Bandar LampungSeni Budaya

Revitalisasi dan Evakuasi Bahasa Lampung, KOBER Gelar Festival Seni ‘Menatap Tubuh Bahasa’

245
×

Revitalisasi dan Evakuasi Bahasa Lampung, KOBER Gelar Festival Seni ‘Menatap Tubuh Bahasa’

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung (LB): KOBER (Komunitas Berkat Yakin), melalui Rumah Kebudayaan Kober, akan menggelar hajatan kultural bertajuk “Menatap Tubuh Bahasa”: Festival Seni Bahasa Lampung.”

Hal itu dikatakan Alexander Gebe, ketua pelaksana program kegiatan ini, saat ditemui di Sekretariat KOBER, Jl. Swadaya 10, Gunung Terang, Bandar Lampung, Minggu (3/3/2024). Dia juga menjelaskan hajat atau even ini rencananya akan dihelat di Taman Budaya Lampung pada Maret sampai Juli 2024.

“Semua itu berkat dukungan pemerintah (Kemendikbudristek) melalui Program Dana Indonesiana-LPDP 2023: Kategori Pendayagunaan Ruang Publik,” tuturnya.

“Hajat kultural bertajuk Festival Seni Bahasa Lampung ini diselenggarakan berdasarkan satu proposisi problem, yaitu punahnya Bahasa Lampung dalam kurun waktu tiga puluh enam (36) tahun,” tambahnya.

Menurut Gebe, proposisi tersebut muncul berdasarkan riset pakar sosiolinguistik, Prof. Hasyim Gunawan (1984) yang menuliskan bahwa Bahasa Lampung diprediksi akan punah dalam 3 generasi, yang berarti 75 tahun dari tahun 1984. Hal itu didukung data Badan Bahasa Kemendikbud Tahun 2022 bahwa sebanyak 139 bahasa daerah terancam punah, dan bahasa Lampung ada di antaranya.

“Kita tahu dari beberapa ahli Bahasa bahwa bahasa merupakan alat utama dalam melaksanakan kehidupan sosial. Bahasa dikatakan sebagai sistem simbol nilai budaya. Dalam konteks komunikasi, bahasa mengekspresikan realitas budaya di mana melalui bahasa, facts, ideas, dan events/pengalaman manusia dapat diekspresikan, dan sikap serta kepercayaan dapat direfleksikan,” katanya.

DISKUSI. Kegiatan diskusi rutin dilakukan di Komunitas Berkat Yakin (KOBER). (Foto: Dokumentasi KOBER). Tampak Ari Pahala Hutabarat bersama anggota KOBER sedang berdiskusi. (Foto: Dokumentasi KOBER).

Oleh karena itu, ujar Gebe, KOBER merasa perlu melakukan revitalisasi, bahkan evakuasi Bahasa Lampung melalui seminar budaya “Cawa Lappung”, beberapa workshop, dan tindak/ekspresi/pementasan seni: Teater, musik, dan puisi, sehingga, melalui Festival ini masyarakat dapat merasakan langsung bagaimana bahasa Lampung yang digunakan dalam hidup sehari-hari bisa terpresentasi dalam karya seni.

“Tujuannya jelas, yakni menjaga warisan budaya melalui pemertahanan bahasa ke berbagai macam karya seni, mendorong masyarakat untuk melestarikan bahasa Lampung, menciptakan ruang komunikasi yang lebih terbuka terkait pemertahanan bahasa Lampung, dan melakukan dokumentasi dan sosialisasi yang baik terhadap ragam seni tradisi di Lampung,” ungkapnya.

Menurut Gebe, kegiatan ini untuk segi manfaat pun jelas, di antaranya membuat para pelaku seni memahami pentingnya mempertahankan eksistensi bahasa Lampung, menginspirasi para akademisi, pendidik, pegiat budaya untuk meriset atau mengkaji dalam rangka melestarikan bahasa Lampung.

Selain itu, ungkapnya, dari sisi dampak dan sasaran pun demikian. Dampak dan sasaran program ini jelas: menciptakan sikap bahasa yang positif pada masyarakat penutur jati bahasa Lampung (terutama untuk generasi Z atau sekalian generasi milenial), mendorong lahirnya kebijakan yang berfokus pada penciptaan ruang kebudayaan berbasis bahasa Lampung.

“Selain itu, kegiatan ini mendorong lahirnya berbagai karya, baik seni maupun ilmiah, yang mengusung bahasa Lampung sebagai basis penciptaan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ari Pahala Hutabarat sebagai perancang program, saat ditemui di kediamannya mengatakan program ini adalah satu upaya sederhana KOBER agar bahasa dan kebudayaan di tanah Lampung tercinta bisa lebih semarak dan bermakna. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *