{"id":33098,"date":"2022-10-19T13:04:27","date_gmt":"2022-10-19T06:04:27","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=33098"},"modified":"2022-10-19T13:04:27","modified_gmt":"2022-10-19T06:04:27","slug":"pria-tanpa-identitas-tewas-tertabrak-kereta-babaranjang-di-kelurahan-surabaya-kedaton","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2022\/10\/19\/pria-tanpa-identitas-tewas-tertabrak-kereta-babaranjang-di-kelurahan-surabaya-kedaton\/","title":{"rendered":"Pria Tanpa Identitas Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Kelurahan Surabaya Kedaton"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><strong>BANDAR LAMPUNG (LB):<\/strong> Seorang pria tanpa identitas meninggal dunia lantaran tertabrak Kereta Api Batubara Rangkaian Panjang (Babaranjang) hingga bagian tubuhnya terbagi dua di Gang Kaca Piring, Kelurahan Surabaya, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung, Rabu (19\/10\/ 2022).<\/p><\/blockquote>\n<p>Menurut salah satu warga bernama Tukiyem kejadian itu terjadi sekira pukul 08.00 WIB.<\/p>\n<p>\u201cIya saya jualan uduk disini, kalau enggak salah jam 8 pagi itu kejadiannya,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, sesaat sebelum kejadian korban sempat membeli nasi uduk di warungnya.<\/p>\n<p>\u201cItu Abis makan nasi uduk dia itu, dia beli rokok juga, saya sempet tanya mau kemana, tapi dia bilang mau jalan-jalan aja. Akhirnya dia bayar nasi uduk itu Rp.12ribu terus saya tinggal masuk, dia pamit bilang terimakasih. Saya lagi didalem warung taunya udah ada kejadian itu,\u201d jelas wanita paruh baya itu.<\/p>\n<p>Tukiyem memperkirakan usia korban berkisar umur 40 tahunan, dengan perawakan tinggi, dan berkulit putih. Namun, dirinya tidak mengetahui korban berasal dari mana.<\/p>\n<p>\u201cSaya juga enggak kenal, tetangga juga enggak kenal. Cowok putih umurnya sekitar 40 an tahun,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Disinggung apakah ada identitas korban yang ditemukan. Menurutnya tidak ditemukan identitas pada diri korban.<\/p>\n<p>\u201cEnggak ada identitas, korban juga tadi udah dibawa ke Rumah Sakit Abdul Moeloek,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, warga lain bernama Anwar (28) menyampaikan, korban sempat berjalan dipinggir rel kereta api.<\/p>\n<p>\u201cDia jalan tadi saya lihat, saya pikir mungkin jalan aja. Terus saya duduk lagi. Taunya ada kejadian,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Anwar juga membenarkan apabila kejadian terjadi sekira pukul 08.00 WIB.<\/p>\n<p>\u201cIya bener jam 8 tadi kejadiannya,\u201d pungkasnya. (*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDAR LAMPUNG (LB): Seorang pria tanpa identitas meninggal dunia lantaran tertabrak Kereta Api Batubara Rangkaian Panjang (Babaranjang) hingga bagian tubuhnya terbagi dua di Gang Kaca Piring, Kelurahan Surabaya, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung, Rabu (19\/10\/ 2022). Menurut salah satu warga bernama Tukiyem kejadian itu terjadi sekira pukul 08.00 WIB. \u201cIya saya jualan uduk disini, kalau enggak salah jam 8 pagi itu kejadiannya,&#8221; ujarnya. Lebih lanjut, sesaat sebelum kejadian korban sempat membeli nasi uduk di warungnya. \u201cItu Abis makan nasi uduk dia itu, dia beli rokok juga, saya sempet tanya mau kemana, tapi dia bilang mau jalan-jalan aja. Akhirnya dia bayar nasi uduk itu Rp.12ribu terus saya tinggal masuk, dia pamit bilang terimakasih. Saya lagi didalem warung taunya udah ada kejadian itu,\u201d jelas wanita paruh baya itu. Tukiyem memperkirakan usia korban berkisar umur 40 tahunan, dengan perawakan tinggi, dan berkulit putih. Namun, dirinya tidak mengetahui korban berasal dari mana. \u201cSaya juga enggak kenal, tetangga juga enggak kenal. Cowok putih umurnya sekitar 40 an tahun,\u201d tuturnya. Disinggung apakah ada identitas korban yang ditemukan. Menurutnya tidak ditemukan identitas pada diri korban. \u201cEnggak ada identitas, korban juga tadi udah dibawa ke Rumah Sakit Abdul Moeloek,\u201d ucapnya. Sementara itu, warga lain bernama Anwar (28) menyampaikan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33099,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29],"tags":[],"class_list":["post-33098","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-bandar-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33098","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33098"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33098\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33100,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33098\/revisions\/33100"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33099"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33098"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33098"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33098"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}