{"id":2743,"date":"2019-12-15T15:34:24","date_gmt":"2019-12-15T15:34:24","guid":{"rendered":"http:\/\/lpgbrmtr.16mb.com\/?p=2743"},"modified":"2019-12-15T15:34:24","modified_gmt":"2019-12-15T15:34:24","slug":"djenar-maesa-ayu-akan-bicara-soal-nayla-di-london-book-fair-2019","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2019\/12\/15\/djenar-maesa-ayu-akan-bicara-soal-nayla-di-london-book-fair-2019\/","title":{"rendered":"Djenar Maesa Ayu Akan Bicara soal &#8216;Nayla&#8217; di London Book Fair 2019"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">JAKARTA -\u00c2&nbsp; London Book Fair (LBF) 2019 akan digelar pertengahan Maret mendatang. Di ajang festival jual-beli hak cipta buku, Indonesia menjadi negara fokus dan mendapat perhatian industri penerbitan internasional. Penulis-penulis Tanah Air bakal menghadiri London Book Fair 2019, salah satunya\u00c2&nbsp;Djenar Maesa Ayu. Penulis Novel &#8216;Mereka Bilang, Saya Monyet&#8217; itu diboyong oleh penerbitnya\u00c2&nbsp;Gramedia Pustaka Utama\u00c2&nbsp;(GPU). Kabar tersebut dibagikan akun Twitter sang penulis. &#8220;Saya bangga dipilih oleh penerbit saya untuk menghadiri London Book Fair 2019. Saya akan ada di sana bersama terjemahan bahasa Inggris novel saya &#8216;Nayla&#8217;. Dan seperti kata orang Inggris, &#8220;I&#8217;m chuffed to bits&#8221; (Saya sangat senang). Sampai jumpa 12-15 Maret!! #Naylaenglishversion #gramediapustakautama #booktour #londonbookfair2019,&#8221; tulis Djenar Maesa Ayu. Bukan hanya karya Djenar Maesa Ayu yang akan diboyong ke LBF 2019, lewat Gramedia International juga bakal memboyong karya Ratih Kumala. &#8216;Nayla&#8217; perdana rilis di Ubud Writers &amp; Readers Festival 2018. Bersama dengan kumpulan cerita pendek Ratih Kumala &#8216;Potion of Twilight&#8217;, kedua karya itu akan meramaikan pasar hak cipta di London. Setelah menerbitkan dua kumpulan cerpen, &#8216;Nayla&#8217; merupakan novel perdana Djenar. Novel ini mengisahkan tentang cinta yang terdistorsi antara manusia dalam wujud relasinya. Ada cinta antara laki-laki dan perempuan, ibu dan anak, dan lain-lain.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA -\u00c2&nbsp; London Book Fair (LBF) 2019 akan digelar pertengahan Maret mendatang. Di ajang festival jual-beli hak cipta buku, Indonesia menjadi negara fokus dan mendapat perhatian industri penerbitan internasional. Penulis-penulis Tanah Air bakal menghadiri London Book Fair 2019, salah satunya\u00c2&nbsp;Djenar Maesa Ayu. Penulis Novel &#8216;Mereka Bilang, Saya Monyet&#8217; itu diboyong oleh penerbitnya\u00c2&nbsp;Gramedia Pustaka Utama\u00c2&nbsp;(GPU). Kabar tersebut dibagikan akun Twitter sang penulis. &#8220;Saya bangga dipilih oleh penerbit saya untuk menghadiri London Book Fair 2019. Saya akan ada di sana bersama terjemahan bahasa Inggris novel saya &#8216;Nayla&#8217;. Dan seperti kata orang Inggris, &#8220;I&#8217;m chuffed to bits&#8221; (Saya sangat senang). Sampai jumpa 12-15 Maret!! #Naylaenglishversion #gramediapustakautama #booktour #londonbookfair2019,&#8221; tulis Djenar Maesa Ayu. Bukan hanya karya Djenar Maesa Ayu yang akan diboyong ke LBF 2019, lewat Gramedia International juga bakal memboyong karya Ratih Kumala. &#8216;Nayla&#8217; perdana rilis di Ubud Writers &amp; Readers Festival 2018. Bersama dengan kumpulan cerita pendek Ratih Kumala &#8216;Potion of Twilight&#8217;, kedua karya itu akan meramaikan pasar hak cipta di London. Setelah menerbitkan dua kumpulan cerpen, &#8216;Nayla&#8217; merupakan novel perdana Djenar. Novel ini mengisahkan tentang cinta yang terdistorsi antara manusia dalam wujud relasinya. Ada cinta antara laki-laki dan perempuan, ibu dan anak, dan lain-lain.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2745,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-2743","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2743","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2743"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2743\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2743"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2743"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2743"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}