Internasional

Mengejutkan! Jumlah Warga Arab yang Memilih Atheis Terus Meningkat

69
×

Mengejutkan! Jumlah Warga Arab yang Memilih Atheis Terus Meningkat

Sebarkan artikel ini

lampungbarometer.id – Sebuah fenomena muncul di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan hasil survei beberapa lembaga mengungkapkan terjadi kenaikan jumlah penganut atheism di sana.

Pada laporan BBC International tahun 2019 disebutkan penduduk tidak beragama pada 2019 mencapai 13%, naik 5% dari 2013 silam yang berjumlah 8%.

Di tingkat regional juga terdapat fenomena serupa. Di Iran misalnya, 47% dari 40 ribu responden pada riset ‘Iranian’s Attitudes Toward Religion (2020) mengaku sebagai ateis.

Turki, negara dengan 99% penduduk muslim juga mengalami peningkatan jumlah warga yang mengaku ateis selama 10 tahun terakhir. Pada laporan Konda tahun 2019, terdapat penurunan warga Turki yang menganut Islam dari 55% menjadi 51%.

“Penurunan ini bukan beralih ke agama lain tetapi menjadi ateis,” bunyi laporan itu.

Pada 2014, Universitas Al-Azhar Kairo dalam laporannya mengungkapkan 10,7 juta dari 87 juta penduduk Mesir mengaku ateis. Jumlah tersebut adalah 12,3% dari populasi negara tersebut.

Menyikapi fenomena ini, Hannah Wallace dalam artikel “Men without God: The Rise of Atheism in Saudi Arabia” (2020) mengatakan kondisi ini berasal dari sikap politik pemerintah yang menggunakan agama. Hal ini terjadi di Arab Saudi.

Sikap itu membuat penduduk kritis menolak dan menganggapnya sebagai politisasi. Mudahnya akses dan interaksi dengan kelompok yang sama di dunia maya, ujarnya, juga mempengaruhi pandangan tersebut.

Berdasarkan laporan ‘Saudi Arabia 2021 International Religious Freedom Report (2021)’ tercatat ada 224.000 orang Arab saudi memilih tidak beragama, baik ateis atau agnostik.

Sementara itu, menurut Tamer Fouad, koresponden hubungan internasional Guardian, terdapat dua alasan peningkatan ateisme di Arab. Salah satunya adalah pandangan negatif pada agama, seperti penghancuran masjid, pembakaran gereja, hingga aksi kekerasan lain atas nama agama.

Alasan lainnya kegagalan kepemimpinan partai dan tokoh Islam pasca-Arab Spring. Musim semi Arab menghadirkan demokratisasi dan perbaikan ekonomi kenyataannya gagal dilakukan banyak negara yang dipimpin dua pihak.

Kegagalan menaikkan kualitas politik dan ekonomi masyarakat jadi lebih baik membuat rakyat kecewa, sehingga mereka tak memilih partai dan tokoh Islam sebagai pemimpin dan juga tidak hidup dengan agama.

Rakyat kecewa dengan kegagalan negara memperbaiki kualitas kehidupan politik dan ekonomi. Oleh karena itu, mereka tidak lagi memilih partai dan tokoh Islam sebagai pemimpin, sekaligus memilih untuk tidak menjalankan agamanya.

Menariknya warga yang pindah menjadi ateis memilih menyembunyikan identitasnya. Hal ini untuk menghindari bahaya dan penolakan dari keluarga, teman dan lingkungan sekitarnya. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *