{"id":11377,"date":"2021-01-17T20:20:56","date_gmt":"2021-01-17T13:20:56","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=11377"},"modified":"2021-01-17T20:20:56","modified_gmt":"2021-01-17T13:20:56","slug":"kelangkaan-pupuk-bersubsidi-di-way-lima-sudah-teratasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2021\/01\/17\/kelangkaan-pupuk-bersubsidi-di-way-lima-sudah-teratasi\/","title":{"rendered":"Kelangkaan Pupuk Bersubsidi di Way Lima Sudah Teratasi"},"content":{"rendered":"<p><strong>PESAWARAN (lampungbarometer.id)<\/strong>: Petani di Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran sudah bisa tenang, sebab pupuk bersubsidi yang sempat langka kini sudah teratasi dan harganya stabil.<\/p>\n<p>&#8220;Syukur Alhamdulilah kebutuhan pupuk bersubsidi jenis Urea dan NPK Phonska untuk wilayah Kecamatan Way Lima saat ini sudah terpenuhi. Kini kami sudah bisa mendapatkan pupuk sesuai harga standar,&#8221; ujar Annurul, salah satu petani di Desa Tanjung Agung, Minggu (17\/1\/2021).<\/p>\n<p>Dia juga mengatakan dengan adanya ketersediaan pupuk dan harga yang stabil, petani ada harapan untuk mandapatkan hasil panen yang melimpah.<\/p>\n<div id=\"attachment_11379\" style=\"width: 410px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-11379\" class=\"wp-image-11379\" src=\"https:\/\/sementara.biz.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/IMG-20210117-WA0036-200x112.jpg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"300\" \/><p id=\"caption-attachment-11379\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>TAMPAK<\/strong> Petani di Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran membeli pupuk bersubsidi.<\/em><\/p><\/div>\n<p>&#8220;Alhamdulilah berkat kerja sama dinas, distributor dan pengecer, kebutuhan pupuk bersubsidi bisa terpenuhi. Mudah-mudahan hasil panen padi kami meningkat,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<p>Menurut Annurul, sebelumnya di akhir Desember 2020 hingga awal Januari 2021, sempat terjadi kelangkaan pupuk tapi kini sudah teratasi.<\/p>\n<p>&#8220;Memang sebelumnya pupuk sempat langka, tepatnya di akhir Desember 2020 hingga awal Januari 2021, tapi sekarang sudah normal,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Gunawan, salah satu distributor, pengecer pupuk bersubsidi, kepada media ini mengakui memang biasanya di akhir tahun ada jeda pengiriman antara Desember dan awal Januari.<\/p>\n<p>&#8220;Antara akhir Desember hingga Januari memang biasanya pupuk agak langka karena ada jeda pengiriman. Tapi sekarang semua sudah normal,&#8221; katanya. (AK)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PESAWARAN (lampungbarometer.id): Petani di Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran sudah bisa tenang, sebab pupuk bersubsidi yang sempat langka kini sudah teratasi dan harganya stabil. &#8220;Syukur Alhamdulilah kebutuhan pupuk bersubsidi jenis Urea dan NPK Phonska untuk wilayah Kecamatan Way Lima saat ini sudah terpenuhi. Kini kami sudah bisa mendapatkan pupuk sesuai harga standar,&#8221; ujar Annurul, salah satu petani di Desa Tanjung Agung, Minggu (17\/1\/2021). Dia juga mengatakan dengan adanya ketersediaan pupuk dan harga yang stabil, petani ada harapan untuk mandapatkan hasil panen yang melimpah. &#8220;Alhamdulilah berkat kerja sama dinas, distributor dan pengecer, kebutuhan pupuk bersubsidi bisa terpenuhi. Mudah-mudahan hasil panen padi kami meningkat,&#8221; ucapnya. Menurut Annurul, sebelumnya di akhir Desember 2020 hingga awal Januari 2021, sempat terjadi kelangkaan pupuk tapi kini sudah teratasi. &#8220;Memang sebelumnya pupuk sempat langka, tepatnya di akhir Desember 2020 hingga awal Januari 2021, tapi sekarang sudah normal,&#8221; ujarnya. Sementara itu, Gunawan, salah satu distributor, pengecer pupuk bersubsidi, kepada media ini mengakui memang biasanya di akhir tahun ada jeda pengiriman antara Desember dan awal Januari. &#8220;Antara akhir Desember hingga Januari memang biasanya pupuk agak langka karena ada jeda pengiriman. Tapi sekarang semua sudah normal,&#8221; katanya. (AK)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11378,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-11377","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pertanian"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11377","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11377"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11377\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11377"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11377"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11377"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}