{"id":18310,"date":"2021-09-28T08:10:16","date_gmt":"2021-09-28T01:10:16","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=18310"},"modified":"2021-09-28T08:10:16","modified_gmt":"2021-09-28T01:10:16","slug":"pmii-bandar-lampung-dukung-kepolisian-antisipasi-paham-radikalisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2021\/09\/28\/pmii-bandar-lampung-dukung-kepolisian-antisipasi-paham-radikalisme\/","title":{"rendered":"PMII Bandar Lampung Dukung Kepolisian Antisipasi Paham Radikalisme"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDAR LAMPUNG (lampungbarometer.id)<\/strong>: Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bandar Lampung menggelar Webinar bertema &#8220;Mengantisipasi Pemahaman Radikalisme di Tanah Sang Bumi Ruwa Jurai&#8221;, Rabu (22\/9\/2021) melalui Zoom Meeting.<\/p>\n<p>Pembicara dalam Webinar antara lain Raden Yusron, S.Sos. (Ketua Cabang PMII Bandar Lampung, Ken Setiawan (pendiri NII Crisis Center &amp; Pusat Rehabilitasi Korban NII), Fahmi Arsyad, S.Pd. (Kabid Keagamaan PMII Bandar Lampung), Rudi Irawan M.,Si. dari FKUB Bandar Lampung, dan akademisi UIN Raden Intan Lampung Riski Gunawan M.Pd.I. dengan moderator Sela Nur Hidayah.<\/p>\n<p>Rudi Irawan M.,Si. dalam materinya &#8220;Dasar-Dasar Kerukunan Umat Beragama Menurut Pandangan FKUB&#8221;, menyampaikan Indonesia sangat majemuk dan menganut agama yang berbeda-beda sehingga rentan terjadi gesekan.<\/p>\n<p>&#8220;Di situlah peran akademisi dalam menangkal paham radikal, diperlukan kearifan dan kedewasaan untuk memelihara keseimbangan antara kepentingan kelompok dan kepentingan nasional,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Tiga unsur kerukunan umat beragama, kata dia, yaitu: Kesediaan menerima perbedaan keyakinan dengan orang lain, kesediaan membiarkan orang lain mengamalkan ajaran yang diyakininya dan kemampuan menerima perbedaan.<\/p>\n<p>&#8220;Jangan mencaci maki Tuhan yang orang lain sembah,&#8221; ungkap Rudi Irawan, M.Si.<\/p>\n<p>Sementara itu, akademisi UIN Riski Gunawan M.Pd.I. menyampaikan Islam yang benar yaitu Islam rahmatan lil alamin, yang ikut serta memberantas radikalisme. Provinsi Lampung, kata Riski, berada di peringkat kedua tingkat radikalisme di Indonesia.<\/p>\n<p>Dia juga mengungkapkan hasil survei Al Farah menyatakan 35,3% PNS terpengaruh ajaran radikal, bahkan paham radikalisme yang dimulai dari paham yang intoleran sudah masuk sekolah melalui guru sehingga kita wajib waspada.<\/p>\n<p>&#8220;Saya tidak ragu mengatakan paham intoleran itu berproses dari sekolah. Jadi saya ingatkan sekolah jangan menjadi peternak paham radikal atau peternak teroris di Provinsi Lampung. Sudah banyak ASN yang menolak ideologi Pancasila sehingga diperlukan wawasan keislaman moderat. Bahkan, di Kemenag juga ada yang terpengaruh paham radikal,&#8221; ungkap Riski.<\/p>\n<p>&#8220;Paham radikalisme menyusup ke dunia pendidikan melalui guru agama yang terpapar paham radikalisme. Oleh karena itu, diperlukan dukungan semua pihak untuk memberantas paham radikalisme,&#8221;.<\/p>\n<p>Lebih lanjut dia menyampaikan berdasarkan hasil survei, ideologi di Indonesia yakni Pancasila 63,9% dan ideologi Islam 36,1%, karena itu PMII harus turun memberantas radikalisme. Dia juga menyebut ada organisasi di Lampung yang mengajarkan paham radikalisme dan intoleran.<\/p>\n<p>&#8220;Salah satu organisasi di Lampung, Khilafatul Muslimin, merupakan organisasi yang mengusung paham radikal dan sudah terjadi pembiaran. Sudah menjadi tugas kepolisian untuk melakukan pengawasan, jangan dibiarkan ormas Khilafah menjamur di Provinsi Lampung,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Ken Setiawan Pendiri NII Crisis Center &amp; Pusat Rehabilitasi Korban NII, mengatakan paham radikal sudah menyusup ke semua lini; TNI, Polri, ASN, parlemen dan dunia pendidikan bahkan sebanyak 65% masyarakat berpotensi terpapar radikalisme. Penganut paham radikalisme menyusup seperti bunglon ke kampus dan sekolah, bahkan sudah masuk ke kalangan PAUD dan SDIT-SDIT.<\/p>\n<p>&#8220;Ada beberapa faktor yang membuat Lampung sangat rawan paham radikal. Pertama, Lampung adalah gerbang Sumatera, kedua secara ideologi dan trilogi ada pergerakan masa lalu kasus Warsidi jadi<br \/>\nseperti dendam masa lalu. Orang Lampung yang beraksi di luar lebih banyak, mereka mencuri dan merampok karena dianggap tindakan yang benar karena yang diambil adalah harta orang kafir,&#8221; kata Ken.<\/p>\n<p>Dia juga menyampaikan di Indonesia belum ada payung hukum yang jelas untuk menindak penyebaran paham radikal, yang ada adalah payung hukum untuk pelaku yang sudah melakukan kegiatan terorisme.<\/p>\n<p>Menyikapi hal ini, PMII Kota Bandar Lampung akan melakukan audiensi untuk mendukung Polda Lampung menindak secara hukum individu atau kelompok terorisme, radikalisme dan intoleransi sehingga Provinsi Lampung damai, aman dan tenteram. (**)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDAR LAMPUNG (lampungbarometer.id): Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bandar Lampung menggelar Webinar bertema &#8220;Mengantisipasi Pemahaman Radikalisme di Tanah Sang Bumi Ruwa Jurai&#8221;, Rabu (22\/9\/2021) melalui Zoom Meeting. Pembicara dalam Webinar antara lain Raden Yusron, S.Sos. (Ketua Cabang PMII Bandar Lampung, Ken Setiawan (pendiri NII Crisis Center &amp; Pusat Rehabilitasi Korban NII), Fahmi Arsyad, S.Pd. (Kabid Keagamaan PMII Bandar Lampung), Rudi Irawan M.,Si. dari FKUB Bandar Lampung, dan akademisi UIN Raden Intan Lampung Riski Gunawan M.Pd.I. dengan moderator Sela Nur Hidayah. Rudi Irawan M.,Si. dalam materinya &#8220;Dasar-Dasar Kerukunan Umat Beragama Menurut Pandangan FKUB&#8221;, menyampaikan Indonesia sangat majemuk dan menganut agama yang berbeda-beda sehingga rentan terjadi gesekan. &#8220;Di situlah peran akademisi dalam menangkal paham radikal, diperlukan kearifan dan kedewasaan untuk memelihara keseimbangan antara kepentingan kelompok dan kepentingan nasional,&#8221; katanya. Tiga unsur kerukunan umat beragama, kata dia, yaitu: Kesediaan menerima perbedaan keyakinan dengan orang lain, kesediaan membiarkan orang lain mengamalkan ajaran yang diyakininya dan kemampuan menerima perbedaan. &#8220;Jangan mencaci maki Tuhan yang orang lain sembah,&#8221; ungkap Rudi Irawan, M.Si. Sementara itu, akademisi UIN Riski Gunawan M.Pd.I. menyampaikan Islam yang benar yaitu Islam rahmatan lil alamin, yang ikut serta memberantas radikalisme. Provinsi Lampung, kata Riski, berada di peringkat kedua tingkat radikalisme di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":18311,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"class_list":["post-18310","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pertahanan-dan-keamanan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18310","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18310"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18310\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18310"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18310"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18310"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}