Seni Budaya

Kebudayaan Lampung Tak Punya Masa Depan?

137
×

Kebudayaan Lampung Tak Punya Masa Depan?

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung (LB): Masa depan kebudayaan Lampung begitu muram dan nyaris tanpa harapan disebabkan kurangnya perhatian pemerintah daerah yang menganggap kebudayaan bukan sesuatu yang penting.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan rutin bulanan Majelis 27-an Ngobrol Budaya yang digelar Komunitas Berkat Yakin (KOBER) bersama Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila, Keluarga Alumni UKMBS Unila (KAULA) dan Lampung Kultur pada Kamis (27/6/2024) Pukul 20.00 WIB sampai Pukul 23.00 WIB.

Dibuka dengan penampilan grup musik Orkes Ba’da Isya, diskusi bulanan ini mengangkat Tema “Masa Depan Kebudayaan Lampung?” dengan menghadirkan Kawan Ngobrol penyair dan budayawan Direktur Ekskutif Teater Satu Lampung Iswadi Pratama dan dimoderatori penyair budayawan Ari Pahala Hutabarat.

Dalam prolognya saat memandu acara, Ari Pahala yang menghibahkan dirinya di jalan kesenian, menyampaikan banyak hal di bidang kebudayaan Lampung sulit dilakukan dan mengalami kebuntuan sebab kebudayaan Lampung diartikan seakan sebagai sebuah realitas yang layak dikesampingkan oleh pemerintah daerah.

“Kita belum melihat perhatian pemerintah yang serius terhadap pengembangan kebudayaan di Lampung. Oleh sebab itu, kita berharap pertemuan yang kita lakukan seperti malam ini bisa menjadi harapan,” ucap Ari Pahala.

PENAMPILAN Kelompok musik Orkes Ba’da Isya menjadi pembuka kegiatan Ngobrol Budaya Majelis 27-an, Kamis (27/6/2024).

Sementara itu, Iswadi Pratama dalam pemaparannya menyampaikan saat ini kebanyakan kita hanyut dalam keseharian sehingga tidak ada refleksi. Menurutnya, yang ada saat ini hanyalah kesadaran ekonomikal yang mengakibatkan segala sesuatunya diukur secara ekonomi, termasuk ukuran sebuah kesuksesan.

“Jadi capaian di bidang kebudayaan misalnya, karya-karya atau proses kreatif dalam berkesenian, diskusi seperti ini dianggap bukan sebuah kesuksesan. Hari ini kita terjebak dalam hal profan dan kehilangan kesakralan. Semua adalah semacam rutinitas belaka,” ujar Iswadi.

“Hidup yang tidak mampu engkau refleksikan adalah hidup yang tidak layak engkau jalani. Misalnya saja salat, banyak orang melaksanakan salat karena dianggap sebagai sebuah kewajiban, sebuah rutinitas tanpa refleksi,” imbuhnya.

Selanjutnya, Iswadi juga menyampaikan tugas komunitas seni adalah mengevakuasi akal sehat dan sikap kritis setiap individu untuk menjaga nilai-nilai di tengah bencana peradaban dan kebudayaan saat ini harus ada tim rescue yang menolong hati dan menolong akal sehat.

Alumni FISIP Unila ini juga mengatakan untuk melihat apakah seseorang konsisten atau tidak, berkualitas atau tidak, bertanggung jawab atau tidak bisa dilihat dari rekam jejaknya dan tidak bisa dinilai dari apa yang dia sampaikan saat berpidato.

“Dalam konteks hari ini misalnya, menjelang Pilkada seperti sekarang, apa yang disampaikan calon gubernur atau calon bupati saat berpidato tidak bisa menjadi jaminan. Untuk melihat apakah dia baik atau tidak, tinggal kita lihat bagaimana rekam jejaknya,” ucap Iswadi.

TAMPAK para seniman, budayawan, aktivis seni, mahasiswa dan pelaku seni hadir mengikuti Ngobrol Budaya Majelis 27-an di lantai dasar Graha Mahasiswa Unila pada Kamis (27/6/2024) malam.

Sementara itu, Kepala Kantor DPD RI Provinsi Lampung, Gino Vanollie, saat dimintai tanggapan terkait masa depan kebudayaan Lampung, dia menyoroti dalam konteks kebudayaan hari ini, semua struktur kebudayaan kita saat ini lemah.

“Hampir semua yang kita lakukan hari ini adalah hal yang remeh temeh, kita tidak pernah berpikir sampai batas kemampuan kita, bahkan kita tidak bangga dengan profesi kita. Lalu bagaimana mungkin kita berbicara tentang masa depan kebudayaan kita,” ujar Gino.

“Kita berada dalam kondisi yang sangat berat dan menghadirkan pesimisme,” pungkasnya.

Hal berbeda disampaikan Muhammad Yunus, alumni UKMBS Unila yang kini berprofesi sebagai lawyer. Menurutnya, kita tak perlu mengenang masa lalu dan membahas masa depan. Yang perlu kita pikirkan, ucap Yunus, apa yang harus kita lakukan hari ini.

“Kalau saya santai saja. Saya bahkan tidak perlu masa lalu dan tak ingin punya masa depan. Saya hanya berpikir apa yang mesti saya lakukan hari ini. Itu saja,” tandasnya.

Sebagai penutup, Ari Pahala Hutabarat mengingatkan pentingnya menjaga benih kesadaran terus tumbuh dan berkembang biak di dalam pikiran sehingga terus membesar.

“Benih kesadaran itu penting, kegiatan-kegiatan diskusi seperti ini menjadi hal penting untuk menjaga supaya kesadaran itu terus berkembang biak dalam pikiran kita,” tegasnya.

Hadir juga dalam diskusi ngobrol budaya ini Penyair Edy Samudera Kertagama, Ketua Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Lampung Anton Kurniawan, cerpenis Yulizar Lubay, pegiat teater Imas Sobariah, Ketua Bio Energi Nery Juliawan, aktor teater Alexander GB, dosen FKIP Unila Edi Siswanto, seniman dan aktivis kampus dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lampung. (AK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *