{"id":35139,"date":"2023-01-27T14:27:37","date_gmt":"2023-01-27T07:27:37","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=35139"},"modified":"2023-01-27T14:27:37","modified_gmt":"2023-01-27T07:27:37","slug":"targetkan-panen-maksimal-babinsa-lakukan-perawatan-tanaman-jagung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2023\/01\/27\/targetkan-panen-maksimal-babinsa-lakukan-perawatan-tanaman-jagung\/","title":{"rendered":"Targetkan Panen Maksimal, Babinsa Lakukan Perawatan Tanaman Jagung"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Perawatan tanaman jagung sangat penting untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal. Perawatan dan pemeliharaan ini mulai dilakukan sejak tanaman jagung masih dalam fase bibit hingga panen.<\/p><\/blockquote>\n<p>Hal itu diungkapkan Babinda Koramil 05 Tanjung Karang Pusat Kodim 0410\/KBL, Pelda Giarto, saat melakukan perawatan tanaman jagung di kawasan Langkapura Kota Bandar Lampung.<\/p>\n<p>&#8220;Untuk memperoleh hasil panen jagung yang berkualitas baik diperlukan perawatan dan pemeliharaan tanaman setelah bibit ditanam,&#8221; kata Pelda Giarto, Jumat (27\/1\/2023).<\/p>\n<p>Dia menjelaskan penyebab kegagalan panen adalah serangan hama dan penyakit. Oleh karena itu, perlu antisipasi serangan dengan pencegahan yang lebih baik daripada pengobatan.<\/p>\n<p>Jika serangan sudah terjadi, sebaiknya dikendalikan sesuai jenis hama yang menyerang. Menurut Giarto, Hama yang biasa menyerang tanaman jagung yaitu belalang dan berbagai jenis ulat.<\/p>\n<p>&#8220;Kerusakan yang disebabkan serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan kerusakan hingga kematian tanaman,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Dandim 0410\/KBL Letkol Arm Tri Arto Subagio mengatakan ketahanan pangan dengan bertani jagung masih terus dilakukan jajarannya.<\/p>\n<p>&#8220;Ketahanan pangan merupakan tindak lanjut instruksi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dr. Dudung Abdurachman, dengan memanfaatkan lahan tidur di wilayah untuk bertani jagung,&#8221; pungkasnya. (red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Perawatan tanaman jagung sangat penting untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal. Perawatan dan pemeliharaan ini mulai dilakukan sejak tanaman jagung masih dalam fase bibit hingga panen. Hal itu diungkapkan Babinda Koramil 05 Tanjung Karang Pusat Kodim 0410\/KBL, Pelda Giarto, saat melakukan perawatan tanaman jagung di kawasan Langkapura Kota Bandar Lampung. &#8220;Untuk memperoleh hasil panen jagung yang berkualitas baik diperlukan perawatan dan pemeliharaan tanaman setelah bibit ditanam,&#8221; kata Pelda Giarto, Jumat (27\/1\/2023). Dia menjelaskan penyebab kegagalan panen adalah serangan hama dan penyakit. Oleh karena itu, perlu antisipasi serangan dengan pencegahan yang lebih baik daripada pengobatan. Jika serangan sudah terjadi, sebaiknya dikendalikan sesuai jenis hama yang menyerang. Menurut Giarto, Hama yang biasa menyerang tanaman jagung yaitu belalang dan berbagai jenis ulat. &#8220;Kerusakan yang disebabkan serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan kerusakan hingga kematian tanaman,&#8221; ungkapnya. Sementara itu, Dandim 0410\/KBL Letkol Arm Tri Arto Subagio mengatakan ketahanan pangan dengan bertani jagung masih terus dilakukan jajarannya. &#8220;Ketahanan pangan merupakan tindak lanjut instruksi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dr. Dudung Abdurachman, dengan memanfaatkan lahan tidur di wilayah untuk bertani jagung,&#8221; pungkasnya. (red)<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":35140,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[346],"tags":[],"class_list":["post-35139","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-korem-043-garuda-hitam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35139","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35139"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35139\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":35141,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35139\/revisions\/35141"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35140"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}