{"id":19505,"date":"2021-10-30T23:25:56","date_gmt":"2021-10-30T16:25:56","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=19505"},"modified":"2021-10-30T23:25:56","modified_gmt":"2021-10-30T16:25:56","slug":"masalah-ekonomi-ibu-di-pesawaran-nekat-bunuh-diri-minum-racun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2021\/10\/30\/masalah-ekonomi-ibu-di-pesawaran-nekat-bunuh-diri-minum-racun\/","title":{"rendered":"Masalah Ekonomi, Ibu di Pesawaran Nekat Bunuh Diri Minum Racun"},"content":{"rendered":"<p><strong>PESAWARAN (lampungbarometer.id)<\/strong>: Diduga depresi karena himpitan ekonomi, Kamilah (69), warga Dusun Karang Sari, Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun serangga, Sabtu (30\/10\/2021), sekitar Pukul 14.30 WIB.<\/p>\n<p>Menurut Kapolres Pesawaran AKBP Vero Aria Radmantyo melalui Kapolsek Gedong Tataan Kompol Hapran, korban pertama kali ditemukan anaknya Nuriana (35), pada Sabtu (30\/10\/2021), sekitar Pukul 11.15 WIB.<\/p>\n<p>&#8220;Saat itu anaknya mendatangi kamar korban dan melihat ibunya tergelatak dengan mulut berbusa. Di sampingnya terdapat botol racun serangga dengan tutup yang sudah terbuka, yang isinya tinggal tersisa sedikit,&#8221; ujar Hapran.<\/p>\n<p>Korban sempat dibawa ke RSUD Pesawaran menggunakan Ambulance Desa Bagelen. Namun karena keterbatasan alat, pihak RSUD Pesawaran menyarankan membawa korban ke RS Mitra Husada Pringsewu.<\/p>\n<p>&#8220;Korban sempat mendapat pertolongan medis di RS Mitra Husada, tapi nyawanya tidak bisa diselamatkan dan dinyatakan meninggal pada Pukul 13.00 WIB,&#8221; ujar Kapolsek.<\/p>\n<p>Sementara itu, anak kedua korban Dwi Riyanto mengatakan ibunya sudah 3 hari mengalami depresi akibat masalah ekonomi. Karena pihak keluarga menolak dilakukan outopsi, jenazah korban langsung dimakamkan di TPU Desa Bagelen pada Pukul 17.00 WIB. (*\/Firdaus)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PESAWARAN (lampungbarometer.id): Diduga depresi karena himpitan ekonomi, Kamilah (69), warga Dusun Karang Sari, Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun serangga, Sabtu (30\/10\/2021), sekitar Pukul 14.30 WIB. Menurut Kapolres Pesawaran AKBP Vero Aria Radmantyo melalui Kapolsek Gedong Tataan Kompol Hapran, korban pertama kali ditemukan anaknya Nuriana (35), pada Sabtu (30\/10\/2021), sekitar Pukul 11.15 WIB. &#8220;Saat itu anaknya mendatangi kamar korban dan melihat ibunya tergelatak dengan mulut berbusa. Di sampingnya terdapat botol racun serangga dengan tutup yang sudah terbuka, yang isinya tinggal tersisa sedikit,&#8221; ujar Hapran. Korban sempat dibawa ke RSUD Pesawaran menggunakan Ambulance Desa Bagelen. Namun karena keterbatasan alat, pihak RSUD Pesawaran menyarankan membawa korban ke RS Mitra Husada Pringsewu. &#8220;Korban sempat mendapat pertolongan medis di RS Mitra Husada, tapi nyawanya tidak bisa diselamatkan dan dinyatakan meninggal pada Pukul 13.00 WIB,&#8221; ujar Kapolsek. Sementara itu, anak kedua korban Dwi Riyanto mengatakan ibunya sudah 3 hari mengalami depresi akibat masalah ekonomi. Karena pihak keluarga menolak dilakukan outopsi, jenazah korban langsung dimakamkan di TPU Desa Bagelen pada Pukul 17.00 WIB. (*\/Firdaus)<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":19506,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-19505","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hukum-dan-kriminal"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19505","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19505"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19505\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19505"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19505"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19505"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}