Bandar Lampung

Ketua PP Kota Bandar Lampung: Pemkot Dan DPRD Harus Tanggung Jawab atas Kerugian Warga Akibat Banjir

622
×

Ketua PP Kota Bandar Lampung: Pemkot Dan DPRD Harus Tanggung Jawab atas Kerugian Warga Akibat Banjir

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung (LB): Tokoh muda Lampung yang juga Ketua Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila (MPC PP) Kota Bandar Lampung, Cristopan Deswansyah, menyoroti peristiwa banjir yang melanda beberapa wilayah di Kota Bandar Lampung pada Sabtu (24/2/2024) malam.

Menyikapi peristiwa banjir tersebut, secara gamblang Cristopan menegaskan Pemerintah Kota (Pemkot) dan DPRD Kota Bandar Lampung menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas peristiwa memilukan ini, sehingga wajib mengganti kerugian warga korban banjir.

“Peristiwa banjir ini sangat memilukan bagi kita semua. Betapa banyak kerugian yang harus ditanggung masyarakat akibat banjir yang melanda beberapa daerah di Bandar Lampung akibat hujan deras pada Sabtu malam (24/2/2024) kemaren,” ucap Cristopan saat dihubungi lampungbarometer.id, Senin (26/2/2014) malam WIB.

Dengan bahasa satir dia memberikan sindiran kepada Pemerintah Kota Bandar Lampung dan para Anggota DPRD Kota yang disebutnya sudah menghitung ganti rugi berapa kerugian yang harus ditanggung warga akibat peristiwa banjir ini.

“Mungkinkah Pemerintah Kota dan juga Anggota DPRD Kota sudah menghitung berapa banyak alat elektronik milik warga yang rusak, berapa banyak dokumen penting yang hilang musnah, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membersihkan lumpur di rumah-rumah warga, berapa uang yang akan dikeluarkan kalau harus mengecat ulang rumahnya? Belum lagi kendaraan yang terendam, risiko kesehatan yang harus ditanggung akibat dampak banjir dan lain-lain. Ini jumlah yang sangat banyak, dan warga harus menanggung akibat Pemerintah abai melindungi hak warganya. Lantas kemana para Anggota Dewan yang Terhormat itu? sembur Cristopan.

Dia juga mengatakan banjir yang mulai rajin menyapa Kota Bandar Lampung ini disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya adalah pengelolaan drainase di Kota Bandar Lampung yang buruk, kantong-kantong resapan air yang ditimbun, pengerukan bukit, dan habisnya hutan kota.

Menurut Topan, jika drainasenya baik, seharusnya tidak terjadi banjir di Bandar Lampung karena posisi kota ini yang langsung berbatasan dengan laut. Dia menjelaskan drainase lalu lintas air di Bandar Lampung terganggu karena sudah tertutup pipa PDAM dan kabel optik perusahaan telekomunikasi sehingga tidak berfungsi dengan baik.

TERENDAM BANJIR. Tampak banjir merendam Jl. ZA Pagar Alam daerah Nunyai, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung akibat hujan lebat pada Sabtu (24/2/2024) lalu.

“Drainase kita ini tidak berfungsi maksimal karena juga digunakan untuk menanam pipa, kabel optik dan lain-lain. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai juga sangat rendah. Ini perlu edukasi, kita harus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa membuang sampah di sungai itu sangat berbahaya.”

“Pemerintah Kota harus memaksimalkan fungsi drainase sehingga air bisa mengalir sampai ke laut tanpa hambatan. Izin pendirian bangunan, khususnya di bantaran kali harus diperketat sehingga kali dan drainase bisa berfungsi dengan baik.”

“Kalau kita hitung diameter kota ini dari Kecamatan Rajabasa hingga Kecamatan Panjang itu tidak sampai 20 kilometer. Di daerah Panjang dan Teluk Betung itu ada laut, kita semua tahu kalau air itu mengalir menuju muara. Dimana muaranya? Ya di laut. Nah, Kota Bandar Lampung berbatasan langsung dengan laut. Jika memang drainasenya dikelola dengan baik serta dibangun embung dan sumur resapan, seharusnya tidak terjadi banjir,” ujarnya.

Cristopan juga berharap peristiwa ini menjadi pembelajaran sekaligus menyadarkan Pemerintah Kota Bandar Lampung dan para Anggota DPRD terkait kebijakan dan program apa yang seharusnya dibuat oleh Pemerintah.

Menurutnya, pemimpin daerah meninjau banjir, itu bagus, tapi harus ada solusi masa depan. Jika hanya meninjau tapi tidak diikuti dengan solusi nyata, tentu sangat disayangkan.

“Keliling ninjau banjir itu bagus, tapi ya harus ada solusi. Semoga saja peristiwa ini bisa menjadi refleksi bagi pemerintah Kota Bandar Lampung dalam membuat kebijakan yang pro rakyat. Perlu juga mungkin dikaji ulang seberapa penting menjaga kelestarian hutan kota dan ruang terbuka hijau. Atau seberapa besar urgensi membangun jembatan, jika dibanding membuat sumur resapan dan embung penampungan air agar tidak menggenangi badan jalan, permukiman warga, dan sekolah. Ini harus dipikirkan supaya ada solusi sebelum banjir yang lebih parah datang,” ungkapnya.

Selanjutnya dia juga berharap Pemkot Bandar Lampung bisa belajar dari Universitas Lampung, Itera dan UIN yang telah membuat embung untuk meminimalisasi risiko banjir.

BANJIR juga merendam jalan Yos Sudarso, Way Lunik, Bandar Lampung.

“Seharusnya Pemkot Bandar Lampung bisa meniru langkah perguruan tinggi tersebut, membuat embung di beberapa titik lokasi untuk menampung air ketika hujan, itu bagus. Misalnya di seputaran Al-Furqon, untuk menampung air dari Jalan Diponegoro, Jalan dr. Susilo dan Jalan Rasuna Said. Nah, dari embung itu air baru masuk selokan dan kali atau sungai untuk selanjutnya ke laut,” ucapnya.

Lebih lanjut dia juga menjelaskan Kota Bandar Lampung adalah kota yang sangat menarik dan kaya dengan berbagai potensi yang ada dan ditunjang dengan posisinya yang sangat strategis. Oleh sebab itu, dia meyakini jika dirawat dan dikelola dengan tepat, kota ini bisa lebih hebat dari Jakarta.

“Bandar Lampung ini kota yang sangat menjanjikan. Kita lihat ada berapa perusahaan besar di kota ini, berapa banyak hotel, lalu potensi wisata serta kulinernya yang banyak digemari para pengunjung. Ini semua potensi, sumber PAD yang sangat jelas. Tinggal bagaimana mengelolanya demi kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi. Saya yakin perusahaan-perusahaan besar itu sangat bertanggung jawab dengan CSR-nya (Corporate Social Responsibility), mereka akan dengan senang hati untuk bekerja sama membangun kota ini,” ungkap alumni Lemhanas ini.

Diinformasikan, hujan lebat yang melanda Kota Bandar Lampung pada Sabtu (24/2/204) mengakibatkan beberapa wilayah di Bandar Lampung terendam banjir, di antaranya, Perumahan Nunyai dan SDN 2 Rajabasa, Perumahan Bataranila, Perumahan Polri, Way Lunik, dan Sukaraja Teluk Betung. (ak/che)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *