{"id":17666,"date":"2021-09-09T08:14:12","date_gmt":"2021-09-09T01:14:12","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=17666"},"modified":"2021-09-09T08:14:12","modified_gmt":"2021-09-09T01:14:12","slug":"ini-3-provinsi-dengan-indeks-nilai-terbaik-berdasar-kompetisi-sains-ruangguru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2021\/09\/09\/ini-3-provinsi-dengan-indeks-nilai-terbaik-berdasar-kompetisi-sains-ruangguru\/","title":{"rendered":"Ini 3 Provinsi dengan Indeks Nilai Terbaik Berdasar Kompetisi Sains Ruangguru"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDAR LAMPUNG (lampungbarometer.id): <\/strong>Tiga provinsi di Indonesia memiliki indeks nilai terbaik untuk bidang sains kategori SMA berdasar analisis Ruangguru terhadap data peserta Kompetisi Sains Ruangguru (KSR) dengan menggunakan 6 indikator.<\/p>\n<p>KSR merupakan kompetisi sains tingkat nasional untuk jenjang SMA\/MA yang memperlombakan 6 bidang ilmu, antara lain Matematika, Biologi, Kimia, Fisika, Ekonomi, dan Geografi. Kompetisi ini diikuti 20.222 siswa SMA\/MA dari 34 provinsi di Indonesia.<\/p>\n<p>VP Marketing Ruangguru, Ignatius Untung Surapati mengatakan berdasarkan rata-rata skor kumulatif untuk setiap mata pelajaran, indeks nilai terbaik didominasi provinsi di Pulau Jawa dan Bali, kemudian diikuti provinsi di Sumatera.<\/p>\n<p>Di Pulau Jawa, skor setiap mata pelajaran tergolong cukup merata dengan nilai yang tidak terpaut jauh. Sedangkan di Pulau Sumatera, skor setiap mata pelajaran terhitung merata, namun ada anomali dari Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Riau.<\/p>\n<p>Untung juga menganalisis indeks nilai setiap mata pelajaran dari masing-masing provinsi terhadap beberapa indikator pembanding. Dari keenam indikator yang digunakan, indikator penetrasi internet cukup berpengaruh terhadap indeks nilai yang diperoleh.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-17667\" src=\"https:\/\/sementara.biz.id\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Info_-_Kompetisi_Sains_Ruangguru-02-300x178.jpeg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"400\" \/><\/p>\n<p>&#8220;Penetrasi internet menjadi salah satu pendorong tapi tidak mutlak. Tapi kalau penetrasi internet saja tidak bagus gimana dengan indeksnya,&#8221; terang Untung dalam acara\u00a0Media Gathering Online\u00a0KSR, Rabu (8\/9\/2021).<\/p>\n<p>Indikator Perbandingan yang Digunakan<\/p>\n<p>Berikut indikator yang digunakan oleh Ruangguru dalam melakukan analisis terhadap\u00a0indeks nilai\u00a0pada masing-masing provinsi.<\/p>\n<p>1. Penetrasi Internet<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh kesimpulan tingkat penetrasi internet yang tinggi bukanlah jaminan untuk mendapatkan indeks nilai tinggi. Namun, tingkat penetrasi yang rendah disebut sulit untuk mendorong nilai.<\/p>\n<p>2. Uji Kompetensi Guru<\/p>\n<p>Selanjutnya, Untung juga menggunakan Uji Kompetensi Guru (UKG) tingkat nasional sebagai salah satu pembanding. Hasilnya menunjukkan, terdapat korelasi positif antara provinsi dan UKG di atas rata-rata nasional dengan indeks nilai yang diraih peserta KSR.<\/p>\n<p>3. Faktor Ekonomi<\/p>\n<p>Walaupun faktor ekonomi sering dianggap berkontribusi dalam pendidikan, hal tersebut tidak terbukti dalam data KSR. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Jawa di luar DKI Jakarta yang tidak terlalu tinggi dapat mendorong nilai tinggi.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi dan Papua Barat memiliki PDRB per kapita tinggi, namun data menunjukkan tidak mendorong nilai KSR.<\/p>\n<p>4. Rasio Guru dan Siswa<\/p>\n<p>Berdasarkan analisis data KSR, rasio guru dan siswa tidak selalu berkorelasi terhadap indeks nilai yang diperoleh. Provinsi seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Jambi memiliki rasio guru dibanding siswa baik, namun nilai yang diperoleh cenderung rendah.<\/p>\n<p>5. Rasio Guru Per Sekolah<\/p>\n<p>Selain rasio guru dibandingkan dengan siswa, analisis juga dilakukan terhadap rasio guru per sekolah. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada korelasi dengan indeks nilai yang diperoleh. Contohnya di provinsi dengan rasio guru per sekolah baik namun nilai yang diraih cenderung rendah seperti sekolah di provinsi NTT, Gorontalo, dan Aceh.<\/p>\n<p>Sementara itu, provinsi dengan rasio guru per sekolah rendah namun dapat meraih nilai yang cenderung tinggi ternyata diduduki oleh wilayah Kepulauan Riau, Jawa Timur, Banten, dan Sulawesi Barat.<\/p>\n<p>6. Jenis Sekolah (Swasta dan Negeri)<\/p>\n<p>Terakhir, analisis juga dilakukan terhadap jenis sekolah, yakni swasta dan negeri. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun terdapat beberapa anomali, masih terdapat indikasi sekolah swasta memiliki korelasi positif dengan indeks nilai.<\/p>\n<p><strong>Provinsi dengan Indeks Nilai Sains Terbaik<\/strong><\/p>\n<p>Berdasarkan keenam indikator tersebut, diperoleh 3 provinsi dengan indeks nilai terbaik. Ketiganya adalah D.I. Yogyakarta, Kepulauan Riau, dan Riau.<\/p>\n<p><strong>1. D.I. Yogyakarta<\/strong><\/p>\n<p>Siswa yang berasal dari Provinsi D.I.Yogyakarta meraih indeks nilai sangat baik di semua bidang walaupun rasio guru terhadap jumlah siswa tergolong rendah dan PDRB per kapita rendah.<\/p>\n<p>Beberapa faktor yang diperkirakan membantu prestasi ini adalah tingkat penetrasi internet yang tinggi yakni 62%, rasio sekolah swasta, dan jumlah siswa per kelas yang rendah.<\/p>\n<p><strong>2. Kepulauan Riau<\/strong><\/p>\n<p>Nilai peserta KSR dari siswa di Provinsi Kepulauan Riau sangat baik di semua bidang, bahkan saat rasio guru terhadap siswa dan jumlah sekolah swasta tergolong rendah. Faktor yang diperkirakan dapat membawa Kepulauan Riau menduduki posisi kedua adalah tingkat penetrasi internet yang tinggi yakni 65% dan PDRB per kapita tinggi.<\/p>\n<p><strong>3. Riau<\/strong><\/p>\n<p>Peringkat ketiga adalah Provinsi Riau. Nilai yang diraih siswa dari Provinsi Riau sangat baik di semua bidang bahkan ketika nilai fisika rendah, rasio guru terhadap jumlah siswa tergolong rendah, rasio guru per sekolah rendah, hingga tingkat penetrasi internet di bawah rata-rata nasional, yakni 45%.<\/p>\n<p>Beberapa faktor yang dimungkinkan membantu\u00a0perolehan prestasi\u00a0tersebut adalah PDRB per kapita tinggi yakni 102.292 dan rasio sekolah swasta terhadap sekolah negeri dengan perbandingan 4:3. (*\/red)<\/p>\n<p><em><strong>Informasi ini sudah tayang di detikcom dengan Judul &#8220;Tiga Provinsi dengan Indeks Nilai Terbaik Berdasarkan Kompetisi Sains Ruangguru&#8221;<\/strong><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDAR LAMPUNG (lampungbarometer.id): Tiga provinsi di Indonesia memiliki indeks nilai terbaik untuk bidang sains kategori SMA berdasar analisis Ruangguru terhadap data peserta Kompetisi Sains Ruangguru (KSR) dengan menggunakan 6 indikator. KSR merupakan kompetisi sains tingkat nasional untuk jenjang SMA\/MA yang memperlombakan 6 bidang ilmu, antara lain Matematika, Biologi, Kimia, Fisika, Ekonomi, dan Geografi. Kompetisi ini diikuti 20.222 siswa SMA\/MA dari 34 provinsi di Indonesia. VP Marketing Ruangguru, Ignatius Untung Surapati mengatakan berdasarkan rata-rata skor kumulatif untuk setiap mata pelajaran, indeks nilai terbaik didominasi provinsi di Pulau Jawa dan Bali, kemudian diikuti provinsi di Sumatera. Di Pulau Jawa, skor setiap mata pelajaran tergolong cukup merata dengan nilai yang tidak terpaut jauh. Sedangkan di Pulau Sumatera, skor setiap mata pelajaran terhitung merata, namun ada anomali dari Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Riau. Untung juga menganalisis indeks nilai setiap mata pelajaran dari masing-masing provinsi terhadap beberapa indikator pembanding. Dari keenam indikator yang digunakan, indikator penetrasi internet cukup berpengaruh terhadap indeks nilai yang diperoleh. &#8220;Penetrasi internet menjadi salah satu pendorong tapi tidak mutlak. Tapi kalau penetrasi internet saja tidak bagus gimana dengan indeksnya,&#8221; terang Untung dalam acara\u00a0Media Gathering Online\u00a0KSR, Rabu (8\/9\/2021). Indikator Perbandingan yang Digunakan Berikut indikator yang digunakan oleh Ruangguru dalam melakukan analisis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":17668,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-17666","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17666","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17666"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17666\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17666"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17666"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17666"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}