oleh

Dr. Agung: Guru Harus Mampu Menjadi Motivator Dan Punya ‘Personal Branding’

BANDAR LAMPUNG (lampungbarometer.id): Sifat dasar generasi milineal adalah: creative (kreatif), connect (nyambung) dan confidence (percaya diri). Siswa kita hari ini adalah Gen-Z yang sejak lahir sudah kenal HP dan haus informasi, karena itu guru harus negosiasi dan tidak boleh menerapkan standar dirinya. Guru harus punya Personal Branding, harus punya personal identity; fisik dan nonfisik. Kita harus punya kekhasan menghasilkan brand image. Demikian disampaikan Dr. Agung Eko Waspada dalam Seminar Peningkatan Kapasitas Kepala Sekolah Dan Kompetensi Guru di Hotel Bukit Randu yang dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi Lampung Drs. Sulpakar, M.M., Rabu (18/9/2019). Menurut Dosen Institut Teknologi Bandung yang merupakan penggagas sekaligus kreator Iklan Wonderful Indonesia ini, sekolah adalah tempat terbaik membuat peta untuk menggambarkan teritorial melalui praktik keteladan yang diberikan guru. Dia mengatakan banyak peta-peta bagus yang dibuat oleh siswa, oleh sebab itu guru harus mampu memberikan motivasi kepada muridnya. “Maka guru jangan membuat simulasi peta yang buruk karena dikhawatirkan akan memberikan pengaruh negatif terhadap muridnya. Contoh peta yang buruk misalnya, jika kita suka pinjam uang maka peta yang kemudian tergambar adalah image bahwa kita orang suka ngutang. Begitu juga misalnya Peta orang indonesia selalu tidak tepat waktu dan lain-lain,” ujarnya. Dr. Agung juga menyampaikan untuk menciptakan murid yang mampu berpikir kritis dan kreatif harus ada sinergi antara Kepala Sekolah, Guru dan Siswa. Guru harus mampu membuat siswa selalu ingin tahu dan termotivasi. Hasil sinergi guru, siswa dan sekolah, jika ramuannya tepat akan mengcuriousity (menciptakan rasa ingin tahu) siswa sehingga siswa bisa membuat peta yang luar biasa. “Peta yang saya maksud adalah wilayah teritorial. Salah satu peta yang keren, misalnya iklan Wonderful Indonesia yang dibuat mahasiswa saya. Bagaimana berkat iklan ini, Bali menjadi destinasi wisata nomor satu di dunia yang ingin dikunjungi wisatawan mancanegara. Ini peta yang sangat menarik dan bisa meng-curiuosity wisatawan untuk datang ke Indonesia. Nah, untuk membuat peta yang bagus, guru harus mampu menjadi fasilitator pembuatan peta yang baik. Saat ini adalah eranya milenial. Siswa-siswi SMA yang hari ini kita hadapi rata-rata kelahiran Tahun 2004 atau 2003, yang pemikirannya tentu sangat berbeda dengan zaman kita dulu. Karena itu, guru harus berani berkorban menanggung rasa malu agar dekat dengan siswa,” katanya. Kepada Kepala Sekolah dan guru peserta seminar, Dosen ITB ini mengingatkan fenomena anak Indonesia yang lahir setelah 1999 rata-rata mengirim 5.000 email dan menghabiskan 65.000-75.000 jam (7-10 jam/hari) untuk gadget, 35.000 (4-5 jam/hari) untuk bermain game. Hidup diterpa samudera citra tanpa sempat termenung untuk berkontemplasi. “Fenomena masyarakat rural urban dari agraria ke industri, dari masyarakat pesantren ke general education, dari monoculture menjadi heteroculture, dari masyarakat tertutup ke masyarakat terbuka. Semua ini tidak bisa kita hindari karena ada reklamasi pendidikan. Oleh sebab itu, guru milenial harus mampu mendrive muridnya agar confidence. Guru yang keren selalu bisa menemukan jalan memecahkan problem dan tantangan,” ujar Dr. Agung. Dosen berpenampilan nyentrik ini juga menyampaikan guru tidak bisa melawan arus teknologi. Apalagi, ujar dia, anak milineal menganggap dunia maya sama pentingnya dengan dunia nyata sehingga guru dituntut menjadi fasilitator yang baik. Guru cukup memfasilitasi, mengapresiaai dan memantau. “Saya hanya mengingatkan untuk membuat peta yang bagus dan keren, guru harus bernegosiasi dengan ego sentris, bernegosiasi dengan jaman, bernegosiasi dengan teknologi yang mampu mereduksi jarak dan tempat, bernegosiasi dengan metode, bernegosiasi dengan fasilitas (tidak harus fisik), dan bernegosiasi dengan hasil. Pembelajaran tidak hanya berorientasi dengan hasil, tapi juga pemahaman dan lain-lain. Kelas mesti dikelola dengan hati penuh kebahagiaan,” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.