Seni Budaya

KoBER Akan Pentaskan Lakon Teater ‘Pilgrim #2: Bunyi Tepukan Satu Tangan’ di Taman Budaya Lampung, Catat Tanggalnya

45
×

KoBER Akan Pentaskan Lakon Teater ‘Pilgrim #2: Bunyi Tepukan Satu Tangan’ di Taman Budaya Lampung, Catat Tanggalnya

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung (LB): Komunitas Berkat Yakin (KoBER) kembali mempersembahkan sebuah sandiwara kampung, Pilgrim #2: Bunyi Tepukan Satu Tangan karya sekaligus disutradarai Ari Pahala Hutabarat yang akan dipentaskan pada Sabtu dan Minggu (4-5 November 2023) Pukul 16.00 WIB Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung dan 20 November 2023 Pukul 20.00 WIB di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Alexander GB, Pimpinan Produksi dan juga aktor, menyampaikan pementasan selama 2 hari di Taman Budaya Lampung menjadi pentas pertama sebelum Pilgrim #2 dipentaskan di beberapa kota, yakni Jakarta, Padang Panjang, dan Medan.

Project ini sudah dimulai sejak Juli lalu, artinya kurang lebih 5 bulan berjalan, mulai dari training hingga reherasal. Sebanyak 10 aktor terlibat dalam pertunjukan ini. Insya Allah di November dan Desember kita akan pentaskan di beberapa kota,” ucap Alex.

“Kami sangat berterima kasih kepada banyak pihak yang turut membantu menyukseskan acara ini. Semoga niat baik kita memajukan ekosistem teater di Lampung terus terjaga,” imbuhnya.

PENTAS TEATER. Komunitas Berkat Yakin (KoBER) kembali mementaskan naskah Teater Pilgrim karya sekaligus disutradarai Ari Pahala Hutabarat di Taman Budaya Lampung dan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta.

“Bagi masyarakat Lampung, silahkan hadir sehingga kita dapat berjumpa, merawat silaturahmi dengan diri kita masing-masing dan sekaligus merawat kebudayaan di Lampung bersama-sama,” tambahnya.

Sementara itu, Sutradara sekaligus penulis naskah, Ari Pahala Hutabarat, mengatakan Pilgrim #2 merupakan upaya menampilkan sebuah problem universal, problem primordial setiap manusia, setiap suku, setiap bangsa di muka bumi ini yang terus menerus menjadi pertanyaan kita semua, yaitu pertanyaan eksistensial tentang diri dan Tuhannya, dan mengajak kita semua berefleksi, mempertanyakan makna dan kehendak untuk menemukan sumber hidup kita sebagai manusia.

“Dalam pertunjukan ini terhampar beberapa fragmen perjalanan sekelompok orang yang tidak tahu kapan akan sampai. Tarik ulur antara mencari dan menemukan, kehilangan dan mendapatkan, kembali dan melanjutkan perjalanan, antara putus asa dan kehendak bertahan membuat sekelompok orang ini dihadapkan pada situasi kritis-ambang, baik secara fisikal maupun batin,” ungkap Ari.

Dia juga menjelaskan Pilgrim #2 diharapkan mampu memberi jarak bagi kita untuk sejenak memasuki dada kita masing-masing, menyapa diri kita masing-masing, di tengah sesaknya rutinitas keseharian yang kian hari kian banal.

“Semoga pertunjukan ini bisa menjadi oase bagi kita semua untuk kembali merenungkan diri kita bahwa ada kenyataan atau kebutuhan lain yang juga harus kita perhatikan di luar kenyataan ekonomi, sosial, dan politik,” pungkasnya. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *