{"id":19169,"date":"2021-10-24T08:39:02","date_gmt":"2021-10-24T01:39:02","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=19169"},"modified":"2021-10-24T08:39:02","modified_gmt":"2021-10-24T01:39:02","slug":"sukmawati-soekarno-putri-akan-jalani-prosesi-pindah-agama-hindu-di-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2021\/10\/24\/sukmawati-soekarno-putri-akan-jalani-prosesi-pindah-agama-hindu-di-bali\/","title":{"rendered":"Sukmawati Soekarno Putri Akan Jalani Prosesi Pindah Agama Hindu di Bali"},"content":{"rendered":"<p><em>Foto: net<\/em><\/p>\n<p><strong>DENPASAR (lampungbarometer.id):<\/strong> Putri Presiden RI pertama, Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri atau Sukmawati Soekarnoputri, bakal menjalani prosesi Sudhi Wadani atau pindah ke agama Hindu di rumah asal ibunda Bung Karno di Kota Singaraja, Bali.<\/p>\n<p>&#8220;<em>Niki<\/em>\u00a0(ini) kan dia <em>Sudhi Wadani<\/em>, dia beralih agama keyakinan dia, dia mau mengikuti agama yang dipeluk neneknya di Bale Agung (Singaraja),&#8221; kata Panglingsir Dadia Pasek Baleagung Singaraja, Made Hardika, kepada wartawan seperti dikutip dari <em>detikcom<\/em>, Minggu (24\/10\/2021).<\/p>\n<p>Hardika mengatakan Sukmawati bakal menjalani sejumlah ritual saat upacara Sudhi Wadani yang dimulai Senin (25\/10\/2021) dan dilanjutkan ritual utama keesokan harinya.<\/p>\n<p>Dia juga mengatakan berbagai persiapan dilakukan pihak keluarga di Dadia Pasek Baleagung Singaraja. Menurut Made Hardika, pada Senin (25\/10), Sukmawati Soekarnoputri bakal mengikuti prosesi pembersihan diri atau\u00a0panglukatan. Setelah itu, bakal mengikuti ritual\u00a0medengen-dengen\u00a0yang juga bermakna pembersihan.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi, pertama Tanggal 25 (Oktober) itu dia harus mengikuti pembersihan dulu, panglukatan. Setelah\u00a0panglukatan, wenten (ada) medengen-dengen\u00a0dan besoknya baru ada\u00a0metatah\u00a0(upacara potong gigi) di Bale Agung (Singaraja) tanggal 26 (Oktober)-nya. Lanjut Tanggal 26 itu Sudhi Wadani,&#8221; jelas Hardika.<\/p>\n<p>Upacara inti Sudhi Wadani akan dilakukan di\u00a0merajan\u00a0atau pura Dadia Pasek Baleagung Singaraja. Nantinya ada penandatanganan surat yang disaksikan berbagai pihak, terutama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).<\/p>\n<p>&#8220;Itu (<em>Sudhi Wadani<\/em>)\u00a0<em>ring<\/em>\u00a0(di)\u00a0<em>merajan<\/em>\u00a0dan penandatanganan disaksikan (atau) <em>upasaksi<\/em> dari PHDI dan dipuput pinandita-pinandita yang sudah ditunjuk panditanya. Selesai <em>Sudhi Wadani<\/em>, selesai sudah acaranya, kenten\u00a0(begitu),&#8221; jelas Hardika.<\/p>\n<p>Nantinya, kata Hardika, prosesi Sudhi Wadani\u00a0Sukmawati Soekarnoputri\u00a0bakal dipimpin tiga orang pinandita atau pendeta dan satu orang pemangku\u00a0merajan\u00a0Dadia Pasek Baleagung Singaraja.<\/p>\n<p>Hardika menyebut upacara Sudhi Wadani ini hanya diikuti\u00a0Sukmawati Soekarnoputri. Dia mengaku belum mengetahui apakah keluarga Sukmawati Soekarnoputri bakal datang atau tidak dalam acara tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Endak\u00a0(ada yang lain). Sampai saat ini baru Sukmawati saja. Ya saya belum tahu kedatangannya, tapi menurut Bu Sukma, yang bersangkutan sudah memberitahukan kepada keluarga yang lain. Cuma apa bisa hadir atau tidak saya kurang tahu,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Sebelumnya, penanggung jawab upacara, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa, membenarkan Sukmawati Soekarnoputri bakal menjalani prosesi Sudhi Wadani atau pindah ke agama Hindu di Bali.<\/p>\n<p>Menurutnya, pemilihan tempat Bale Agung Singaraja merupakan perintah langsung dari Sukmawati Soekarnoputri. Tempat dipilih karena ada kaitannya dengan neneknya atau ibunda Sukarno, yakni Ida Ayu Nyoman Rai Srimben.<\/p>\n<p>Dia menuturkan Sukmawati lahir memeluk agama Islam, termasuk suaminya. Kepindahan Sukmawati Soekarnoputri ke pangkuan dharma disebut untuk kembali ke pangkuan neneknya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben.<\/p>\n<p>&#8220;Dulu nenek beliau kan ada yang Hindu begitu kan. Jadi kembali ke pangkuan Hindu Dharma, jadi justru beliau yang menyarankan. Tokoh-tokoh Bali juga menyarankan jadi untuk menjaga kebhinekaan kita,&#8221; jelas Wedakarna. (*\/red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Foto: net DENPASAR (lampungbarometer.id): Putri Presiden RI pertama, Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri atau Sukmawati Soekarnoputri, bakal menjalani prosesi Sudhi Wadani atau pindah ke agama Hindu di rumah asal ibunda Bung Karno di Kota Singaraja, Bali. &#8220;Niki\u00a0(ini) kan dia Sudhi Wadani, dia beralih agama keyakinan dia, dia mau mengikuti agama yang dipeluk neneknya di Bale Agung (Singaraja),&#8221; kata Panglingsir Dadia Pasek Baleagung Singaraja, Made Hardika, kepada wartawan seperti dikutip dari detikcom, Minggu (24\/10\/2021). Hardika mengatakan Sukmawati bakal menjalani sejumlah ritual saat upacara Sudhi Wadani yang dimulai Senin (25\/10\/2021) dan dilanjutkan ritual utama keesokan harinya. Dia juga mengatakan berbagai persiapan dilakukan pihak keluarga di Dadia Pasek Baleagung Singaraja. Menurut Made Hardika, pada Senin (25\/10), Sukmawati Soekarnoputri bakal mengikuti prosesi pembersihan diri atau\u00a0panglukatan. Setelah itu, bakal mengikuti ritual\u00a0medengen-dengen\u00a0yang juga bermakna pembersihan. &#8220;Jadi, pertama Tanggal 25 (Oktober) itu dia harus mengikuti pembersihan dulu, panglukatan. Setelah\u00a0panglukatan, wenten (ada) medengen-dengen\u00a0dan besoknya baru ada\u00a0metatah\u00a0(upacara potong gigi) di Bale Agung (Singaraja) tanggal 26 (Oktober)-nya. Lanjut Tanggal 26 itu Sudhi Wadani,&#8221; jelas Hardika. Upacara inti Sudhi Wadani akan dilakukan di\u00a0merajan\u00a0atau pura Dadia Pasek Baleagung Singaraja. Nantinya ada penandatanganan surat yang disaksikan berbagai pihak, terutama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). &#8220;Itu (Sudhi Wadani)\u00a0ring\u00a0(di)\u00a0merajan\u00a0dan penandatanganan disaksikan (atau) upasaksi dari PHDI dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":19170,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-19169","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19169","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19169"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19169\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19169"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19169"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19169"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}