{"id":33109,"date":"2022-10-19T18:20:10","date_gmt":"2022-10-19T11:20:10","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=33109"},"modified":"2022-10-19T18:20:10","modified_gmt":"2022-10-19T11:20:10","slug":"lampung-siaga-bencana-hidrometeorologi-di-masa-transisi-musim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2022\/10\/19\/lampung-siaga-bencana-hidrometeorologi-di-masa-transisi-musim\/","title":{"rendered":"Lampung Siaga Bencana Hidrometeorologi di Masa Transisi Musim"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><strong>BANDAR LAMPUNG (LB):<\/strong> Lampung siaga bencana hidrometeorologi di masa transisi musim kemarau ke musim hujan dari bulan November \u2013 Januari.<\/p><\/blockquote>\n<p>\u201cProvinsi Lampung memasuki masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan,\u201d kata Kepala\u00a0Stasiun Meteorologi Radin Inten II, Kukuh Ribudiyanto, usai Apel Siaga Bencana Tahun 2022.<\/p>\n<p>Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Korem 043\/Gatam, Enggal, dan dipimpin oleh Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana, Rabu (19\/10\/2022).<\/p>\n<p>\u201cSetelah bulan November, peningkatan curah hujannya sampai ke Januari puncak musim hujan. Nanti waspada banjir ke arah situ,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dia mengatakan pada masa pergantian musim, pemerintah daerah perlu mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi di Lampung.<\/p>\n<p>\u201cDi masa transisi, yang perlu diwaspadai adalah hujan lebat, angin kencang, puting beliung, dan hujan es,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Hujan lebat yang biasa terjadi di masa transisi, lanjut Kukuh, hanya berlangsung singkat.<\/p>\n<p>\u201cSejam dua jam, tapi bisa terjadi genangan,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Kukuh menjelaskan dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) beberapa kabupaten di Lampung berada di zona merah bencana hidrometeorologi.<\/p>\n<p>\u201cSisi barat Provinsi Lampung itu banjir dan longsor seperti Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Barat,\u201dungkapnya.<\/p>\n<p>Kemudian, di bagian timur seperti Kabupaten Mesuji, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Lampung Selatan, bencana dominan ke banjir.<\/p>\n<p>Untuk Kota Bandar Lampung, dengan kontur pegunungan bencana hidrometeorologi lebih ke arah banjir dan tanah longsor.<\/p>\n<p>\u201cPaling banjir sesaat karena akumulasi air di drainase menuju ke laut, tertahan,\u201dujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana dalam sambutannya menyampaikan Kota Bandar Lampung siaga bencana hidrometeorologi di sejumlah titik.<\/p>\n<p>\u201cAda 8 titik yang rawan banjir di Kota Bandar Lampung,\u201d kata Wali Kota.<\/p>\n<p>Di antaranya Kecamatan Rajabasa di Kelurahan Nyunyai dan Rajabasa Jaya.<\/p>\n<p>Kemudian, Kecamatan Telukbetung Selatan di Gedung Pakuwon, dan Kecamatan Kedamaian.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulilah, semuanya sudah kita rapikan. Kalau tergenang itu sudah biasa, tim yang ada akan sigap mengatasi,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Eva Dwiana mengatakan Pemkot melalui\u00a0Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung\u00a0akan menyiagakan sebanyak 97 personel selama 24 jam bersama TNI\/Polri.<\/p>\n<p>\u201cApalagi cuaca sekarang cukup ekstrim, angin kencang dan hujan. Kota Bandar Lampung yang dikelilingi kabupaten\/kota lain, banjir dan sampah bisa dikirim ke kita,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Pada kesempatan tersebut, Wali Kota juga meminta dukungan dari organisasi radio amatir Indonesia (ORARI) untuk Kota Bandar Lampung siaga bencana hidrometeorologi di masa transisi.<\/p>\n<p>\u201cBunda harap kepada ORARI, sekali mengudara bisa mengajak masyarakat Bandar Lampung menjaga kebersihan,\u201dpungkasnya.<\/p>\n<p>Apel Siaga Bencana diikuti 1.510 personel dari berbagai kesatuan instansi terkait dan diisi dengan kegiatan simulasi penanganan bencana gempa dan kebakaran. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDAR LAMPUNG (LB): Lampung siaga bencana hidrometeorologi di masa transisi musim kemarau ke musim hujan dari bulan November \u2013 Januari. \u201cProvinsi Lampung memasuki masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan,\u201d kata Kepala\u00a0Stasiun Meteorologi Radin Inten II, Kukuh Ribudiyanto, usai Apel Siaga Bencana Tahun 2022. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Korem 043\/Gatam, Enggal, dan dipimpin oleh Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana, Rabu (19\/10\/2022). \u201cSetelah bulan November, peningkatan curah hujannya sampai ke Januari puncak musim hujan. Nanti waspada banjir ke arah situ,\u201d ujarnya. Dia mengatakan pada masa pergantian musim, pemerintah daerah perlu mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi di Lampung. \u201cDi masa transisi, yang perlu diwaspadai adalah hujan lebat, angin kencang, puting beliung, dan hujan es,\u201d katanya. Hujan lebat yang biasa terjadi di masa transisi, lanjut Kukuh, hanya berlangsung singkat. \u201cSejam dua jam, tapi bisa terjadi genangan,\u201d ucapnya. Kukuh menjelaskan dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) beberapa kabupaten di Lampung berada di zona merah bencana hidrometeorologi. \u201cSisi barat Provinsi Lampung itu banjir dan longsor seperti Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Barat,\u201dungkapnya. Kemudian, di bagian timur seperti Kabupaten Mesuji, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Lampung Selatan, bencana dominan ke banjir. Untuk Kota Bandar Lampung, dengan kontur pegunungan bencana hidrometeorologi lebih ke arah banjir [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33110,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29],"tags":[],"class_list":["post-33109","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-bandar-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33109","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33109"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33109\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33111,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33109\/revisions\/33111"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33110"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33109"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33109"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33109"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}