Artikel Dan Opini

* 16 Tahun Pesawaran: Literasi Digital, Mantra Ampuh Kembangkan UMKM dan Pariwisata di Era Smartphone

108
×

* 16 Tahun Pesawaran: Literasi Digital, Mantra Ampuh Kembangkan UMKM dan Pariwisata di Era Smartphone

Sebarkan artikel ini

Oleh: Anton Kurniawan

ERA digital yang ditandai dengan peralihan industri tradisional menuju industrialisasi berbasis teknologi informasi terus berkembang pesat dan kini melahirkan revolusi industri generasi keempat atau juga dikenal dengan Revolusi Industri 4.0 yang ditandai internet of things (IoT), robotisasi, komputerisasi, dan sistem jaringan terintegrasi (integrated network). Terbaru, kehadiran teknologi informasi super canggih smartphone atau telepon pintar dan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), mengakibatkan transformasi dari konvensional ke digital semakin massif di berbagai sektor pekerjaan dan profesi, sehingga memaksa setiap orang yang hidup di jaman ini harus melek literasi digital.

Secara sederhana, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi digital adalah kemampuan memahami informasi berbasis komputer. Dalam kata lain, literasi digital merupakan pengetahuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan cerdas, cermat dan tepat, bukan hanya sebatas mengoperasikan, tapi bagaimana bisa “dikendalikan” sehingga dapat memberikan manfaat secara maksimal. Devri Suherdi dalam bukunya Peran Literasi Digital di Masa Pandemik, memberi penjelasan literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lain sebagainya.

Jika melihat realita “serbadigital” saat ini, tidak bisa dibantah bahwa literasi digital sangat penting dan harus dimiliki para pelaku UMKM, sebab disrupsi konvensional ke digital mustahil dibendung. Tengok saja misalnya, bagaimana saat ini smartphone terus berevolusi menjelma teknologi paling mutakhir sehingga cukup dengan satu unit smartphone kita mampu melakukan beragam pekerjaan yang di masa lalu dianggap tidak mungkin.

Yapsmartphone kini bisa melakukan beragam aktivitas yang nyaris mustahil bisa dilakukan tenaga kerja manusia; sebagai alat komunikasi, alat fotografi, mesin hitung, kamus ensiklopedia, “pegawai marketing” untuk memasarkan beragam produk, bahkan bisa digunakan sebagai pelacak dan peralatan tempur paling mematikan.

Smartphone dan internet juga telah menghapus segala batas; bangsa, negara, budaya, bahasa bahkan batas-batas religiositas yang membuat alam semesta kini nyaris tanpa sekat, kemudian menciptakan dunia virtual tak berbatas, metaverse, tempat setiap orang bisa menjadi apapun dan bisa menemukan apa saja dari belahan dunia manapun, termasuk produk barang dan jasa.

Bagi pelaku UMKM, sejatinya smartphone dan internet menjadi nadi kehidupan dan pasar global tanpa limit—metaverse—yang sangat potensial. Lihat saja bagaimanan toko-toko virtual (e-commerce) terus bermunculan mengepung mal, swalayan, dan toko konvensional sampai semaput. Peluang pasar di berbagai belahan penjuru Bumi bisa dipantau dari ruang paling private hanya dengan menekan tombol smartphone di genggaman. Internet telah menciptakan ruang dan etalase promosi berbagai produk yang belum pernah ada sebelumnya dengan transaksi yang menjanjikan keuntungan yang berlipat. Amazing!

Pernyataan ini sejalan dengan statemen pelaku UMKM yang juga Dewan Pengurus Pusat Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs), Nissa Rengganis, MA yang melaporkan transaksi e-commerce dunia tumbuh 20,2 persen per tahun.

Khusus di Indonesia, pada 2020 terjadi peningkatan nilai transaksi online 9 kali lipat menjadi Rp1.850 triliun, dibanding Tahun 2015 yang hanya Rp 200 triliun. Dia juga menjelaskan tercatat sebanyak 65,46 juta pelaku UMKM yang berkontribusi sebesar 60,3 persen terhadap product domestic bruto (PDB) dan mampu menyerap 97 persen tenaga kerja di Indonesia. Ini menjadi bukti betapa gurihnya bisnis e-commerce.

E-commerce sudah tentu bertalian dengan smartphone dan internet yang kini menjelma virus paling hebat dan menjadi wabah di seluruh penjuru dunia, termasuk juga di Kabupaten Pesawaran sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun di balik pesonanya, smartphone dan internet juga menjadi anomali dan paradoks bagi kehidupan manusia; menawarkan harapan sekaligus menjanjikan kerusakan, mengusung ilmu pengetahuan tapi juga bisa menyebabkan kebodohan, menjadi ensiklopedia paling lengkap tapi menyimpan teror paling menakutkan.

Namun uniknya, meskipun secara tegas menyajikan banyak kontroversi, kenyataannya hari ini manusia semakin ketergantungan (addict) bahkan tidak bisa hidup tanpa internet dan smartphone. Terbukti pada 2022 ada sekitar 3,9 miliar manusia di Planet Bumi menggunakan smartphone (sumber: katadata.co.id).

Mengutip data Newzoo, pada 2022 tercatat 192,15 juta orang Indonesia menggunakan smartphone. Terbesar nomor 4 di dunia. China di posisi teratas dengan jumlah pengguna 910,14 juta orang, diikuti India di urutan kedua dengan 647,53 juta orang, dan Amerika Serikat di posisi ketiga dengan 249,29 juta pengguna.

Data dan fakta ini semakin menegaskan betapa pentingnya literasi digital di era digital saat ini. Tujuannya adalah agar masyarakat, terutama pelaku UMKM, menjadi melek digital. Setidaknya ada tujuh alasan mengapa pelaku UMKM harus melek digital, yaitu: Menjangkau pasar yang lebih luas, Meminimalisasi hilangnya target pasar, Pertumbuhan pengguna smartphone dan internet yang kian pesat, Membuat UMKM yang dikelola menjadi lebih profesional, Biaya operasional lebih rendah, Budget pemasaran bisa diatur sesuai kebutuhan, dan Pertumbuhan dan perkembangan usaha akan lebih cepat.

Selain itu, bagi pelaku UMKM, literasi digital bisa juga dimaknai sebagai digital marketing agar usaha yang dikelola lebih go digital dan mendorong peningkatan penggunaan teknologi sebagai media pemasaran dan transaksi dengan biaya murah.

Bagaimana dengan Kabupaten Pesawaran?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2022, Kabupaten Pesawaran memiliki jumlah penduduk 487.153 jiwa. Dari jumlah tersebut, diperkirakan lebih 300 ribu orang menggunakan smartphone. Angka ini muncul berdasarkan rerata pengguna smartphone di Provinsi Lampung yang mencapai 66,08% (lebih 6 juta orang) dari 9.176.546 jiwa.

Selain itu, berdasarkan data resmi Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pesawaran di alamat situs koperasi-ukm.pesawarankab.go.id, jumlah pelaku UMKM di Kabupaten Pesawaran pada 2020 adalah 3.806 pelaku UMKM yang tersebar di 11 kecamatan dengan jenis usaha kuliner, agribisnis dan fashion.

Sulam Jelujur yang sudah terbang ke New York Amerika Serikat adalah salah satu UMKM asli pesawaran yang memiliki magnet dan pesona yang memikat, sebuah bukti sahih bahwa Kabupaten Pesawaran merupakan lahan subur bagi tumbuh kembangnya UMKM. Hal ini cukup menggembirakan karena menjadi pertanda harapan masa depan bagi pelaku UMKM di Kabupaten Pesawaran yang terang dan gemilang.

Bukan hanya UMKM, Kabupaten Pesawaran juga memiliki ratusan destinasi wisata yang sangat menarik bagi wisatawan. Menurut Dinas Pariwisata Kabupaten Pesawaran, saat ini ada 113 destinasi wisata yang dikelola swasta dan desa. Destinasi wisata tersebut yang terdiri dari destinasi wisata laut, gunung, air terjun, juga wisata kuliner.

Pulau Pahawang menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Pesawaran. Ini juga suatu anugerah bagi Bumi Andan Jejama yang membangun optimisme masyarakat untuk melangkah menyongsong masa depan yang lebih baik.

Kedua sektor ini; sektor pariwisata dan UMKM, jika dikelola dengan tepat dan profesional serta didukung semua lapisan masyarakat, adalah cara tepat untuk meningkatkan ekonomi masyarakat serta pendapatan asli daerah (PAD) menuju masyarakat yang makmur sejahtera.

Jelas ini pasar yang sangat potensial bagi pelaku UMKM di Kabupaten Pesawaran untuk menjual dan memasarkan berbagai produk. Kuncinya adalah bagaimana pemerintah daerah, pelaku wisata dan pelaku UMKM, dan semua elemen masyarakat bersinergi bergotong royong membangun pasar lewat promosi gila-gilaan dengan memanfaatkan digital market; website, media sosial dan lain-lain.

Hal ini senapas dengan program yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Pesawaran di bawah kepemimpinan Bupati Dendi Ramadhona dan Wakil Bupati Kolonel (Purn) Marzuki yang menggalakkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat.

Sayangnya, peluang emas ini belum dimanfaatkan secara maksimal karena sebagian pelaku UMKM di Kabupaten Pesawaran masih terjebak dengan pola pikir konvensional atau belum move on dari kebiasaan menggunakan cara-cara lama dalam memasarkan produk, atau bisa juga disebabkan hal-hal lain sehingga belum memanfaatkan teknologi smartphone secara penuh. Inilah salah satu tugas pemerintah daerah, media massa dan komunitas, yakni memberi pemahaman kepada para pelaku UMKM tentang pentingnya literasi digital dalam pengembangan produk UMKM di Kabupaten Pesawaran untuk menciptakan basis ekonomi kerakyatan yang kuat di Bumi Andan Jejama.

Kini saatnya Pemerintah Daerah Kabupaten Pesawaran dan pelaku UMKM serta pelaku pariwisata bergotong royong bergandengan tangan untuk terus mencipta karya sesuai Visi Kabupaten Pesawaran Tahun 2021-2026, yaitu “Pesawaran Lebih Maju dan Sejahtera dengan Masyarakat yang Produktif.”

Berkaitan dengan masyarakat yang produktif, Peraturan Bupati Pesawaran Nomor 71 Tahun 2022 tentang Penetapan Rencana Induk Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik Kabupaten Pesawaran Tahun 2022-2026 menjelaskan Masyarakat Produktif dapat dimaknai sebagai masyarakat Kabupaten Pesawaran yang memiliki sikap yang ingin terus berkarya atau menghasilkan suatu hal yang bermanfaat dan bernilai lebih dalam mengelola sumber daya di sekitarnya menuju kemandirian ekonomi.

Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintahan Bupati Dendi Ramadhona telah menetapkan misi, salah satunya “Meningkatkan pembangunan ekonomi dan memperkuat perekonomian daerah.” Misi ini adalah upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah berkualitas dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal, peningkatan pendapatan masyarakat, pengentasan kemiskinan dan pengangguran, serta nilai investasi pada sektor prioritas agribisnis, industri, dan pariwisata serta mempermudah dan menjamin iklim investasi di seluruh wilayah.

Pada titik inilah, dalam mewujudkan Misi yang sudah ditetapkan tersebut, maka literasi digital dalam pengembangan produk UMKM di Kabupaten Pesawaran go international menjadi sangat penting dan berperan strategis.

Kini di usia Kabupaten Pesawaran yang 16 tahun, literasi digital akan mendorong para pelaku UMKM di Kabupaten Pesawaran untuk membuka pasar seluas-luasnya yang diyakini menjadi mantra ampuh untuk mengembangkan UMKM dan pariwisata di Kabupaten Pesawaran di era smartphone sehingga Visi Kabupaten Pesawaran Tahun 2021-2026 “Pesawaran Lebih Maju dan Sejahtera dengan Masyarakat yang Produktif” benar-benar terwujud. Selamat Hari Jadi Ke-16 Tahun Kabupaten Pesawaran. **

* Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba menulis artikel tentang Peran Digitalisasi dalam Mengembangkan UMKM di Kabupaten Pesawaran dalam rangka HUT Ke-16 Kabupaten Pesawaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *