{"id":17903,"date":"2021-09-16T20:58:57","date_gmt":"2021-09-16T13:58:57","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=17903"},"modified":"2021-09-16T20:58:57","modified_gmt":"2021-09-16T13:58:57","slug":"kepala-upt-tik-unila-m-komarudin-dalam-pembelajaran-daring-konten-harus-menarik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2021\/09\/16\/kepala-upt-tik-unila-m-komarudin-dalam-pembelajaran-daring-konten-harus-menarik\/","title":{"rendered":"Kepala UPT TIK Unila M. Komarudin: Dalam Pembelajaran Daring Konten Harus Menarik"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDAR LAMPUNG (lampungbarometer.id)<\/strong>: Masa Pandemi Covid-19 dan era revolusi industri 4.0 memiliki titik temu yang cocok. Metode pembelajaran dalam jaringan <em>(daring)<\/em> yang mengharuskan kita menguasai teknologi sangat potensial meningkatkan kemampuan dalam memahami IT.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan Kepala Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Ka-UPT TIK) Universitas Lampung Muhammad Komarudin, S.T., M.T. kepada <em>lampungbarometer.id<\/em> saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16\/9\/2021).<\/p>\n<p>Ahli IT yang dikenal sebagai &#8220;Habibie dari Lampung&#8221; karena menemukan chip drone pesawat tempur ini, juga menyampaikan salah satu yang harus diperhatikan dalam pembelajaran daring adalah kemampuan memilih konten-konten yang menarik.<\/p>\n<p>Menurut dia, saat ini banyak generasi muda yang belajar secara daring mampu meningkatkan kompetensinya lalu menempati posisi bagus di tempat-tempat yang sangat strategis seperti <em>Amazon<\/em> atau <em>Google<\/em>.<\/p>\n<div id=\"attachment_17904\" style=\"width: 610px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-17904\" class=\"wp-image-17904\" src=\"https:\/\/sementara.biz.id\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/1631800368349-300x178.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"450\" \/><p id=\"caption-attachment-17904\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>KEPALA<\/strong> UPT Teknologi Informasi Dan Komputer Universitas Lampung Muhammad Komarudin, S.T., M.T.<\/em><\/p><\/div>\n<p>&#8220;Di sinilah peran IT yang sesunguhnya, bagaimana kita bisa mengadaptasi dan mampu memaksimalkan potensi mereka ini sebagai generasi milenial. Jadi intinya bagaimana potensi generasi milenial ini mampu kita letakkan dengan tepat,&#8221; ucap Komar.<\/p>\n<p>Dia juga mengingatkan bahwa generasi milenial merupakan generasi kekinian yang kurang menyukai konten-konten yang sifatnya terlampau teoretis dan lebih menyukai konten-konten yang bisa sesuai atau secara langsung lebih kepada kontekstual.<\/p>\n<p>&#8220;Mereka lebih menyukai dunia yang sifatnya nyata, dan bukan hanya tataran ide. Misalnya saja mahasiswa, saat diminta untuk membuat website, mereka langsung berpikir bagaimana <em>website<\/em> yang dibuat itu bisa menjadi tempat untuk jualan. Di sinilah mereka bisa langsung melakukan pembelajaran <em>experiential learning<\/em>, yaitu belajar langsung mengalami,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Kepada <em>lampungbarometer.id<\/em>, Komar juga menyampaikan saat ini Unila telah 100% melaksanakan pembelajaran secara <em>daring<\/em> dengan fasilitas yang mumpuni.<\/p>\n<p>&#8220;Di awal Pandemi hanya 15%, lalu naik 30%, dan kini kita paksa untuk melaksanakan pembelajaran 100% <em>daring<\/em> dengan fasilitas yang mumpuni.<\/p>\n<p>&#8220;Kuncinya adalah kontennya harus interaktif menarik bukan sekadar memindahkan materi yang sebelumnya digunakan untuk pembelajaran tatap muka lalu kita pindah ke pembelajaran daring. Kalau seperti itu tentu saja sangat membosankan bagi mahasiswa,&#8221; ujarnya menambahkan.<\/p>\n<p>Lebih lanjut dia juga mengimbau agar dalam pembelajaran daring ini mahasiswa tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan. Kedua, dia juga meminta mahasiswa untuk meningkatkan kemandirian serta proaktif.<\/p>\n<p>&#8220;Mahasiswa bukan hanya menerima tapi betul-betul harus mencari, inilah model sinkron-asinkron. Saya lihat mahasiswa saat ini sudah menerapkan itu. Misalnya saja ketika Zoom Meeting mereka aktif menanyakan apa, bagaimana, mengapa demikian dan sebagainya. Ini menunjukkan kalau siswa memang sudah aktif dalam pembelajaran ini,&#8221; pungkasnya. (AK)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDAR LAMPUNG (lampungbarometer.id): Masa Pandemi Covid-19 dan era revolusi industri 4.0 memiliki titik temu yang cocok. Metode pembelajaran dalam jaringan (daring) yang mengharuskan kita menguasai teknologi sangat potensial meningkatkan kemampuan dalam memahami IT. Hal itu disampaikan Kepala Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Ka-UPT TIK) Universitas Lampung Muhammad Komarudin, S.T., M.T. kepada lampungbarometer.id saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16\/9\/2021). Ahli IT yang dikenal sebagai &#8220;Habibie dari Lampung&#8221; karena menemukan chip drone pesawat tempur ini, juga menyampaikan salah satu yang harus diperhatikan dalam pembelajaran daring adalah kemampuan memilih konten-konten yang menarik. Menurut dia, saat ini banyak generasi muda yang belajar secara daring mampu meningkatkan kompetensinya lalu menempati posisi bagus di tempat-tempat yang sangat strategis seperti Amazon atau Google. &#8220;Di sinilah peran IT yang sesunguhnya, bagaimana kita bisa mengadaptasi dan mampu memaksimalkan potensi mereka ini sebagai generasi milenial. Jadi intinya bagaimana potensi generasi milenial ini mampu kita letakkan dengan tepat,&#8221; ucap Komar. Dia juga mengingatkan bahwa generasi milenial merupakan generasi kekinian yang kurang menyukai konten-konten yang sifatnya terlampau teoretis dan lebih menyukai konten-konten yang bisa sesuai atau secara langsung lebih kepada kontekstual. &#8220;Mereka lebih menyukai dunia yang sifatnya nyata, dan bukan hanya tataran ide. Misalnya saja mahasiswa, saat diminta untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":17905,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-17903","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17903","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17903"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17903\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17903"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17903"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17903"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}