia Tenggara dan memiliki kecepatan hingga 350 kilometer per jam.<\/p>\n<p>&#8220;Kereta Cepat Jakarta Bandung ini merupakan yang pertama di Indonesia dan pertama di Asia tenggara, dengan kecepatan 350 km per jam,&#8221; ungkap Jokowi saat meresmikan Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Stasiun Halim, Jakarta Timur, Senin (2\/10\/2023).<\/p>\n<p>Jokowi juga mengungkapkan Kereta Cepat Jakarta-Bandung dinamakan Whoosh karena terinspirasi dari suara kereta cepat yang melesat dengan kecepatan tinggi.<\/p>\n<p>&#8220;Kereta cepat ini dinamakan Whoosh, W H O O S H, ini terinspirasi dari suara kereta yang melesat dengan kecepatan tinggi,&#8221; ungkap Jokowi.<\/p>\n<p>Kereta Cepat Jakarta-Bandung dibangun sejak 2016. Memiliki panjang trek hingga 142 kilometer yang menghubungkan Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Padalarang, hingga Stasiun Tegalluar.<\/p>\n<p>Dengan kecepatan rata-rata mencapai 350 kilometer per jam, kereta cepat hanya perlu waktu 30-45 menit untuk menyambungkan Jakarta dan Bandung.<\/p>\n<p>Pembangunan Kereta Cepat menelan biaya hingga US$ 7,2 miliar atau sekitar Rp 18,58 triliun (kurs Rp 15.490). Jumlah itu sudah termasuk bengkak biaya atau cost overrun Kereta Cepat paska pandemi Covid-19.<\/p>\n<p>Sebelum peresmian ini, sejak pertengahan September moda transportasi cepat ini sudah bisa dijajal publik dalam rangka uji coba gratis. (Red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta (LB): Kereta Cepat Jakarta-Bandung diresmikan operasionalnya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini, Senin (2\/9\/2023) setelah tujuh tahun lamanya konstruksi dilakukan. Kereta Cepat Jakarta &#8211; Bandung kerja sama Indonesia dan China itu diresmikan juga merupakan yang pertama di Asia Tenggara dan memiliki kecepatan hingga 350 kilometer per jam. &#8220;Kereta Cepat Jakarta Bandung ini merupakan yang pertama di Indonesia dan pertama di Asia tenggara, dengan kecepatan 350 km per jam,&#8221; ungkap Jokowi saat meresmikan Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Stasiun Halim, Jakarta Timur, Senin (2\/10\/2023). Jokowi juga mengungkapkan Kereta Cepat Jakarta-Bandung dinamakan Whoosh karena terinspirasi dari suara kereta cepat yang melesat dengan kecepatan tinggi. &#8220;Kereta cepat ini dinamakan Whoosh, W H O O S H, ini terinspirasi dari suara kereta yang melesat dengan kecepatan tinggi,&#8221; ungkap Jokowi. Kereta Cepat Jakarta-Bandung dibangun sejak 2016. Memiliki panjang trek hingga 142 kilometer yang menghubungkan Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Padalarang, hingga Stasiun Tegalluar. Dengan kecepatan rata-rata mencapai 350 kilometer per jam, kereta cepat hanya perlu waktu 30-45 menit untuk menyambungkan Jakarta dan Bandung. Pembangunan Kereta Cepat menelan biaya hingga US$ 7,2 miliar atau sekitar Rp 18,58 triliun (kurs Rp 15.490). Jumlah itu sudah termasuk bengkak biaya atau cost overrun Kereta Cepat paska pandemi Covid-19. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":39497,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[406],"tags":[],"class_list":["post-39496","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39496","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39496"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39496\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39498,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39496\/revisions\/39498"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39497"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39496"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39496"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39496"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}