Bandar LampungHukum dan Kriminal

Oknum Ustaz Ponpes Thoriqul Ibad Kemiling Diduga Cabuli Santriwati di Bawah Umur

560
×

Oknum Ustaz Ponpes Thoriqul Ibad Kemiling Diduga Cabuli Santriwati di Bawah Umur

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung (LB): Oknum Ustaz Pondok Pesantren Thoriqul Ibad Kemiling Bandar Lampung, SPR, dilaporkan ke polisi atas dugaan pencabulan terhadap salah satu santriwatinya yang masih di bawah umur berinisial SP (13), warga Kabupaten Pesawaran.

Dugaan pencabulan ini diceritakan korban kepada lampungbarometer.id saat ditemui di rumahnya, Senin (15/1/2023) malam. Kepada media ini, korban yang didampingi ayahnya, menceritakan kejadian tidak senonoh tersebut dialaminya pada Selasa (28/11/2023) lalu.

Berdasar cerita korban, modus tersangka adalah dengan mengajak korban untuk berbelanja sayur dan ikan yang akan dimasak untuk penghuni pondok pesantren tersebut. Peristiwa bermula saat SPR mengajak korban membeli sayuran di seputaran Kota Karang, Teluk Betung, Bandar Lampung pada Selasa, 17 November 2023 lalu selepas salat Isya.

Karena sudah malam dan merasa canggung jika hanya berjalan berdua, saat itu korban juga mengajak keponakannya yang masih berusia 9 tahun.

“Waktu itu abis Isya, Abi (panggilan korban kepada tersangka) mengajak saya untuk beli sayuran di Kota Karang. Waktu itu saya ajak keponakan saya karena sudah malam. Ustaz bawa motor, saya dan ponakan saya dibonceng di belakang,” ujar SP.

Selanjutnya, korban menceritakan usai mereka membeli sayuran, ternyata tersangka tidak langsung mengajak mereka pulang melainkan mengajak membeli ikan di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Lempasing. Di pusat pelelangan ikan ini mereka menunggu hingga hampir pukul 12.00 WIB tengah malam sebelum mendapatkan ikan.

Usai membeli ikan, tersangka mengajak korban pulang ke pondok pesantren. Dan saat itulah korban kaget karena tersangka memintanya mengemudikan motor dan tersangka duduk di belakang. Korban sempat menolak karena merasa risih, selain itu korban juga takut karena hari sudah larut malam.

Habis beli sayuran, kata ustaz-nya ngambil ikan dulu yuk ke PPI katanya. Terus kami ngambil ikan ke PPI nunggu sampai sekitar jam 12.00 WIB malam,” katanya.

“Habis itu sudah dapat ikan kami pulang. Waktu mau pulang itu saya disuruh bawa motor di depan. Kata Pak Ustaz, ini bawa motor, tapi saya bilang nggak lah Bi sudah malam, takut. Terus kata dia, ya udah nggak apa-apa, jadi saya yang bawa motor di depan. Saya kaget, setelah saya duduk di depan, saya kira ponakan saya yang duduk di tengah di belakang saya, tahunya Abinya yang duduk di tengah, ponakan saya duduk paling belakang,” ungkap SP.

Menurut SP, dalam perjalanan pulang tersebut tersangka Sepriyadi melakukan pencabulan dengan memeluk korban, meraba-raba dada dan memegang alat vital korban. Saat itu korban terkejut dan mengaku sangat ketakutan dan shock atas peristiwa tersebut.

“Waktu di motor itu, dia mulai meluk dan megang-megang bagian vital. Saya bilang Bi jangan, tapi dia cuma ketawa-tawa, dia malah meluk sama ngelus-ngelus paha. Ke ponakan saya dia bilang agar jangan bilang-bilang ke abah dan emak,” beber SP.

Akibat peristiwa tersebut, SP yang kini mengaku trauma telah keluar dari Pondok Pesantren Thoriqul Ibad. Dia juga tidak mau kembali belajar di pondok akibat trauma dengan perlakuan oknum Ustaz cabul.

Sementara itu, ayah korban berinisial SPD (47) mengatakan tidak terima atas kejadian yang dialami anaknya dan sudah melaporkan peristiwa pencabulan tersebut ke Polresta Bandar Lampung pada Rabu (10/1/2024).

Menurut SPD, dia mengetahui pencabulan yang dialami putrinya dari adiknya (bibi korban), karena anaknya tidak berani bercerita. Menurut SPD, putrinya masuk ke Pondok Pesantren Thoriqul Ibad Kemiling Bandar Lampung selepas lulus sekolah dasar sekitar pertengahan tahun 2023.

SPD menuturkan beberapa waktu lalu sang putri pulang dari pondok dan terkesan seperti enggan kembali ke pondok. Namun saat itu, ujarnya, dia tidak berpikir tentang hal negatif. Apalagi waktu itu dia mengaku tidak punya uang.

“Anak saya pulang dari pondok beberapa hari, terus kok sepertinya dia tidak bersemangat kembali ke pondok, padahal seharusnya dia sudah kembali. Jadi waktu itu saya tanya anak saya kenapa kamu nggak ke pondok? Dia bilang nanti, gitu jawabnya. Saat itu, saya betul-betul nggak punya duit. Jadi saya gadai motor saya Rp500 ribu untuk dia pulang ke pondok Ini juga atas saran istri saya,” kata SPD.

Selanjutnya, dia menceritakan uang hasil menggadai motor tersebut sebagian diserahkan kepada anaknya untuk bayar uang pondok dan untuk simpanan sang anak.

“Saya panggil anak saya, lalu saya kasih uang Rp 300 ribu. Saya bilang ke anak saya Rp 200 ribu kasih ke ustaz, yang Rp 100 ribu kamu simpan. Waktu itu berangkatlah anak saya ke pondok, dengan ponakannya malam-malam, hujan-hujan. Tapi baru satu malam, sudah pulang, besoknya sore sekitar jam 03.00 dia sudah pulang lagi,” katanya.

Ayah korban juga menyampaikan, saat itu putrinya tidak langsung pulang ke rumahnya tapi ke rumah bibinya. “Mereka kabur dari pondok karena takut. Itupun tidak langsung pulang ke sini tapi ke tempat pamannya, pamannya itulah yang nelepon meminta saya ke sana.

“Di rumah adek saya itulah, anak saya baru cerita kalau ustaz-nya sudah berbuat tidak senonoh dengan anak saya. Saya bilang kenapa baru cerita sekarang kenapa kemarin nggak cerita, kalau gitukan bapak nggak menggadaikan motor satu-satunya yang memang saya pakai setiap hari,” kata SPD memelas.

SPP juga mengaku sudah melaporkan kasus ini ke Polresta Bandar Lampung. Dia meminta polisi dan aparatur penegak hukum untuk memproses kasus ini sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Saya sebagai ayahnya tidak terima dan sudah lapor ke Polresta Bandar Lampung. Saya minta kasus ini diproses secara hukum dan minta tersangka ditindak sesuai hukum yang berlaku. Sebagai ustaz pondok, seharusnya dia menjaga santrinya, bukan malah seperti ini. Kalau ini didiemin ini bisa menular ke mana-mana kasihan nanti siswi yang lain,” katanya. (lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *