{"id":1461,"date":"2019-12-13T05:15:47","date_gmt":"2019-12-13T05:15:47","guid":{"rendered":"http:\/\/lpgbrmtr.16mb.com\/?p=1461"},"modified":"2019-12-13T05:15:47","modified_gmt":"2019-12-13T05:15:47","slug":"sejarah-3-april-raja-yogyakarta-sri-sultan-hamengkubowono-iv-lahir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2019\/12\/13\/sejarah-3-april-raja-yogyakarta-sri-sultan-hamengkubowono-iv-lahir\/","title":{"rendered":"Sejarah 3 April: Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubowono IV Lahir"},"content":{"rendered":"\n<p>SRI&nbsp; Sultan Hamengkubuwana IV&nbsp;(Bahasa Jawa:&nbsp;Sri Sultan Hamengkubuwono IV),&nbsp;lahir&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/3_April\">3 April<\/a>&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1804\">1804<\/a>&nbsp;dan meninggal&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/6_Desember\">6 Desember<\/a>&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1823\">1823<\/a>&nbsp;pada umur 19 tahun, merupakan raja&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kesultanan_Yogyakarta\">Kesultanan Yogyakarta<\/a>&nbsp;yang memerintah pada tahun&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1814\">1814<\/a>&nbsp;&#8211;&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1822\">1822<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Nama aslinya adalah&nbsp;Gusti Raden Mas Ibnu Jarot, putra ke delapan belas&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Hamengkubuwana_III\">Hamengkubuwana III<\/a>&nbsp;yang lahir dari permaisuri&nbsp;Gusti Kanjeng Ratu Kenconotanggal&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/3_April\">3 April<\/a>&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1804\">1804<\/a>. Ia naik tahta menggantikan ayahnya pada usia sepuluh tahun, yaitu tahun&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1814\">1814<\/a>. Karena usianya masih sangat muda,&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Paku_Alam_I\">Paku Alam I<\/a>&nbsp;ditunjuk sebagai wali pemerintahannya.<ins><\/ins><\/p>\n\n\n\n<p>Pada pemerintahan Hamengkubuwono IV, kekuasaan Patih Danurejo IV semakin merajalela. Ia menempatkan saudara-saudaranya menduduki jabatan-jabatan penting di&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Keraton\">keraton<\/a>. Keluarga Danurejan ini terkenal tunduk pada&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Belanda\">Belanda<\/a>. Mereka juga mendukung pelaksanaan sistem Sewa Tanah untuk swasta, yang hasilnya justru merugikan rakyat kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/20_Januari\">20 Januari<\/a>&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1820\">1820<\/a>&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Paku_Alam_I\">Paku Alam I<\/a>&nbsp;meletakkan jabatan sebagai wali raja. Pemerintahan mandiri Hamengkubuwono IV itu hanya berjalan dua tahun karena ia tiba-tiba meninggal dunia pada tanggal&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/6_Desember\">6 Desember<\/a>&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1822\">1823<\/a>&nbsp;saat sedang bertamasya.&nbsp;Oleh karena itu, Hamengkubuwono IV pun mendapat gelar anumerta&nbsp;Sinuhun Jarot, Seda Besiyar.<\/p>\n\n\n\n<p>Kematian Hamengkubuwono IV yang serbamendadak ini menimbulkan desas-desus bahwa ia tewas diracun ketika sedang bertamasya.&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Putra_mahkota\">Putra mahkota<\/a>&nbsp;yang belum genap berusia tiga tahun diangkat sebagai raja, bergelar&nbsp;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Hamengkubuwono_V\">Hamengkubuwono V<\/a>. (wikipedia)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SRI&nbsp; Sultan Hamengkubuwana IV&nbsp;(Bahasa Jawa:&nbsp;Sri Sultan Hamengkubuwono IV),&nbsp;lahir&nbsp;3 April&nbsp;1804&nbsp;dan meninggal&nbsp;6 Desember&nbsp;1823&nbsp;pada umur 19 tahun, merupakan raja&nbsp;Kesultanan Yogyakarta&nbsp;yang memerintah pada tahun&nbsp;1814&nbsp;&#8211;&nbsp;1822. Nama aslinya adalah&nbsp;Gusti Raden Mas Ibnu Jarot, putra ke delapan belas&nbsp;Hamengkubuwana III&nbsp;yang lahir dari permaisuri&nbsp;Gusti Kanjeng Ratu Kenconotanggal&nbsp;3 April&nbsp;1804. Ia naik tahta menggantikan ayahnya pada usia sepuluh tahun, yaitu tahun&nbsp;1814. Karena usianya masih sangat muda,&nbsp;Paku Alam I&nbsp;ditunjuk sebagai wali pemerintahannya. Pada pemerintahan Hamengkubuwono IV, kekuasaan Patih Danurejo IV semakin merajalela. Ia menempatkan saudara-saudaranya menduduki jabatan-jabatan penting di&nbsp;keraton. Keluarga Danurejan ini terkenal tunduk pada&nbsp;Belanda. Mereka juga mendukung pelaksanaan sistem Sewa Tanah untuk swasta, yang hasilnya justru merugikan rakyat kecil. Pada&nbsp;20 Januari&nbsp;1820&nbsp;Paku Alam I&nbsp;meletakkan jabatan sebagai wali raja. Pemerintahan mandiri Hamengkubuwono IV itu hanya berjalan dua tahun karena ia tiba-tiba meninggal dunia pada tanggal&nbsp;6 Desember&nbsp;1823&nbsp;saat sedang bertamasya.&nbsp;Oleh karena itu, Hamengkubuwono IV pun mendapat gelar anumerta&nbsp;Sinuhun Jarot, Seda Besiyar. Kematian Hamengkubuwono IV yang serbamendadak ini menimbulkan desas-desus bahwa ia tewas diracun ketika sedang bertamasya.&nbsp;Putra mahkota&nbsp;yang belum genap berusia tiga tahun diangkat sebagai raja, bergelar&nbsp;Hamengkubuwono V. (wikipedia)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1463,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-1461","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1461","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1461"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1461\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1461"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1461"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1461"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}